Ahh…
Damai sekali akhir-akhir ini. Biang kerok yang sering membuat emosi melonjak sudah dikirim oleh Yang Mulia Raja ke medan perang beberapa hari yang lalu. Raja juga pergi meninggalkan istana untuk pergi ke kerajaan sahabat, Wu. Aku bisa dengan bebas melakukan semua kegiatanku.
Waktu sore telah tiba. Jia menyiapkan makanan yang agak banyak di gazebo kolam ikan koi. Aku memberitahunya bahwa setiap menyiapkan makanan haruslah agak banyak karena aku akan mengajak dia dan Jingmi untuk makan. Setidaknya, ini merupakan hal baik yang bisa kulakukan di sini, sementara mencari cara untuk berkultivasi dan pergi ke dunia semula.
Beragam makanan ditaruh di atas meja oleh Jia. Kami akhirnya makan bersama, sambil menikmati suasana senja yang menenangkan. Jia dan Jingmi menjadi tidak terlalu canggung saat berada di dekatku, tak seperti dulu yang selalu memanggil dengan sebutan 'Yang Mulia'. Senyuman mereka membuat hatiku terasa senang, menghilangkan rasa khawatir yang selalu menghantui.
Setelah makan malam, aku bermain guzheng sebentar. Melantunkan lagu-lagu yang kuhafal di alat musik China itu. Kali ini, aku tidak menyanyikan lirik lagunya, cukuplah Jingmi dan Jia terkejut dengan bahasa Inggris saja.
Tak terasa, setelah beberapa waktu bermain guzheng, malam telah tiba. Jia membenahi piring juga cangkir kotor yang telah digunakan. Aku menaruh guzheng di pinggir gazebo, lalu menutupnya dengan sehelai kain hitam.
Wei dan Yongsheng dikirim ke medan perang oleh Raja. Hatiku beristirahat dari rasa kesal yang mereka sebabkan. Si jendral pemarah itu bertempur di garis depan melawan para musuh. Yongsheng si alkemis sombong menjadi kepala tabib pasukan. Kuharap, mereka bisa mengharumkan nama Quon dengan gugur secara terhormat.
Aku berjalan ke bangunan utama Istana Koi. Kakiku secara otomatis melangkah ke tempat tidur yang sangat empuk untuk ditiduri. Kulepaskan hanfu coklat terang, menyisakan hanfu putih tipis polos. Aku pun menarik selimut hangat nan lembut. Perlahan, aku menutup mata, bersiap pergi ke alam mimpi.
***
"Huh! Ada apa ribut-ribut!"
Aku terbangun dari tidur yang nyenyak akibat suara berisik di atap. Bunyi gemerisik yang tak karuan terus muncul. Aku menyingkap selimut, bangkit dari tempat tidur yang seharusnya tak kutinggalkan. Aku mengambil pedang tajam di bawah ranjang yang sengaja disiapkan oleh Jingmi jika aku membutuhkannya. Aku melangkah sepelan mungkin, tidak menimbulkan bunyi yang membuat mereka curiga. Mendadak, sepuluh orang berbaju hitam dan menggunakan penutup muka terjun dari atap, membuat lubang besar disana.
"Hoam, rupanya kalian yang berisik." Aku berucap sambil mengantuk. Mataku belum segar sepenuhnya. Aku tidak tahu sekarang jam berapa, aku belum semangat untuk bangun. Nyawaku belum terkumpul semuanya.
"Menyerahlah sebelum kami bertindak kasar." Salah seorang yang memakai baju hitam berucap.
"Hoaamm … aku akan melawan kalian…."
"Semuanya, seraangg!"
Orang-orang berbaju hitam itu serentak maju ke hadapanku. Mereka semua mengacungkan pedang yang panjang. Jelas, aku kalah jumlah! Satu lawan satu saja belum tentu aku menang, apalagi sepuluh.
"Tuaan!" Jingmi berseru kencang. Ia berlari ke arahku, sambil menghalau para orang asing yang menerobos ke istana. Kali ini, Jingmi tidak tertawa sama sekali. Mukanya datar tanpa emosi saat menghadapi musuh yang sebenarnya. Aku dan Jingmi mengayunkan pedang bersama-sama, menghadapi para penyusup.
"Ayo, Pangeran! Kita pergi lewat sana!" Jingmi berseru sambil menarik tanganku. Kami berlari ke arah pemandian. Dengan ceoat, para penyusup itu menyusul.
"Kalian tidak bisa kabur lagi sekarang!" seru salah seorang penyusup.
"Kita masuk ke jalan rahasia. Aku akan mengecoh mereka." Jingmi berbisik padaku.
"Baik!"
Jingmi merogoh sesuatu dari kantong bajunya. Sebuah bola putih ia lemparkan ke bebatuan alas pemandian. Seketika itu, asap tebal menyelimuti kami.
"Psst … Ke arah sini, Tuan," bisik Jingmi. Ia menarik tanganku ke suatu arah. Dalam remang-remang, aku dan Jingmi berjalan ke arah sebuah lemari kayu. Jingmi membuka lemari itu. Ajaibnya, bukan rak baju yang berada di dalam, melainkan sebuah terowongan yang agak sempit.
"Ughh! Kemana mereka!" Seorang penyusup berteriak kencang.
"Cepat kita cari mereka! Tuan bisa marah!" teriak penyusup yang lain.
"Ayo cepat, Tuan!" Jingmi menarikku ke arah terowongan yang temaram tanpa penerangan. Kami berlari kencang sekuat tenaga, menghindar dari para penyusup yang sudah bersiap. Suara langkah kaki yang bergerak cepat menggema di dalam terowongan. Napasku terengah-engah, tapi aku harus terus berlari demi menyelamatkan diri. Namun, suara keras dari terowongan membuat para penyusup mengetahui keberadaanku dan Jingmi.
"Hei! Mereka masuk ke terowongan itu!" teriak seorang penyusup lantang.
"Ayo kejar mereka!" Suara keras bergema di terowongan. Kini, bukan hanya langkah kakiku dan Jingmi saja yang bergema di terowongan, para penyusup yang menyerang mulai menyusul. Aku dan Jingmi mempercepat laju lari. Seberkas cahaya terang menyinari ujung terowongan yang semakin dekat. Akhirnya, setelah perjuangan yang keras, aku dan Jingmi berhasil keluar dari terowongan. Setelah keluar, Jingmi menggunakan kekuatannya untuk menutup terowongan dengan meruntuhkannya. Alhasil, tak ada celah sama sekali untuk keluar dari sana. Walaupun begitu, Jingmi tetap membawaku untuk menjauh dari sana.
"Ayo, Tuan! Itu hanya menghambat mereka sebentar saja!" Jingmi berseru.
"Tu-tunggu sebentar … napasku habis …." Aku menekuk lututku, napasku tak beraturan setelah berlari sangat cepat di terowongan. Setelah agak membaik, aku berlari lagi dengan Jingmi, menjauhi para penyusup yang terjebak di dalam terowongan.
Sebuah ledakan terdengar keras hingga telinga agak pekak. Jingmi semakin menambah kecepatan larinya, sedangkan aku malah melambat. Haah … aku benar-benar lemah.
"Tuan!" Jingmi menghampiriku yang ambruk akibat kelelahan.
"Maafkan … aku … Jingmi," ucapku terengah-engah, tak kuat lagi umtuk bamgun. Setelah beberapa waktu berlari, aku dan Jingmi bukan berada di Istana Koi lagi, melainkan sebuah tanah kosong yang tak kuketahui dimana tempatnya.
Di tengah malam yang sudah larut, angin berdesir meniup rerumputan yang tumbuh meninggi. Namun ada yang aneh dengan suara gemerisik itu. Rerumputan masih tetap berbunyi walaupun angin sedang tak meniupnya.
"Hohoho … ternyata kalian ada disini…." Para penyusup yang tadi mengejarku dan Jingmi berhasil menyusul. Mereka berhasil melewati halangan terowongan yang runtuh. Mereka mengepung kami dari segala arah, menutupi semua jalan untuk kabur.
"Kalian! Ada apa kalian mengincar Tuanku?" Jingmi berteriak pada mereka.
"Tuanmu itu hanyalah seorang sampah," jawab salah seorang penyusup, "serahkan dia, dan nyawamu akan selamat."
"Cuh! Jangan harap aku akan menyerahkannya!" Jingmi melawan para penyusup yang ternyata mengincarku itu. Kesepuluh penyusup menyabetkan pedangnya pda Jingmi yang sendirian. Punggung dan dada Jingmi berdarah akibat serangan mereka.
"Jingmi!" Aku bangkit, memegang pedangku erat untuk melawan orang-orang yang menyerang Jingmi.
"Hiaa!" Aku mengayunkan pedang pada para penyusup. Mereka yang tadinya fokus pada Jingmi, teralihkan olehku. Separuh dari mereka menyerangku bersamaan. Dengan kemampuan berpedang yang masih pas-pasan, aku melawan mereka yang bisa bergerak secepat bayangan.
"Uhukk! Aarggh!" Di dekatku, Jingmi terkena pukulan di perutnya hingga ia batuk darah. Seorang penyusup memperdalam luka yang dialami Jingmi. Ia menyayat kaki pengawalku itu.
"Jingmi!" Aku menghampiri Jingmi yang sudah tak berdaya. Namun tiba-tiba, sebuah kain basah menyumpal mulutku. Perlahan, pandanganku memburam, dan aku tidak sadarkan diri.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Trash Prince
FantasíaTopeng akan terbuka saat menghadapi hal sulit kehidupan, begitu juga aku. Rasanya, aku ingin menusuk mata mereka yang telah berani meremehkanku. Melepaskan rasa empati dan peduli pada siapapun yang merendahkan lagi menghina. Namun apa daya, aku hany...
