Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

30. Kekesalan Zhang Jinxu

163 11 1
                                        

Zhang Xuen Chi berpikir sebentar. Kalau dipikir-pikir, memang benar jika saudara seayah mereka itu sangat sombong. Meski ia yang paling tua dari semuanya, tapi selama seumur hidupnya tinggal di istana dan hidup berdampingan dengan mereka semua, bahkan bisa dihitung dengan jari bahwa mereka hanya bertegur sapa beberapa kali.

Ia mengerti bahwa adiknya ingin seorang teman, apalagi sikapnya yang ceria. Sangat bertolak belakang dengan nya yang cuek, tapi maksudnya bukan dengan Chu Mei juga!

Zhang Xuen Chi memijat kepalanya yang berdenyut. Ia benar-benar tidak tahu apakah mereka berdua cocok untuk menjadi teman. Baiklah, lihat saja nanti apa yang terjadi di antara mereka.

Zhang Jinxu yang melihat kakaknya melamun pun geram. Ia sangat tidak suka diabaikan seperti ini!

Kemudian tangannya bergerak dan mengguncang lengan pria itu.

"Kakak!!" Zhang Jinxu berteriak tepat di telinga Zhang Xuen Chi yang membuat nya terperanjat kaget.

"Anak bodoh! Apa yang kau lakukan, hah!"

"Kau yang bodoh! Kenapa kau mengabaikan ku!" ujar pemuda tersebut membalas teriakan sang kakak tak kalah keras.

"Terserahku mau mengabaikan mu atau tidak. Memangnya kau itu siapa?"

Zhang Xuen Chi mengejek adiknya yang bodoh itu. Ia tahu bahwa adiknya paling tidak suka diabaikan dan diejek, tapi malahan itu adalah sesuatu yang sangat menyenangkan baginya.

"Mengapa Putri Wang Xia Ai mau menikah dengan orang menyebalkan sepertimu," katanya sinis pemuda itu beradu mulut dengan nafas menggebu-gebu, ia sangat kesal dengan kakaknya ini.

"Tentu saja mau, karena apa?... Karena aku tampan, hahahah!" Zhang Xuen Chi semakin gencar memancing emosi adiknya yang wajahnya telah memerah karena marah.

"Tampan dari mananya? Kau lebih mirip seekor kera daripada Putra Mahkota!" Zhang Jinxu berbalik mengejek Zhang Xuen Chi yang melongo karena disebut mirip kera.

"Kalau begitu, kau adalah adiknya kera," ujarnya santai.

"Bilang saja kau iri," balas pria itu pada setiap ucapan pedas yang keluar dari mulut Zhang Jinxu dengan telak.

"Kau bilang apa? Iri? tentu tidak. Wajahku lebih tampan darimu, asal kau tahu." Pemuda itu berkata dengan percaya diri nya sambil mengusap-usap rambutnya dengan satu alis terangkat.

"Llebih mirip seperti babi di peternakan," cerca Zhang Xuen Chi tak mau kalah.

"Kau!.." Dia sudah kehabisan kata-kata lagi untuk melawan kakaknya.

"Aku akan mengadukan mu pada kakak ipar! Dia pasti akan mendukung ku!" kata Zhang Jinxu yang sudah geram setengah mati.

"Silahkan," balas pria itu dengan santai. Karena ia sudah sangat tahu apa yang akan dilakukan anak ini jika dia kalah berdebat dengannya. Biasanya dia akan mengadukan kepada ibunya. Tapi sekarang karena sudah ada Xia Ai, maka dia pasti akan mengadu kepada gadis itu.

"Lihat saja nanti!"

Zhang Jinxu berjalan sambil menghentakkan kakinya kesal, awas saja! Ia akan mengadukan kakaknya kepada kakak iparnya, pasti kakak iparnya mau membantu nya!

Di kediaman mawar, Wang Xia Ai sedang tidur dengan tenang karena ia sungguh kelelahan, tapi ketenangan itu tak berlangsung lama setelah pintunya dibuka kasar oleh Zhang Jinxu. Meskipun Zhang Jinxu lebih tua 2 tahun darinya, tapi anak itu tetap memanggilnya kakak ipar.

"Kakak ipar..." Zang Jinxu menangis di ambang pintu kediaman Xia Ai, wajahnya sudah diatur agar tampak memilukan untuk dilihat.

"Kak-ak ipa-r.." ujar Zhang Jinxu. Ia sangat yakin kakak iparnya akan menghukum kakak sialan nya itu.

"Iya, ada apa adik ipar? siapa yang membuatmu seperti ini?" tanya gadis itu tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Dia bangun dan duduk di tepi ranjang.

"Kakak ipar, aku meminta keadilan."

Wang Xia Ai mengerutkan alisnya heran.

"Keadilan seperti apa?"

BRAKK!!

Suara pintu dibuka dengan keras. Aish,  sepertinya pintu itu tak lama lagi akan rusak.

Sosok Zhang Xuen China bersandar di pintu kediaman, pria itu tersenyum miring sambil melipat kedua tangannya di dada. Ia ingin melihat apakah adiknya itu berani mengadukan dirinya pada Xia Ai setelah melihat nya.

"Itu dia!" Pemuda itu menunjuk Zhang Xuen Chi dengan tatapan permusuhan.

"Kakak ipar, tolong marahi kakak sialan ku itu! Dia sudah mengejekku!"

Zhang Jinxu mengadu pada Wang Xia Ai yang masih kebingungan. Jelas saja, dia baru saja bangun dan masih dalam proses mengumpulkan roh.

Di luar perkiraan Zhang Xuen Chi, ternyata adiknya itu punya nyali yang besar untuk mengadukan pada Wang Xia Ai. Keringat dingin membasahi dahinya.

"Xia'er ak- aku.." belum selesai pria itu berbicara, tapi Wang Xia Ai sudah memotong dan memarahinya.

"Xuen, apa yang kau lakukan pada adik ipar ku?"

Zang Jinxu yang berada di belakang Wang Xia Ai pun tersenyum penuh kemenangan sambil memasang ekspresi mengejek. Ia sangat puas karena kakak iparnya mau membelanya, terlebih lagi ekspresi kakaknya yang terlihat panik. Mungkin ia akan menjadikan kakak iparnya sebagai tempat mengadu yang pas.

"Lihatlah, Kak, calon suami mu itu sangat buruk! Dia daritadi terus mengejek dan mengatai wajah tampan ku ini seperti babi di peternakan," ujar Zhang Jinxu kembali mengompori Wang Xia Ai.

"Siapa yang berani mengatai adik ipar ku yang tampan ini seperti babi di peternakan?"

"Sudahlah, Xuen. Kamu sudah dewasa, tapi masih suka berkelahi dan saling mengejek seperti ini."

"Xia'er bukan itu maksudku. Dia yang lebih dulu mengejekku." Ia berusaha menjelaskan.

"Kalau begitu, biarkan saja. Dia masih belum dewasa, wajar kalau dia masih suka berbicara sembarangan," kata Wang Xia Ai.

Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap Zhang Xuen Chi yang mau membuang waktu nya untuk meladeni sikap kekanak-kanakan Zhang Jinxu.

"Benar kan, Kak! Dia bahkan tidak bisa berkata-kata. Padahal aku hanya bercanda tsdi," imbuh Zhang Jinxu mengompori.

Wang Xia Ai maju dan menjewer telinga Zang Xuen Chi dengan kuat.

"Aduh! Aduh! Xia'er!" Zhang Xuen Chi berteriak kesakitan. Kali ini ia benar-benar kesakitan karena Wang Xia Ai menggunakan tenaga dalamnya.

"Iya Kakak! Benar! Cabut saja telinga nya, Kak!" Zhang Jinxu bersorak senang.

"Apa seperti ini?" Ia melirik ke arah Zhang Jinxu yang berdiri kegirangan.

"Ya, seperti itu!" Dia bersorak.

Wang Xia Ai melepas tangannya dari telinga pria itu. Zhang Xuen Chi segera mengusap-usap telinganya yang berdenyut nyeri, kali ini Xia Ai tidak main-main, tampaknya telinganya sudah merah sebelah.

 Triplets Princesses (TAMAT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang