Di tengah malam yang semula sepi dan sunyi, kini telah menjadi lautan darah dalam sekejap mata. Puluhan ribu prajurit Kekaisaran Wang menyerang pemukiman dan mengepung seluruh wilayah Kekaisaran Zhang tanpa sepengetahuan dari pihak lawan. Perang terjadi tanpa kesepakatan apapun yang membuat semuanya begitu kacau. Teriakan rakyat serta darah mewarnai malam yang gelap.
Seorang prajurit yang bertugas di perbatasan kekaisaran terlihat tengah menunggangi kuda menuju istana kekaisaran dengan terburu-buru untuk melapor, berusaha mati-matian kabur sebagai utusan pembawa informasi ke istana, takut bahwa pasukan musuh akan melihatnya.
Di sisi lain, Zhang Xuen Chi belum tidur dan masih terjaga. Dia duduk di depan jendela, menatap bulan yang bersinar redup ditutupi awan. Pria itu begitu merindukan istrinya yang telah tiada dan putranya yang baru lahir. Dari pagi hingga malam dia tak mau menyentuh makanannya dan sekarang bahkan enggan untuk tidur. Rasanya, sosok Wang Xia Ai masih ada di kediaman nya, ada di setiap sudut tempat kesukaan yang sering diduduki nya.
Biasanya di saat seperti ini dirinya sedang menyanyikan sebuah lagu tidur untuk istrinya, memeluknya dengan sayang serta berbicara tentang masa depan. Sekarang semua itu tinggal kenangan.
"Xia'er... maafkan aku karena gagal menjagamu..." Zhang Xuen Chi menunduk dalam dengan penampilan yang kacau. Wajahnya suram dengan pakaian yang acak-acakan. Rasa bersalah yang besar terus membayangi pikiran nya. Semua ini gara-gara dirinya yang terlalu sibuk.
Ditengah lamunan, sayup-sayup Zhang Xuen Chi mendengar suara ribut-ribut dan dentingan pedang dari arah luar. Dia segera ke luar kediaman untuk melihat situasi.
Baru saja membuka pintu kediaman, dirinya sudah didatangi seorang prajurit yang sedang berlari dengan ekspresi panik.
Sepertinya prajurit itu hendak menuju ke Kediaman Naga untuk melapor kepada Kaisar Zhang. Namun, setelah melihat Zhang Xuen Chi, prajurit itu lantas memutar arah menuju Kediaman Matahari.
Setelah sampai, prajurit itu bersujud dengan napas tersengal-sengal.
"Sa-salam.. Yang Mulia.."
Zhang Xuen Chi mengerutkan alisnya.
"En, bangkitlah."
"Apa yang terjadi hingga kau berlari seperti itu di malam hari begini?" tanyanya penasaran.
"Yang Mulia, pasukan Kekaisaran Wang menyerang rakyat kita, dan sekarang mereka sedang menuju gerbang istana!" ucap prajurit itu kalang kabut.
"Brengsek!" Zhang Xuen Chi mengepalkan tangannya penuh kemarahan usai mendengar kabar buruk yang disampaikan. Dia segera berlari menuju tempat pelatihan prajurit.
"BERITAHU KAISAR DAN TUTUP GERBANG!!" teriaknya sambil berlari.
Prajurit itu mengangguk patuh dan kembali berlari berlawanan arah dengan Zhang Xuen Chi.
Setelah sampai, Zhang Xuen Chi segera memakai baju zirah. Dia berlari kencang menuju gerbang istana, dirinya tidak menyangka Kaisar Wang akan selicik ini. Berperang tanpa pemberitahuan.
Baru saja sampai, pria itu sudah disuguhkan dengan darah dan mayat prajurit di mana-mana. Para prajurit sedang berusaha mati-matian menahan pintu gerbang untuk mencegah pasukan musuh memasuki kawasan Istana.
"Sialan!!"
Zhang Xuen Chi mengeluarkan kekuatan spiritual nya untuk membuat perisai di gerbang istana. Hujan panah menghujam istana, mengenai prajurit dan juga pelayan yang sedang berjaga.
"KELUARKAN SEMUA PENJAGA BAYANGAN UNTUK MELINDUNGI ANGGOTA KELUARGA KEKAISARAN!!" Dia berteriak keras memerintahkan yang masih tersisa agar segera sembunyi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses (TAMAT)
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
