Setelah berbagai kejadian yang dilalui Wang Xia Ai. Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Merayakan pernikahan paling megah yang pernah ada di Kekaisaran Zhang.
Para tamu dari berbagai kerajaan dan kekaisaran berdatangan, memasuki gerbang Istana Kekaisaran Zhang untuk menghadiri pernikahan Putra Mahkota Kekaisaran Zhang dengan putri sulung dari Kekaisaran Wang.
Tentu saja, dari sekian banyaknya rombongan kereta kekaisaran yang memasuki gerbang. Terlihatlah salah satu kereta termegah dan mewah. Semua orang pun tahu bahwa kereta mewah itu adalah kereta dari Kekaisaran Wang. Kekaisaran terbesar pertama yang menguasai wilayah-wilayah luas dan kuat.
Di dalam kereta tersebut terdapat seorang gadis dan satu wanita.
Yup! Merekalah Wang Mei Lan dan Permaisuri Li Wei. Sementara kaisar menaiki kuda memimpin rombongan.
Raut wajah dua orang dalam kereta itu sangat jelas berbeda. Wang Mei Lan menampilkan ekspresi kepuasan dan senyum liciknya. Ia sudah bangun sangat pagi untuk berdandan secantik mungkin agar sekiranya bisa menarik perhatian para pangeran dengan pangkat tinggi.
Lain hal dengan raut wajah Permaisuri Li Wei yang mengerutkan alisnya gusar sekaligus bahagia. Di dalam pikirannya terus terputar prilakunya kepada putri sulung nya yang ia acuhkan, dan bagaimana tanggapan Chu Mei padanya nanti?
Apakah ia masih punya wajah untuk di tunjukan pada ke dua putrinya? Entahlah, ia merasa sangat menyesal, tidak tahu bahwa ini adalah pikiran bodohnya yang mengacuhkan mereka berdua hanya karena alasan yang tidak masuk akal.
Wang Mei Lan yang melihat ibunya sedang gelisah pun memegang tangannya dan mengelusnya, agar terlihat seperti anak yang baik, kan?
"Ada apa, Ibu? Apa Ibu tidak suka berada di sini dan menghadiri pernikahan Kakak Pertama? Jika tidak, maka Ibu harusnya tidak ikut tadi," ucapnya dengan suara yang dilembut-lembutkan, jangan lupakan senyum manisnya yang turut menjadi pelengkap.
Permaisuri Li Wei yang mendengar ucapan putrinya pun merasa semakin tidak karuan. Bukan begitu maksudnya, ia bukannya tidak ingin menghadiri pernikahan putri sulung nya, tapi ia sedang dilanda rasa bersalah yang amat besar. Ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa jika sahabatnya, selir Rong Chen menanyakan kebodohannya selama ini.
"Tidak Mei'er, Ibu sangat bahagia melihat kakak mu menikah dengan Putra Mahkota Zhang dan menemukan pasangannya. Hanya saja, Ibu merasa menyesal karena selama ini kakak mu tidak pernah merasa bahagia dan dipedulikan," jelas Permaisuri Li Wei mencurahkan isi hatinya pada putrinya. Ia pikir inilah saat terbaik untuk mengeluarkan beban pikirannya.
Tanpa disadari, perkataan Permaisuri Li Wei justru berhasil mengubah raut wajah Mei Lan menjadi gelap dan marah. Ia tak pernah berpikir sejauh ini, perihal ibunya yang mulai mempedulikan kedua saudaranya. Ia benci jika harus membagi kasih sayang. Tangannya mengepal di balik hanfu merah nya, kemudian tersenyum seolah-olah bersimpati.
"Mei'er mengerti, Ibu. Mei'er juga sangat menyayangi Kakak pertama dan kedua."
'Ya Ibu, aku sangat menyayangi mereka berdua. Sampai-sampai aku sangat ingin mengirim mereka berdua ke neraka!' batin Wang Mei Lan penuh amarah.
Permaisuri Li Wei yang mendengar perkataan putrinya pun tersenyum haru. Ia pikir bahwa putrinya sangat membenci kedua kakaknya, tapi itu tidak benar. Ia kemudian memeluknya dengan sayang.
"Terima kasih, Mei'er. Kau sudah menyayangi kakak-kakak mu. Ibu sempat berpikir bahwa kau membenci kedua kakakmu," ucap Permaisuri Li Wei di dalam pelukan mereka dengan hangat. Tanpa ia sadari bahwa Wang Mei Lan sedang mengertakkan giginya kesal.
Begitulah reaksi keduanya yang sedang berbicara dekat layaknya Ibu dan anak yang saling menyayangi.
Semua orang bersemangat dan riuh ketika rombongan Kaisar Wang memasuki gerbang istana dengan tegas dan gagah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses (TAMAT)
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
