Di tengah kepanikan Zhang Xuen Chi. Wang Xia Ai yang berada dalam gendongan pria itu justru mengutuk calon suaminya di dalam diam. Telinganya sampai berdengung ketika mendengar teriakan panik pria itu. Ternyata calon suaminya sangat mencintainya, aih, ia sangat terharu. Kemudian melanjutkan aktingnya.
"Xuen.." Ia berucap lirih, menatap samar wajah tampan yang kini basah dipenuhi air mata.
"Xia'er bertahanlah sebentar lagi, kamu akan baik-baik saja." Dia menunduk sebentar menatap wajah cantik kekasihnya sambil terus fokus berlari agar cepat sampai.
"Xuen.. sakit.." Wang Xia Ai melirih kembali, ia berpura-pura pingsan lagi agar Zhangg Xuen Chi semakin panik. Benar saja, ucapannya tadi berhasil membuat pria itu semakin mempercepat langkahnya.
Hingga sampailah ia di Kediaman Mawar. Di sana sudah ada tabib yang dipanggil prajurit tadi. Zhang Xuen Chi langsung meletakan Wang Xia Ai di ranjang dengan hati-hati bagaikan giok berharga yang tak boleh tergores sedikitpun.
Tabib yang melihat itu pun segera memeriksa Wang Xia Ai dan mengobati luka-luka gadis tersebut dengan teliti.
"Tabib, bagaimana keadaan Xia'er?" tanya Zhang Xuen Chi khawatir.
"Yang Mulia tenang saja, tidak ada yang serius dengan luka maupun kondisi putri, sebentar lagi putri akan segera sadar, Yang Mulia," ujar tabib.
"Kau boleh pergi."
"Baik Yang Mulia, hamba permisi," katanya kemudian keluar dari Kediaman Mawar.
Selang berapa menit setelah tabib keluar, pintu kediaman dibuka dan menampilkan sosok kaisar dan permaisuri yang cemas dengan kondisi menantu mereka.
"Ayah, Ibu."
"Xuen bagaimana keadaan menantu Ibu, nak?" tanya Permaisuri Liu Ning. Wanita itu mendekati ranjang Wang Xia Ai, kemudian mengelus kepalanya dengan lembut.
"Xia'er tidak apa-apa, tabib berkata dia akan sadar sebentar lagi," kata Zhang Xuen Chi menenangkan ibunya.
"Syukurlah, siapa yang melakukan ini pada menantu ibu!" ucap Permaisuri Liu Ning geram.
"Uughh..." Wang Xia Ai melenguh dan sontam mengalihkan perhatian ketiga orang itu. Ia memutuskan untuk membuka matanya dan berpura-pura sadar ketika merasakan ketegangan ruangan.
"Nak..?" panggil Permaisuri Liu Ning.
"Ib-bu.."
"Apa kau baik-baik saja, nak? Dimana yang sakit, ha?" Permaisuri Liu Ning bertanya, sambil memeriksa setiap inci tubuh gadis itu.
"Tidak ada, Bu, aku sudah lebih baik."
"Xia'er kemana saja kau sedari tadi? Dan mengapa kamu pulang dengan keadaan seperti ini?" Zhang Xuen Chi bertanya penasaran.
"Maafkan aku. Tadi saat sedang membaca buku, tiba-tiba saja ada yang membekap ku dari belakang menggunakan kain. Lalu setelah itu aku tidak tahu apa yang terjadi. Kemudian saat aku bangun, aku menemukan diriku di dalam hutan yang lebat dengan tangan dan kaki terikat. Aku berusaha melepaskan diri dan berhasil, setelah itu aku berjalan dengan bersusah-payah kembali ke istana. Maafkan aku karena sudah membuat kalian cemas," jelas Wang Xia Ai panjang lebar dengan sedikit bumbu kesedihan dan penganiyaan.
Jangan lupakan air matanya yang menetes, membuat kesan menyedihkan amat terlihat di wajahnya yang teduh.
Zhang Xuen Chi, kaisar, dan permaisuri merasa sangat marah dan kasihan terhadap Wang Xia Ai.
Mereka marah pada orang yang dengan lancangnya menculik Xia Ai dan meninggalkannya di hutan. Mereka kasihan pada gadis itu karna kejadian yang menimpanya. Untung saja dia berhasil melepaskan diri dan kembali. Jika tidak, entah apa yang terjadi pada gadis malang ini.
Tangan Zhang Xuen Chi bergerak dan mengusap pipi sang gadis dengan lembut.
"Tidak perlu meminta maaf pada kami. Kamu tidak bersalah, aku akan mencari siapa yang dengan lancangnya menculik Xia'er ku dan menghukum nya dengan hukuman mati."
"Benar nak, maafkan atas buruknya penjagaan di istana Zen dan membuat para penjahat bisa masuk dan membawamu," ujar kaisar yang sedari tadi diam pun bersuara.
"Tidak perlu kaisar, ini juga kecerobohan ku."
Wang Xia Ai berusaha mengelak agar kebohongannya tidak menjadi kekacauan.
"Xia'er, kamu sudah disakiti, jangan menjadi orang yang terlalu baik."
Wang Xia Ai menunduk. Ia juga berpikir bahwa tidak akan ada yang tertangkap karena memang kejadian ini tidaklah benar. Sesaat kemudian ia mengangguk patuh.
"Baik."
"Gadis pintar." Zhang Xuen Chi tersenyum tipis sambil mengelus kepala nya sayang.
Setelah beberapa perbincangan yang berbelit-belit. Akhirnya Zhang Xuen Chi, kaisar, dan permaisuri berpamitan untuk kembali ke kediaman masing-masing
Kini tinggal Wang Xia Ai yang berada sendirian di kamarnya, tapi itu tak berlangsung lama karena Wang Chu Mei mendadak datang setelah dia mendengar bahwa kakaknya pulang dengan keadaan yang buruk pun segera bergegas menuju Kediaman Mawar.
"Kakak! Apa Kakak tidak apa?!" teriaknya panik. Ia memeriksa tubuh Xia Ai bolak-balik. Membuka kelopak mata gadis itu, melihat setiap inci wajahnya, serta memeriksa gigi-gigi kakaknya.
"Aku tak apa, Chu Mei. Tenang saja," jawab Wang Xia Ai lembut. Ia menggengam kedua tangan sang adik agar dia berhenti membuka mulutnya dan memeriksa semua giginya.
"Kau daritadi kemana saja, Kak? Aku tidak menemukan mu di manapun."
"Shuttt.."
"Kemarilah," bisik gadis itu, menyuruh Wang Chu Mei mendekatkan telinganya.
Dia mengerti dan segera mendekat untuk mendengar bisikan Wang Xia Ai yang menceritakan seluruh kejadian sebenarnya, tentang ia berbohong dan bersandiwara.
Wang Chu Mei seketika menutup mulutnya dengan tangan. Kakaknya ini ternyata mempunyai bakat tersembunyi, ia tak pernah menyangka bahwa kakaknya akan sangat lihai dalam bermain drama.
"Apa kau bersungguh-sungguh, Kak? Aku tak pernah menyangka kau akan sangat pintar seperti ini!" ujarnya histeris, terkejut sekaligus gembira.
"Shuutt.. kecilkan suaramu!" kata Wang Xia Ai memperingati, kesal karena adiknya ini sangat ceroboh.
Wang Chu Mei pun segera menutup mulutnya, akan tetapi matanya masih melotot terkejut. Astaga! Ini terlalu mengesankan.
"Tapi.. apakah luka ini asli?" tanya Wang Chu Mei langsung mengangkat lengan kakaknya yang dibalut perban.
"Awwh.. tentu saja asli!" Ia merintih kesakitan dan sontak menepis tangan adiknya.
"Ehehe.. aku kira palsu," balas Wang Chu Mei sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia tersenyum lebar yang memperlihatkan deretan gigi putih nya.
"Kak, kenapa aku merasa jika kau telah berubah? Kau seperti orang yang berbeda, tidak lagi sama seperti dulu." Dia menatap lekat mata gadis yang duduk di atas ranjang itu. Namun, Wang Xia Ai hanya membalasnya dengan senyuman.
"Aku tidak berubah, hanya saja aku menyadari, bahwa perlu sedikit trik untuk hidup di istana, tapi meskipun begitu, aku ini tetaplah kakakmu, saudara kembarmu." Wang Xia Ai memeluk sang adik dengan penuh cinta, dan dibalas olehnya.
"Kembar tiga haha.. aku tak mengerti mengapa kita tidak terlihat sama baik dari segi wajah dan sifat," kata Wang Chu Mei sambil mengingat bagaimana hubungan persaudaraan mereka.
"Kita bahkan melupakan adik kita yang licik itu. Kira-kira bagaimana kabarnya saat ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses (TAMAT)
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
