Setelah kejadian barusan, Permaisuri Li Wei mengantarkan putrinya kembali ke kediaman. Wanita itu berjanji, bahwa ia akan memberikan kediaman Wang Mei Lan yang sangat dirinya inginkan itu, dan tentu saja Chu Mei sangat bahagia. Senang sekali hidup di sini, terus membuat rusuh dan selalu dibela, pantas saja si ular itu dulu suka menindas kakaknya.
Kaisar dan Permaisuri Wang langsung menuju ke kediaman putri bungsu mereka untuk membujuk dan memberikan pengertian agar setidaknya dia bisa berperilaku sedikit sopan.
"Mei'er, bukalah pintunya, nak. Ibu ingin bicara," ucap lembut Permaisuri Li Wei di depan pintu kediaman Wang Mei Lan.
"Aku tidak ingin! Kalian sudah tidak menyayangiku lagi!" teriak gadis itu sambil meringkuk di sudut ruangan, menangis atas apa yang telah terjadi padanya hari ini. Kenapa rasanya sakit sekali ketika mendengar bentakan dari orangtua nya.
"Itu tidak benar, Mei'er. Kami selalu menyayangimu," kata Permaisuri Li Wei dengan sabar.
"Kalau begitu, mengapa kalian tega terhadapku dan menuruti keinginan Kakak kedua!!" Ia berteriak marah bercampur sedih, kala menyadari bahwa ayah dan ibunya mulai tidak peduli pada dirinya. Ia tak sudi jika harus membagi kasih sayang dengan sampah itu. Semua ini adalah miliknya dan tidak ada seorangpun yang bisa mengambil lebih.
"Kakak mu baru saja kembali, mengertilah bahwa selama ini dia tidak pernah mendapat kasih sayang dari kami. Ibu harap kau mengerti dan jangan cemburu pada kakak mu."
"Aku tidak peduli! Kediaman ini adalah milikku dan hanya milikku! Jika kalian datang hanya untuk membujuku maka pergilah, karna aku tidak akan mau menyerahkan kediaman ini!!" Wang Mei Lan masih keras kepala, ia secara tidak sadar telah mengusir ayah dan ibunya dengan kasar.
Kaisar Wang yang mendengar ucapan putrinya menjadi sangat marah. Ia tidak pernah mengajarkan putrinya untuk mengusir orang lain dengan kasar!
"MEI LAN!!" bentak Kaisar Wang dengan suara menggelegar.
Wang Mei Lan yang sedari tadi meringkuk di sudut ruangan sambil menangis seketika tersentak kaget ketika mendengar bentakan ayahnya. Hatinya seolah pecah berkeping-keping.
Dua kali...! Ini kali kedua ayah dan ibunya membentaknya! Karena si sampah itu! Mereka sampai berani meninggikan suara dengan keras untuknya!!
Rasa kebencian benar-benar sudah mendarah daging di dalam dirinya. Niat untuk menyingkirkan saudaranya pun semakin menjadi-jadi. Kali ini, bukan hanya Wang Xia Ai, tapi Wang Chu Mei juga. Mereka berdua telah merenggut kebahagiaan nya, semuanya.
Wang Xia Ai merebut Putra Mahkota darinya ia masih bisa menahan amarah, tapi di sini adiknya malah ingin merebut kasih sayang kedua orangtuanya! Darahnya benar-benar mendidih terbakar api amarah.
BRAKK!!
Pintu kediaman yang semula terkunci terbuka secara paksa oleh kekuatan Kaisar Wang yang sudah muak akan sikap keras kepala putrinya. Sementara Wang Mei Lan semakin meringsut ke sudut ruangan dengan wajah penuh deraian air mata bercampur rasa takut menjadi satu, membentuk wajah yang sangat amat menyedihkan. Ia takut jika ayahnya akan memarahinya.
"A-ayah.." suara gemetar gadis itu terdengar sangat jelas di telinga Kaisar dan Permaisuri Wang.
"Di mana sopan santun mu, Putri WANG MEI LAN?! Siapa yang mengajarkanmu untuk berbicara kasar?!" bentak Kaisar Wang sambil menekan namanya dengan jelas.
"Apa begini sikap seorang putri?! Kami membesarkan mu dengan sangat baik, kau tidak pernah kekurangan apapun, kami memberikan semua hal paling terbaik di seluruh penjuru dunia untukmu, tapi apakah begini caramu membalasnya?!"
"Ayah sudah meminta secara sabar untuk menyerahkan kediaman ini kepada kakakmu! Tapi tampaknya kau sama sekali tidak mengerti!"
Permaisuri Li Wei yang berada di samping suaminya hanya bisa diam, tanpa ada niatan untuk masuk ke dalam pembicaraan serius dihadapan nya.
Gadis itu perlahan berdiri dan menatap ayahnya yang marah. Tatapannya tak kalah nyalang, merasa jika dirinya lah yang paling salah di sini.
"Tega sekali kalian! Kalian membela anak sampah sepertinya dan melupakanku yang telah kalian sayangi selama bertahun-tahun!"
"Jadi, maksudnya? Apakah kalian tidak ikhlas mengurusku sehingga aku harus membalas budi?!"
"Oh.. aku tahu. Pasti kalian ingin menebus dosa kalian pada kedua saudaraku?"
"Ya. Ibu dan Ayah sudah salah padanya, kami harap kau mau menerima kakakmu di sini," ucap Kaisar Wang.
"Ah, aku minta maaf, sebenarnya aku sangat membenci mereka berdua." Bagaikan disambar petir di siang hari, kedua pemimpin kekaisaran itu diam mematung.
"Dan aku juga yang sudah mengambil alih hak Xia Ai dan Chu Mei, mencoba membunuh Xia Ai dengan racun lotus hitam, karena dia sudah berani merebut Putra Mahkota dariku! Lalu dengan bodohnya kalian tidak mempercayai mereka yang berbicara benar bahwa aku yang meracuni Xia Ai!!"
"Kalian sangat bodoh!!"
Tawa Wang Mei Lan menggema di seluruh kediaman, dengan blak-blakan ia berbicara kasar serta mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menyukai kedua saudaranya. Tidak seperti apa yang mereka kira. Nyatanya, hubungan persaudaraan mereka sudah sangat hancur sejak awal, tidak akan bisa diperbaiki lagi.
Kaisar dan Permaisuri Wang membelalakkan mata terkejut. Iblis macam apa yang telah merasuki putri mereka hingga dengan kejamnya dia bahkan membenci kedua kakaknya.
"CUKUP!!"
Wang Mei Lan berhenti tertawa ketika mendengar suara keras ayahnya. Ia sudah muak dengan semua ini. Biarkan saja mereka mengetahui semuanya, toh ia sudah tidak peduli lagi.
"Nikmati saja rasa penyesalan kalian, aku sudah muak dengan semua ini! Lebih baik aku pergi daripada harus bersikap baik pada Chu Mei sampah itu!"
Setelah berucap, ia lantas menghilang menggunakan kekuatan teleportasi. Kekuatan yang hanya dimiliki oleh kultivator ranah Legendaris.
Kaisar dan Permaisuri Wang diam membatu ketika mendengar fakta pedih yang keluar dari mulut putri mereka. Betapa bodoh dan butanya diri mereka! Selama ini mereka sudah gelap mata, dan malah membesarkan anak iblis yang sangat licik.
Sementara itu di Kediaman Bulan milik Wang Chu Mei...
Wang Chu Mei tertawa terbahak-bahak ketika mendengar ucapan Yilao yang menceritakan semua kejadian di kediaman si ular padanya. Mereka bersantai di kamar gadis cantik itu sambil bergosip ria.
Yap! Ia menyuruh Yilao memata-matai situasi yang sedang terjadi di kediaman Wang Mei Lan. Siapa sangka bahwa kejadian tadi akan sangat mengejutkan dan tegang, sayang sekali ia tak ada di sana.
"Hahaha! Cukup Yilao. Itu sangat seru! Tapi sayang sekali si rubah itu pergi dengan mudahnya, bahkan aku belum puas balas dendam, ck!" gerutunya atas tindakan gadis licik itu yang kabur begitu saja setelah mengucapkan semua fakta tanpa basa basi. Padahal ia sudah punya rencana untuk menjatuhkan nya.
"Nona, jadi ini kabar baik atau buruk?" Yilao bertanya penasaran pada nonanya. Tadi nonanya tertawa dan sekarang menggerutu. Bukankah dia aneh? Berbeda sekali dengan Tuan dari temannya, Yoshan. Tidak bisakah mereka bertukar? Di sini dirinya diperintahkan menjadi mata-mata, pelayan dan lain-lain, sibuk sekali.
"Entahlah, aku senang karena rubah itu mengakui semuanya tanpa aku harus repot-repot memaksanya. Aku kesal karena dia pergi begitu saja sebelum aku selesai membuatnya menderita," ucap Wang Chu Mei, ia berbaring miring di ranjang sambil menopang kepalanya dengan satu tangan.
"Mengapa kau tidak mengehentikan nya tadi? Kita bisa menyiksanya!" Ia melayangkan protes serata menatap hewannya tajam.
"Nona tidak menyuruhku, nona hanya menyuruhku untuk memantau. Jadi, siapa yang salah di sini?" ucap polos Yilao, membuat Chu Mei geram sendiri.
"Hewan bodoh! Harusnya kau menghentikan nya walaupun tidak ku suruh!" Gadis itu mengamuk dan melempari Yilao dengan bantal.
Yilao yang mengetahui gerak-gerik nona nya pun langsung menghindar, sehingga bantal itu mengenai dinding.
"Aku tidak ingin repot-repot mengotori tanganku untuk menangkap orang itu," jawab Yilao santai, kemudian masuk ke dalam Cincin Ruang Angkasa sebelum nona nya menghukumnya.
"Yilao!!" teriak Wang Chu Mei kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Triplets Princesses (TAMAT)
Fantasi'_Wang Xia Ai. Istri terkasih dan cinta pertama Zhang Xuen Chi _' Di Kekaisaran Wang. Kaisar Wang beserta Permaisuri Li Wei dikaruniai tiga putri kembar yang diberi nama Wang Xia Ai, Wang Chu Mei, dan Wang Mei Lan. Ketiganya disayangi dan dicintai o...
