Pesona

3 1 0
                                        

"Mau kemana lo?"

Sebuah suara serak yang terdengar datar membuat langkah gadis itu terhenti namun tetap pada posisi yang sama, tidak berbalik sedikit pun.

"La-langit!"

Devan yang pertama tersadar sontak menyebut nama orang yang tengah berdiri membelakangi mereka dengan baju pasien dan sebuah infusan di genggaman nya.

Mendengar nama itu, ketiga cowok itu mulai tersadar. Mereka merutuki kebodohan mereka yang terlalu fokus pada gadis cantik itu hingga tidak menyadari kalau Langit sudah sadar dan keluar dari ruangan nya.

"Lo mau kabur gitu aja setelah ngebuat gue ada di sini?" Sinis langit yang berhasil membuat Ayana menoleh.

"Gak salah? Lo yang jatuh sendiri napa malah nyalahin gue?" Gadis itu terlihat berdecih dengan senyum miring yang terbit di wajah nya. "Kalau masih belum terlalu fasih bawa motor, sini gue ajarin deh, gausah sok-sok an buat balapan." Lanjut gadis itu dengan tangan nya bersedekap dada menatap Langit dengan tatapan menantang.

Kelima cowok yang mendengar itu sontak terdiam dengan ekspresi kaget yang terlihat lucu bahkan Devan dan Lucas pun sudah menganga kagum melihat keberanian gadis cantik itu, dimana mereka yang bahkan adalah sahabat Langit belum ada yang berani menantang langit. Berbeda dengan mereka, Langit malah menampakkan senyum aneh yang berhasil membuat Ayana semakin tertantang.

***

Terlihat Gadis cantik dengan rambut yang di biarkan terurai memarkirkan mobil nya di parkiran sekolah yang sudah ramai, ia merutuki dirinya yang bangun telat pagi ini. Semoga saja jam pelajaran belum di mulai.

Beberapa pasang mata sontak menyorot saat kaki jenjang nya sudah menapaki aspal dan dengan perlahan menunjukan seluruh tubuh nya yang di balut seragam yang kurang terlihat rapi hari ini. Namun aneh nya para siswa dan siswi malah memekik tertahan, entah mengapa melihat gadis itu dalam keadaan acak-acakan seolah mereka tengah melihat seorang tokoh badgirl yang begitu keren.

"SAYANG!!!"

Sebuah teriakan lantang terdengar membuat tatapan para siswa beralih, begitupun seorang gadis yang kini menghentikan langkah nya sambil berdecak malas.

"Gibran, ini masih pagi! Gausah teriak-teriak." Peringat Ayana mulai merapikan sedikit seragam nya yang tadi pagi ia kenakan asal karena takut terlambat.

Terlihat Gibran yang memelankan lari nya dan langsung saja mengatur nafas nya begitu sudah tiba di samping gadis yang kini menjadi kekasih nya. "Hehe, lagian sih. Kenapa ga nungguin aku di rumah kamu aja? Biar berangkat bareng." Protes nya, memang tadi pagi ia menyempatkan ke rumah gadis itu namun yang ia dapat hanyalah ibu-ibu kompleks yang sibuk membeli sayur sambil ngerumpi dan mengatakan kalau Ayana sudah berangkat sejak tadi.

"Gue malas nebeng-nebeng." Ujar Ayana mulai melangkahkan kaki nya. Meskipun ada Gibran di sisi nya ia tidak bisa membohongi Fikiran nya yang terus memikirkan kejadian semalam. Masih teringat jelas ketika Langit membiarkan nya pulang begitu saja setelah gadis itu dengan santai mengatai nya belum fasih membawa motor. Ada yang tidak beres! Ayana berdesis pelan, cowok seperti langit tentu saja tidak akan melepasnya begitu saja setelah menjadi penyebab kecelakaan nya kecuali ada maksud tersendiri dari tingkah cowok itu, di tambah Langit melarang dirinya untuk memberi tahu Aull mengenai kecelakaan itu.

Merasa di acuhkan dan tidak di respon, Gibran menoleh pada Ayana yang terlihat tengah memikirkan sesuatu dengan pelan ia menyentuh lengan gadis itu, "Hey? Kamu kenapa hmm? Mikirin apa?"

Ayana sedikit tersentak, lamunan nya buyar. Tatapan nya beradu dengan tatapan Gibran yang terlihat khawatir dengan nya, sejenak gadis itu merasa sedikit bersalah karena tidak terlalu memikirkan kehadiran cowok itu belakangan ini. Dengan sedikit pertimbangan gadis itu mengangkat sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang mampu membuat Gibran terpaku. "I'ts okay, gue gapapa. Ayo ke kelas, bentar lagi bel." Ucap Ayana meyakinkan lalu mulai melangkah lebih dulu.

Merasa tidak ada yang mengikuti nya, Ayana kembali menoleh dan mengerutkan kening nya melihat Gibran yang hanya terdiam dengan ekspresi aneh, "Gibran? Ayo!" Panggil nya dan sukses membuat Gibran tersadar.

Dengan senyuman manis nya Gibran mengangguk dan sedikit berlari menyusul Ayana, tangan nya dengan nakal merangkul pundak gadis itu dan anehnya tidak seperti sebelumnya Ayana membiarkan nya saja. "Lain kali sering-sering senyum sayang. Biar aku semangat setiap hari." Pinta Gibran membuat Ayana menoleh.

"Gamau."

"Loh kenapa? Kamu makin cantik kalau senyum."

"Ntar yang lain suka, mau?"

Dengan cepat Gibran menggeleng lucu, ia memandangi sekitarnya dan mendapati banyak cowok yang memandang gadisnya kagum membuat raut wajah cowok itu berubah galak, "Lo semua ngapain liat-liat? Gue colok tu mata mau!" Kesal nya membuat banyak cowok sontak mengalihkan pandangan nya ke arah lain.

Di sisi lain seorang cowok terlihat berdiri dari kejauhan sembari menatap pasangan itu dengan tatapan datar seolah menyorot kebencian yang dalam.

***

Ayana mendengus sebal begitu sejak tadi jangkauan tangan nya tidak kunjung bisa menjangkau buku yang kebetulan berada di rak paling atas. Kenapa juga harus dirinya yang di perintahkan oleh guru mapel untuk mengambil buku di perpus, seperti tidak ada siswa lain saja.

"Gue robohin juga nih rak buku!" Gerutunya begitu kesabaran nya mulai di ambang batas. Iya hendak melompat dengan tangan menjangkau ke atas namun urung setelah sebuah tangan menahan pundak nya dari belakang.

"Lo yang pendek, tapi malah rak nya yang di salahin." Sebuah suara berat yang terdengar mendayu menyambut pendengaran Ayana. Iya hendak menoleh namun sebuah tangan dari belakang muncul di sisi tubuh lain nya terlihat menjangkau apa yang sejak tadi gadis itu ingin jangkau.

"Yang ini?" Pertanyaan itu membuat Ayana tersadar dan dengan pelan menganggukkan kepalanya. "Nih."

Dengan pelan Ayana membalikkan tubuh nya dan mendongak, bersamaan dengan cowok itu yang juga menunduk hingga netra mereka saling bertatapan.

Sangat dekat

Hingga rasanya Ayana bisa merasakan hembusan nafas cowok itu.

"Olahraga, biar tinggi." Kekeh nya pelan membuat Ayana lagi-lagi tersadar. Entah sudah berapa kali ia seolah hanyut dengan fikiran nya sendiri. Entahlah, tapi rasanya seakan kedekatan ini begitu mempengaruhi nya. Suara,sentuhan,tatapan bahkan hembusan nafas cowok itu seolah mampu menghipnotis nya.

Pipi Ayana tanpa sadar menggembung lucu, hingga berhasil membuat sosok cowok di depan nya terpaku beberapa saat. "Gue gak pendek yah! Rak nya aja yang ketinggian." Protes gadis itu.

Cowok itu sontak terkekeh pelan, "Dasar pendek." Ledek nya lalu berbalik pergi, karena iya yakin jika lebih lama berada di sisi gadis itu, ia tidak akan bisa menahan diri. Pesona gadis itu begitu kuat untuk ia tangkis, sebenarnya tidak apa jika ia membiarkan dirinya jatuh ke pesona gadis itu, hanya saja berita mengenai Gibran dan Ayana cukup membuatnya sadar diri dan mungkin sedikit kecewa dan menyayangkan hal tersebut.

Ayana memberenggut kesal, "Gue gak pendek yah, Ver!!!" Tekan nya.

"Pendek." Jawab Verdy terus berjalan tanpa berbalik.

Geram, Ayana menghirup udara dengan rakus lalu menghembuskan nya kasar, "Awas lo yah!" Teriak nya begitu Verdy sudah menghilang di antara rak-rak buku.

END OF SEVENTEEN.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang