13. Keserempet

13.1K 1.2K 16
                                        

hai luvvie ak update lagi nih😉
pliss ya ini mah vote jangan diskip, alasan malas update tuh votenya sedikit😶😶

vote untuk hargai penulis ya Luv...

• • • • •

13. Keserempet

• • • • •

Ryan memutar bola matanya malas saat menyadari Sasya yang sepertinya kesusahan untuk menaiki motor tingginya. "Bisa gak?" tanya Ryan.

Sasya menggeleng. "Gal bisa," jawab Sasya dengan helaan nafas lesu.

"Ya, stepnya aja gak lo tarik, bego!" Maki Ryan menatapi step motornya yang masih melipat. Dengan segera Ryan menarik step motor itu.

"Nih pegang tangan gua, habis itu naik!" Seru Ryan membuat Sasya tersenyum lebar melihat perlakuan Ryan kepadanya yang membuat dirinya menjadi salah tingkah.

"Ck! Lo mau pulang atau mau senyum sendirian disini kaya orang gila?!" Emosi Ryan.

Sasya menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan gitu dong! Sasya naik nih," Sasya pun menerima uluran tangan Ryan kemudian Sasya bergerak menaiki motor tinggi Ryan.

Sasya sedikit terkejut kala Ryan yang langsung menepis tangannya. Tidak mau dan tidak tahan bila berlama-lama dengan Sasya.

Setelah itu Ryan pun melajukan motornya pergi dari sana.

-RS-

Dimarkas semuanya menatap ke arah Arga dengan tatapan heran. Apa yang terjadi kepada laki-laki itu? Kenapa raut wajah Arga begitu kesal.

"Lo kenapa, Ga?" tanya Kenzi merasa aneh.

Arga tidak menjawab dan hanya menatap Kenzi dengan tatapan yang tajam membuat Kenzi bergidik ngeri dan langsung berpindah tempat disamping Haikal yang cengegesan.

"Panas ya lo panas?" goda Haikal.

"Nggak! Lagi musim hujan, mana ada panas," Sahut Arga cepat.

"Ah masa... ah masa!"

"Arga pindah ke Jakarta jadi kaya cewek PMS ya, perasaan di Bandung gak begini dah." Gumam Cio dengan gelengan kepala.

Mendengar itu semuanya tertawa pelan. Benar kata Cio, waktu di Bandung Arga ini orangnya sabar pake banget. Arga juga gak pernah marah dan gak pernah memberikan tatapan yang tajam kepada teman-temannya, berbeda dengan Arga jakarta sekarang. Arga sekarang lebih terlihat sedikit gampang marah dan sensitif.

"Gua mau pulang." Arga tiba-tiba saja bangun dari duduknya dan menggendong tasnya membuat semua teman-temannya mendongak menatapnya.

"Jangan lah, Ga. Ngumpul dulu," seru Jean.

Arga menggeleng. "Gua capek. Nanti sore balik lagi," Balas Arga kemudian berjalan keluar dari markas tanpa berkata atau berpamitan kepada teman-temannya yang menatap kepergiannya dengan tatapan heran.

"Kenapa sih?" Kenzi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kenzi bertanya seperti itu karena Kenzi sendiri merasa tidak enak hati dan merasa kalau Arga itu seperti ini karena dirinya.

RASYA [ Sudah Terbit ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang