18. Panggilan Kesayangan Ryan

14.2K 1.2K 21
                                        

Haii luvvie aku update lagi!!

Aku panggil kalian para pembaca Chichkenwink Luvvie, kalian bisa panggil aku kak win, not author.

BTW KALIAN BACARA CERITA INI DAPET REKOMENDASI DARI MANA NIH???

KOMENT DONG LUV!

• • • • •

18. Panggilan kesayangan Ryan

• • • • •


"Cemberut mulu lo, udah jelek nambah jelek tuh muka," Cetus Ryan, menatap Sasya yang terus-menerus cemberut sejak mereka tahu bahwa bekal buatannya di makan habis oleh Haikal, bukan Ryan. Kecewa, Sasya masih enggan mengubah ekspresi wajahnya yang kaku dan penuh kekesalan.

Sepulang dari rumah Haikal, mereka mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan yang diperintahkan oleh Resti, ibu Sasya. Ryan menghela napas panjang, menahan amarah. Rasanya, dia ingin sekali memukul kepala Sasya yang sejak tadi hanya terdiam dan cemberut.

"Tumben diem mulu lo, biasanya congor tuh ke mana-mana," Gumam Ryan, mencoba menggoda Sasya agar kembali ceria.

Sasya menatapnya dengan tatapan tajam, seolah ingin mengirimkan pesan bahwa dia sedang tidak ingin diganggu.

"Mau apa lo?" Tanya Ryan, mulai merasa risih setelah semua bahan yang dipesan Resti sudah dia temukan dan letakkan di dalam troli mereka.

"Ryan nanya Sasya, nih?" Sasya menatap Ryan dengan tatapan polos, sedikit menggoda.

"Nanya setan. Iya, lah, masa gua nawarin pegawai supermarket nya," Jawab Ryan dengan nada kesal, meskipun sebenarnya dia tidak begitu marah.

Sasya terkekeh kecil, sambil menganggukkan tengkuknya yang tidak gatal, kemudian menunjuk ke arah freezer yang penuh dengan es krim. "MAU ES KRIM!" Teriak dengan semangat tinggi, seolah baru saja menemukan harta karun.

"Sana ambil." Ujar Ryan singkat, merasa agak terganggu dengan tingkah Sasya, tetapi tetap memberinya izin. Sasya langsung berlari seperti anak kecil menuju freezer, meninggalkan Ryan yang hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Seumur-umur, rasanya baru kali ini Ryan bertemu dengan orang yang sekelakuan seperti Sasya—kekanak-kanakan, polos, dan manja. Ryan mendorong troli menuju Sasya yang sedang memilih es krim dan memperhatikannya dengan tatapan penuh rasa geli.

Ryan mengerutkan keningnya ketika melihat Sasya menatapnya dengan tatapan memelas. "Sasya, boleh ambil lima es krim gam?" Tanya Sasya dengan sedikit ragu, khawatir jika Ryan marah.

Ryan langsung melotot. "Ngelunjak sialan," Gerutunya dalam hati, meskipun dia tahu Sasya hanya sedang bercanda.

Ryan menggelengkan kepalanya. "Nanti lo sakit gigi, ambil aja satu," Jawab Ryan tegas, mencoba meluruskan situasi.

"Tapi, Sasya mau beli banyak es krim..."

Mendengar itu, mata Sasya langsung berkaca-kaca, seolah siap menangis kapan saja. Ryan pun merasa jengkel. "NANGIESSS NANGIESS!" Teriak Ryan kesal, merasa tidak tahan dengan dramanya.

"Oke. Ambil es krim semau lo, gak usah nangis," Titah Ryan memberi izin setelah Sasya mulai menangis tanpa alasan yang jelas.

"BENERAN?!" Sasya langsung tersenyum lebar, jelas sangat senang dengan keputusan Ryan.

RASYA [ Sudah Terbit ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang