14. Sasya With Anggota Thunder

14K 1.3K 6
                                        

Hai Luv ,aku update nih!

vote untuk hargai penulis ya!

• • • • •

14. Sasya With Anggota Thunder

• • • • • 

Sasya menatapi markas besar dihadapannya itu dengan mata yang tak berkedip, markasnya sangat besar, seperti ruang tamu dirumahnya, bahkan disana ada TV dan serta sofa yang sudah tersedia dihadapannya sekarang, yang membuat Sasya tak berkedip adalah hiasan pada dinding markas Thunder, disana banyak sekali coretan yang baru saja dibuat oleh Galen, Haikal dan Cio bersama-sama dan disana juga ada beberapa alat-alat yang Sasya tidak tahu itu apa serta beberapa jaket berlogo Thunder yang terpajang rapih pada gantungan khusus baju.

Dan terakhir, yang membuat mata Sasya tak berkedip adalah. Kelima laki-laki yang sekarang berdiri berbaris dihadapannya dengan tatapan tajam. Melihat itu, Sasya langsung berjalan mundur, mengumpat dibalik tubuh Ryan yang tinggi dan kekar, mereka menyeramkan, berbeda dengan disekolah.

"Mereka seram," Bisik Sasya dengan suara yang pelan, berbisik kepada Ryan.

Mendengar itu. Ryan langsung menghela napasnya. "Gak." Ryan kemudian melirik anggota Thunder.

"Tatapan lo semua berhenti liatin tuh cewek!" Tegur Ryan membuat semuanya langsung terkekeh dan menundukkan kepalanya.

"Celananya kurang pendek," Ucap Cio dengan senyuman miring yang langsung mendapatkan toyoran kepala dari Haikal.

"Setan mata lo," Tegur Haikal.

Cio tertawa pelan. "Bercyanda, bercyanda."

Ryan menatap Sasya datar. "Duduk, obati luka lo." Seru Ryan.

Sasya menggelengkan kepalanya. "Gak mau! Sasya mau pulang."

Mendengar itu Ryan langsung membulatkan matanya, pulang? Mereka baru saja sampai. Ryan hanya melirik Sasya sinis, tak mendengarkan ajakan gadis yang mengajaknya pulang itu.

"Ken, tolong ambilin betadin buat dia," ujar Ryan sembari menunjuk ke arah lutut Sasya yang lecet.

Melihat itu semua nya langsung melotot.

"Ryan! Anak orang lo apain anjir?" Heboh Haikal sembari menatapi luka pada lutut Sasya.

Ryan tidak menyahut, laki-laki itu hanya diam dengan wajah yang datar.

"Sasya duduk dulu aja ya, cantik," Ajak Cio dengan enyuman manisnya.

"Iya benar, duduk dulu Sya. Lutut lo perih tuh pasti." seru Jean.

"Jangan main pulang aja Sya, lutut lo tuh."

"Duduk, Sya."

Ekspresi wajah Sasya yang tadinya takut dan tidak betah disana menjadi kesenangan dan tidak merasa takut ketika melihat senyuman manis Cio dan semua anggota Thunder yang bersikap ramah kepadanya.

Sasya mengangguk cepat dengan senyuman lebar kemudian duduk disamping Ryan. Gadis itu menatapi wajah Ryan yang menatap ke arah TV yang menyala dihadapannya. Ryan benar-benar tampan, dia terlihat sangat gentle saat sedang dihadapan para anggotanya, sangat berbeda dengan Ryan saat dirumah.

"Ekhem, kedip neng kedip!" Goda Cio dengan deheman yang keras.

Ryan menengok ke samping, menatap Sasya yang tersenyum manis ke arahnya.

"Mata lo gua colok mau? Stop liatin gua!" Perintah Ryan tajam.

Sasya menggeleng. "Gak mau, Ryan ganteng emang ganteng! Sasya tambah suka," Ungkap gadis itu membuat semua para anggota Thunder tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan dan melihat tingkah laku Sasya yang lucu.

RASYA [ Sudah Terbit ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang