Jeno tertawa sampai matanya menyipit.
"Bercandamu tidak lucu Jaeminie."
Jaemin tidak tersenyum sedikitpun, dia hanya menatap Jeno.
"Itu bukan bercandaan Jeno. Aku adalah anggota mafia. Tugasku adalah sebagai sniper, penembak jarak jauh."
Jeno diam, menatap Jaemin.
"Dan hari itu, walikota Seoul, Ayahmu adalah targetnya."
"Kamu? Anggota mafia? Dengan wajah seperti kamu? Dan kelakuan kamu yang seperti bayi?" Jeno tidak mempercayai perkataan Jaemin.
Jaemin mengangguk. "Ingat saat di arcade? Skorku perfect untuk counter strike. Itu karena aku sudah terlatih menembak target."
Jaemin menarik celana panjangnya dan menurunkan kaos kaki yang dipakainya, ada pistol kecil disana.
"Lihat! Aku selalu membawa senjata kemanapun untuk berjaga-jaga."
Jeno hanya diam, berpikir.
"Teleponlah Joonmyeon Hyung! Dia tahu aku bergabung dengan mafia."
Jaemin mengambil ponselnya dan menyerahkan ponselnya itu yang sudah menampilkan panggilan untuk Suho.
Jeno menerima ponsel Jaemin, menunggu panggilan diangkat.
"Ada apa Jaeminie?"
"Hyung, ini Jeno."
"Jaemin kenapa?" tanya Suho khawatir.
"Benarkah.." Jeno menghela nafas, menjeda perkataannya. "benarkah kalau Jaemin itu anggota mafia?" tanya Jeno takut.
"Benar, biar kutebak dia sudah mengaku."
"Iya." Jeno mengangguk. "Benarkah dia yang membunuh ayahku?"
"Iya, dia menceritakan tugas itu padaku."
"Kenapa Hyung tidak melarang?"
"Tugas mafia adalah mengikuti perintah pemimpinnya. Tidak ada yang bisa melarangnya."
Jeno terduduk, seketika tubuhnya lemas seperti tidak bertulang, menatap lantai dengan pandangan memburam, air matanya mulai mengalir, dia tidak mempercayai kenyataan ini.
Orang yang dia cintai adalah seorang pembunuh. Dan orang itu telah membunuh Ayahnya.
"Kenapa Jaemin? Kenapa?" Jeno menatap tajam Jaemin.
"Itu.." Jaemin menelan ludah, "sudah tugasku."
"Kenapa ayahku yang menjadi target?"
"Kamu pasti tidak akan percaya apa yang aku katakan, sebaiknya kamu bertanya pada orang kepercayaan ayahmu."
"ARRRGHH!" Jeno berteriak, beranjak dari duduknya, menendang berulangkali lemari kayu yang ada di dekatnya.
Jaemin hanya diam menatap Jeno, membiarkannya melampiaskan kemarahannya.
Setelah lelah menendang, Jeno menghampiri Jaemin.
Mereka kini berdiri berhadapan.
"Jeno... Maafkan aku yang telah membunuh ayahmu."
"Kamu boleh memukul atau melakukan apa saja padaku untuk melampiaskan kemarahanmu." Jaemin menelan ludah, menggigit bibirnya, tegang.
"Ambil nyawaku kalau kamu mau." lanjut Jaemin lemah.
"Asalkan kamu mau memaafkan diriku." Jaemin menatap Jeno dengan wajah bersalahnya.
"Kau..." Jeno mengangkat tangannya yang terkepal untuk memukul Jaemin. Jaemin memejamkan matanya, siap menerima bogeman tangan Jeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
Silent Nana
FanfictionNomin slight jaeyong Jaemin seorang sniper yang telah membunuh ayah Jeno, jatuh cinta pada Jeno. Apakah mereka bisa bersatu walaupun masa lalu menjadi penghalangnya? # 1 - Joonmyeon 2909-16112022 # 12 - chanho 01102022
