Nomin slight jaeyong
Jaemin seorang sniper yang telah membunuh ayah Jeno, jatuh cinta pada Jeno.
Apakah mereka bisa bersatu walaupun masa lalu menjadi penghalangnya?
# 1 - Joonmyeon 2909-16112022
# 12 - chanho 01102022
Jaemin menatap Jeno dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa orang tuaku dibunuh, Jeno?" tanya Jaemin lemah.
Jeno meraih tangan Jaemin, meremas jemarinya.
"Sebenarnya mereka hanya ingin mengancam untuk menakut-nakuti ayahmu, tetapi..." Jeno tidak sanggup berkata.
"Untuk apa mereka mengancam ayahku?" cecar Jaemin.
"Menurut Shindong Ahjusi, ayahmu menolak proposal kerjasama dengan perusahaan ayahku, jadi ayahku mengancam ayahmu agar proposal itu diterima."
Jaemin terdiam, hanya karena uang, nyawa kedua orangtuanya hilang.
"Meninggalnya orang tua kamu itu tidak disengaja, ayahku dan Hyuk-jae Ahjusi tidak menginginkan itu." kata Jeno.
Jaemin berdiri, tangannya masih digenggam Jeno.
"Biarkan aku pulang, biarkan aku berpikir dulu Jeno." kata Jaemin lemah.
"Pergilah ke apartemenmu di gedung ini saja, jangan ke apartemen lain. Aku tidak mau kamu menyetir dengan pikiran yang tidak jernih seperti ini." Jeno berdiri, merangkul pinggang Jaemin, tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Apartemenku kotor Jeno."
"Ada orang yang tiap pekan datang membersihkan apartemen kamu, sekarang pasti masih bersih."
"Baiklah." Jaemin berjalan keluar dengan Jeno di sampingnya.
Jaemin masuk ke apartemennya yang lama, menatap ruangan yang terlihat bersih.
"Aku tadi mengisi kulkas kamu kalau kamu butuh cemilan." kata Jeno.
Jaemin mengangguk.
"Tinggalkan aku dulu, Jeno!" kata Jaemin lemah.
Jeno pun memeluk Jaemin, mengecup keningnya lama.
"Jika kamu sudah ingin bicara, telepon saja ya?" pinta Jeno.
Jaemin hanya mengangguk, Jeno pun pergi dari apartemen Jaemin.
Jaemin duduk di sofa, tercenung mengingat perkataan Jeno tadi.
Tiba-tiba ponsel Jaemin bergetar, terlihat nama Suho disana.
"Ada apa Hyung?"
"Jeno sudah cerita?"
Jaemin mengangguk, "iya."
"Lalu bagaimana?"
"Entahlah Hyung. Rasanya sakit."
"Mungkin itu yang dirasakan Jeno saat tahu kamulah pembunuh ayahnya."
Jaemin diam mendengarkan kata Suho.
"Menurut Hyung, pasti lebih berat Jeno karena ayahnya meninggal di depan matanya, dan mereka itu dekat, sering menghabiskan waktu bersama, jadi ..."
"Iya Hyung aku mengerti." kata Jaemin lemah. Jaemin bangkit dari duduknya lalu berjalan ke tempat tidurnya.
Jaemin berbaring di kasurnya dengan ponsel masih menempel di telinganya. Ada wangi Jeno. Sepertinya Jeno pernah tidur disini. Jaemin memejamkan matanya, menghirup wangi Jeno di kasurnya.
"Mau Hyung jemput?" tawar Suho.
"Nanti malam saja, biar Jeno tidur dulu."
"Baiklah, pikirkan baik-baik keputusan kamu."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.