Chapter 15

43 15 0
                                        

Keesokan harinya, Changbin berangkat ke sekolah seperti biasa. Dan ia pun sudah tau kalau Felix pasti tidak masuk hari ini, jadi buat apa juga hari ini Changbin mencari² Felix.

Changbin sudah mengabari Seungmin untuk bertemu dengannya pada waktu istirahat. Changbin ingin bertanya tentang segala hal yang telah ia pertanyakan sejak lama.

Bel istirahat pun telah berbunyi dan Changbin pun menunggu Seungmin didekat ruangan kelasnya.

"Eh Bin, yok mau ngomong dimana?"
Seungmin baru saja keluar dari kelasnya dan langsung mendekati Changbin.

"Di ujung taman situ aja kali yah, sepi itu biasanya aa"
Mereka berdua pun berjalan menuju taman sekolah mereka.

Sesaat mereka mulai mendekati ruang kepala sekolah, mereka berdua pun mendengar suara marah yang tidak terlalu jelas tapi cukup keras untuk terdengar orang dari jarak yang cukup jauh.

"Kok gw berasa familiar yah sama suaranya"
Changbin menatap Seungmin dan berharap Seungmin menyadari nya juga.

"Bin, kayaknya itu......................
..........."
Seungmin tidak menyelesaikan kalimatnya, karena tebakan perasaan mereka benar.

Dari luar jendela ruang kepala sekolah itu, terlihat Chan yang sedang marah besar dan bahkan berdiri dari kursinya bersama dengan Pak Junho yang terduduk disebelahnya.

Changbin dan Seungmin pun cukup terkejut melihat seorang Chan yang seperti itu. Chan yang sedang dilihat sekarang benar² sangat berbeda dari biasanya.

Chan biasanya adalah orang yang baik, periang, penyabar, dan juga humble. Dan bahkan kalian akan terasa, aura Chan adalah aura orang baik. Tapi untuk sekarang, wajah dan telinga Chan bahkan memerah dan urat² dikepalanya bahkan terlihat.

"Gila Bin, kak Chan kalo marah serem banget"
Seungmin masih terpaku melihat adegan didepannya.

"Tapi pantes sih Seung, itu si Junho nya goblok kayak gitu"
Mereka masih terdiam mengintip² kondisi di dalam ruang guru.

Tapi anehnya, tidak ada satupun siswa yang mengintip masalah ini seperti Changbin dan Seungmin. Hanya beberapa yang lewat dan membisik² membicarakan pak Junho dan Chan tanpa terdiam untuk melihat kedalam.

"Tuh liat kak Chan, lengan kemejanya dinaikin, urat tangan sama kepalanya keliatan, tapi rambut nya rapih banget"
Kenapa tiba² Seungmin jadi memuji penampilan Chan?

Bahkan saat Changbin menatap Seungmin, Seungmin benar² terpaku dan pipinya juga memerah. Tapi wajahnya bukan memerah seperti Chan yang sedang marah, mungkin dia........................................................blushing?

"Seung. Elu........................................nge blush?"
Changbin bertanya pada Seungmin dengan nada yang meledek.

"Hah? Apaan? Blush blosh blush blosh, ayoklah jalan, jangan liatin orang berantem terus, ntar ikutan kesel lagi"
Seungmin pun berjalan didepan Changbin dengan langkah yang cepat.

"Takut ikutan kesel atau takut makin suka?"
Seungmin seketika terdiam dan memutar balik wajahnya ke arah Changbin dengan pelan.

"Jaga. Mulut. Lu. Yah. Bangsat."
Lalu ia kembali berjalan meninggalkan Changbin.

"Wiihhh, ganas amat nih satu sub didepan gw"
Changbin kembali memancing emosi Seungmin.

"OH NGAJAK RIBUT LUH YAH BABI!"

































"Seung sorry, nanti gw jajanin bakso didepan deh"
Changbin sedang mengekori Seungmin yang sedang marah.

"Ah bacot doang palingan, kesel banget gila gw ama lu, bisa² nya kondisi kek gitu elu malah ledekin gw"
Seungmin mengambil duduk di kursi panjang persis di ujung taman.

"Lagian, elunya malah mikirin kak Chan"
Changbin pun mengikuti Seungmin, mengambil tempat duduk disebelahnya.

"Jadi elu mau tanya apaan?"
Seungmin menatap Changbin dengan tatapan malas.

"Selama ini gw curiga ada sesuatu sama Felix. Banyak banget hal² "aneh" yang Felix lakuin yang bikin gw makin bingung"
Pernyataan Changbin benar² membuat Seungmin kebingungan.

"Hmmmm contohnya?"
Seungmin pun bertanya pada Changbin.

"Dia kalau tegang/takut, dia sering kayak mau ngambil sesuatu. Dan tiap kali gw megang tangan dia,"
Seungmin dengan serius mendengar Changbin.

"Sama 1 lagi"

"Apaatuh?"

"Dia sering ngomong "Belum tentu ada waktunya lagi" atau "Belum tentu gw masih hidup" dan sebagainya"
Changbin setelah itu hanya dapat melihat ekspresi Seungmin yang terlihat sedikit shock.

"Bin, elu..................................................gak tau Felix kenapa kah?"
Seungmin berharap Changbin dapat paham dengan maksud pertanyaan dia.

"Hm? Setau gw, Felix jantungnya lemah kan"
Changbin mengatakan nya dengan yakin.

"Selain itu?"

"Selain itu?"
Changbin berpikir keras lagi.

"Kak Chan bukan kakak kandungnya?"
Changbin kembali "bertanya" Pada Seungmin.

"Selain itu?"
Wajahnya Seungmin semakin lama terlihat semakin kesal.

"Ayahnya udah meninggal?"

"DEUG!"
Seungmin memukul kursi nya. Changbin pun terkejut dengan suara kencang yang Seungmin buat.

"Bin, serius lu gak tau?!"
Seungmin bertanya dengan sedikit membentak.

"Yah mungkin dia gak cerita ke gw tentang yang elu tau kali Seung"
Betul juga kalau Seungmin pikir².

Seungmin pun akhirnya menenangkan hatinya terlebih dahulu sebelum melanjutkan ceritanya.

"Elu tau, kalau dia punya penyakit?"
Seungmin mengatakan nya dengan serius dan nada yang halus.

"Selain jantung dia lemah, gw gak tau lagi selebihnya"
Changbin juga membalas Seungmin dengan halus.

"Dia mengidap penyakit Kardimiopati. Gw kurang paham gimana penyakitnya, tapi yang pasti itu penyakit yang bikin dia lemah dan banyak pantangan"

"Dan emang dia dari kecil lahir dengan jantung yang lemah. Dan sekitar 7 tahun yang lalu sekitar kelas 5 SD, dia baru didiagnosis dengan penyakit Kardimiopati ini. Dengan jantungnya yang lemah dan penyakit dia ini, dia susah Bin buat nyampe kondisi dia yang stabil"
Seungmin bercerita dengan raut wajah yang terlihat lemas dan sedih.

Changbin pun cukup terkejut, tidak, tapi sangat terkejut mendengar cerita Seungmin. Kenapa Felix tidak pernah ingin bercerita hal ini kepadanya? Kalau dia sudah tau sejak awal, pasti dia tidak akan memaksa Felix memasuki rumah hantu waktu itu.

"Gitu deh Bin, jadi semoga semenjak gw cerita kayak gini elu gak bakal jauhin dia"
Seungmin pun berdiri dari tempatnya dan berjalan pergi.

Dalam hati, Changbin berpikir, buat apa dia menjauhi Felix. Justru dengan kondisi Felix yang seperti ini, dia semakin ingin untuk membantu Felix melewati semua ini.


















-Last Note-

Last Note (Changlix)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang