Eps 12

13.9K 979 85
                                        

Pagi ini herlina datang ke rumah sakit dengan membawa bubur dan sup untuk Ken. Herlina juga membawa lauk dan nasi untuk Mac, sengaja ia membawa agak banyak lauk pauknya. Sampai di kamar Ken dia cukup di kejutkan dengan dua anak adam yang sedang tertidur lelap di ranjang yang sama.

Niat hati ingin mengejutkan Ken ternyata ia yang dikejutkan oleh mereka, herlina mendekati Ken dan Mac yang masih tertidur serta menaruh barang bawaannya di nakas.

Herlina mengamati wajah keduanya yang terlihat sangat damai, Ken seperti nyaman berada di dekat Mac dan Mac tidak merasa terganggu akan hal itu.

Anak lelakinya sudah dewasa sebentar lagi dia akan hidup dengan keluarga kecilnya, Herlina berharap Ken mendapatkan sosok yang dapat mengerti dan menjaganya dengan baik.

Herlina mengelus kepala Mac dan ken dengan sayang, ia seperti memiliki dua anak laki-laki, yang satu keras kepala yang satunya sangat bijaksana.

Tak tega membangunkan mereka herlina memilih menunggu mereka bangun sembari mengecek progres bisnis miliknya.

Bunyi ponsel salah satu dari mereka berbunyi nyaring, herlina mencoba mencari ponsel siapa yang berdering, sedangkan Mac merasa terganggu lalu bangun untuk mencari ponselnya yang mendapatkan panggilan masuk.

Perlahan Mac melepaskan lengannya yang dijadikan bantal sama ken semalaman, Mac merenggangkan tubuh dan lengan kanannya terasa kebas.

Saat dia cek ponselnya ada panggilan tak terjawab dari Alvero, tumben masih pagi temannya itu sudah menelfonnya.

"Halo ver, ada apa?" Mac menelfon balik Alvero siapa tau ada hal penting yang harus dibicarakan.

"Mac masih tidur lo tadi pas gue telfon?"

"hmm" deham Mac sembari mengelus kepala Ken.

"Udah jam berapa ini, pasti karena tidurnya bareng ayang makanya nyenyakkk banget, wkwk," tawa jail Alvero terdengar dari seberang sana.

"iya, ngga kaya lo yang masih jomblo," Skakmat! di ulti ngga tuh sama bestienya sendiri.

Terdengar dengusan Alvero di telefon,"tega banget lo sama temen sendiri, iya gue tau masih jomblo tapi ngga usah diingetin juga"

"hehe, gue kan baik hati ver makanya gue ingetin, kan tinggal lu doang yang masih sendiri kaya tiang bendera"

"Heh! kan si gio masih jomblo veteran, berarti gue ngga sendiri yang jomblo di geng kita"

"lo ngga tau gio kan udah ada gebetan, makanya tinggal elu yang jomblo"

"what! serius lo? wah jahanam kaga ngomong sama gue, btw siapa Mac?"

"ntar juga lo tau, dah lo mau bahas apa tumben nelfon pagi-pagi biasanya kan lu ogah nelfon gue kalo ngga penting"

"pelit banget ngga ngasih tau, oh ya gue tadi mau ngasih tau hal penting, Mac mereka udah mulai bergerak lagi nanti ada pertemuan penting antar kolega, gue harap lo bisa dateng"

"nanti gue bakal dateng, sehabis nganter ken pulang gue ke kantor kita ketemu disana"

"okey lah, gue ngomong sama gio dulu masalah nanti malam, Mac potong persenannya gio ya karena SEKERTARIS LO JUGA BELOM BERANGKAT KE KANTOR ANJENG!!"

Seketika Mac menjauhkan ponselnya dari telinga, buset suaranya alvero kalo teriak kenceng banget kodamnya keluar, hingga herlina yang sedang duduk di sofa tak jauh dengan Mac mendengar teriakan dari lawan bicaranya di telfon.

"Sialan! bisa budeg kuping gue, ngapain lo harus tereak sih," Mac mengusap telinganya yang sedikit berdengung.

"Lo tau Mac, si gio cuma bilang ke gue ada urusan sebentar terus ninggalin gue sama kerjaanya yang kek gunung sindoro sumbing, gimana gue ngga kesel coba, pokoknya lo harus potong persenannya gio kasih ke gue titik, bye" Alvero memutuskan telfon sepihak karena kesal.

NARESWARA Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang