Flashback on
Tak terasa 18 tahun yang lalu Jerry hanya bayi yang tidak memiliki identitas dan asal nya.
Bayi mungil itu masih sangat kecil, orang tua nya yang menyingkirkan anak itu dengan teganya.
Mereka menganggap bayi nya hanyalah kecelakaan yang tidak di harapkan sama sekali.
Di rumah sakit, 'kedua orang tua' bayi itu memaksa rumah sakit untuk melakukan operasi sesar karena perutnya terasa sakit.
Operasi itu berjalan lama karena ada pendarahan, saat bayi itu berhasil di ambil, masih berlumuran darah.
Bayi itu mencari ibu nya dengan kepala yang di benturkan agar menemukan asi yang ia butuhkan.
Tetapi hal itu tak terjadi, sang ibu bayi menangis tersedu-sedu dan mengamuk sejadi jadinya.
" MAS PERUT AKU SAKIT! KENAPA GA GUGURIN AJA DIA WAKTU ITU HAH! "
Suster yang mendengar percakapan yang tidak mengenakan itu pun segera membawa bayi mungil itu menjauh.
Tadinya suster hendak membawakan bayi itu dengan pujian yang halus tetapi tak jadi, respon kedua nya sangat kejam.
" Orang tua kamu jahat banget sayang "
Di bawanya bayi itu ke dalam ruangan khusus untuk menginap beberapa hari.
Sang suster tak putus ide, dia mempunyai kenalan yang mengurus panti, karena dia tak menjamin bayi itu disini.
Sebut saja ibu 'ilma miliyani' seorang ibu hebat yang mengurus banyak anak tanpa ada kata pamrih.
Ibu ilma membawa bayi kecil itu untuk dia urus sampai dia besar, ibu ilma sampai heran bayi seganteng itu apakah orang tua nya sudah tak ada atau bagaimana.
Tahun demi tahun Jerry hidup di panti asuhan, dia terbilang anak yang jarang berbicara.
Ibu ilma sangat bersyukur mempunyai anak anak yang sangat penurut, antensi nya sering terahlikan kepada bayi yang ia urus saat di mintai bantuan oleh temannya.
Demi apapun dia ingin berterimakasih karena di beri kesempatan untuk menjaga anak sepintar Jerry.
Tahun demi tahun berlalu, Jerry mampu ada dititik itu, walaupun tak di dampingi keluarganya dia tak pernah mengeluh ataupun menanyakan 'dimana ayah dan ibu ku?'.
Jerry hanya menikmati hidup nya yang sekarang, pahit manis sudah ia telan sejak dahulu.
Ingin mengeluh pun, apa yang akan ia keluhkan? Dia di kelilingi manusia manusia baik, sudah lebih dari syukur.
Dia sering sekali bersujud di antara kaki ibu ilma, mengucapkan kata terimakasih dan maaf karena sudah merepotkan sedari dulu.
Ibu ilma hanya mampu menangis, sungguh kehadirannya sudah membuat hati ibu ilma sudah bahagia.
Kamu anak ibu sekarang nak, tak perlu memikirkan hal yang lain, hidup kamu sudah tenang sekarang.
Tapi jika sesekali dia sangat ingin bertemu orang tua nya tidak salah kan?, Dia ingin tahu bagaimana sifat, perilaku, kebiasaan orang tua nya bagaimana.
Tapi untuk bertemu dengan mereka dirinya belum siap, dia masih sakit hati bahwa nyatanya dia di buang dengan amarah yang menggebu.
Dirinya cukup terbiasa dengan masalah masalah yang datang, tapi untuk melupakan fakta dirinya berada di panti asuhan, belum dia ikhlaskan.
Dia telah berbuat dosa apa? Sehingga harus di terlantarkan seperti ini, hidup jauh dari orang tua nya, berkembang tanpa tau orang tua nya siapa.
Dirinya pernah bertanya kepada ibu ilma, " aku pernah buat dosa apa Bu? Sampai aku harus disini? Aku bukannya ga bersyukur, tapi aku masih belum bisa maafin diri aku, kalo aku pernah buat kesalahan sampai harus di buang disini ".
Bu ilma yang mendengar pertanyaan itu cukup membuat hati nya terenyuh, itu pertanyaan pertama Jerry yang berhubungan dengan orang tuanya.
Ia tak tau harus memulai dari mana, ia pun belum bisa memastikan bahwa hidup 'anak nya itu' bisa sampai disini .
" Ibu belum bisa cerita in semua nya, karena ibu juga kurang tau tentang masa lalu kamu nak, dulu ibu di telfon sama temen ibu dari rumah sakit bahwa kamu harus ibu urus disini, karena di rumah sakit ga menjamin kamu di urus dengan baik, jadi ibu persilahkan saja dan ibu bawa kamu kesini, kira ibu orang tua kamu udah gaada nak, ternyata mereka menyuruh bawa kamu pergi dari sana, ibu heran salah apa kamu sampai harus seperti ini, tapi sabar ya nak? Ibu ada disini ko " .
Ibu ilma merentangkan lengannya saat melihat wajah Jerry lesu dan sudah meneteskan air matanya.
Air mata pertama, muka murung yang selalu ia sembunyikan sekarang sudah terbongkar.
Sungguh dirinya sangat bersyukur bisa bertemu ibu ilma di dunia ini.
Dia tidak menyimpan dendam atau pun amarah untuk kedua orang tuanya, dia bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk merasakan kehidupan disini, bersyukur karena dilahirkan dengan normal tanpa ada kendala.
Terimakasih ibu, berkat mu aku hidup disini, tapi dengan fakta yang menyakitkan bahwa aku hanyalah seorang anak yang di buang paska lahir tanpa melihat terlebih dahulu orang tua ku siapa.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
SENANDIKA (ON GOING)
Teen FictionJika harus memilih antara 2 pilihan, kita hanya akan bisa memilih salah satu saja. Jika kita memilih yang ke 2 maka tidak akan tahu isi yang ke 1 itu apa, dan jika kita memilih yang ke 1 kita tidak tahu isi yang ke 2 itu apa. Menurut saya, saya akan...
