Jika harus memilih antara 2 pilihan, kita hanya akan bisa memilih salah satu saja.
Jika kita memilih yang ke 2 maka tidak akan tahu isi yang ke 1 itu apa, dan jika kita memilih yang ke 1 kita tidak tahu isi yang ke 2 itu apa.
Menurut saya, saya akan...
Pekarangan rumah itu sangat sepi, bunga bunga yang biasa nya segar sekarang terlihat sangat layu, enggan menampakkan dirinya hidup.
Menelisik sekitar, rumah itu seperti tidak berpenghuni sama sekali, suasana nya sangat dingin.
Jerry memegang pagar kayu itu, lalu mendorong nya agar dirinya masuk, sesampainya di depan pintu, Jerry mengetuk perlahan.
Tak ada jawaban, ketuk lagi, tak ada jawaban, ketuk lagi, tak ada jawaban.
" Tian " Jerry memegang daun pintu, dikunci lagi.
" Aku kesini lagi ya " Jerry menutup pagar rumah sepi itu, apakah Tian baik baik saja?.
Jerry setia memandangi rumah itu, ia berharap ada keajaiban bahwa kekasih nya keluar untuk menghampiri dirinya.
Tapi nihil tidak sama sekali, Jerry lagi lagi gagal menemui Tian, berapa kali Jerry mengirimkan pesan, telfon, dan menghampiri rumah Tian di tengah malam.
Tak ada balesan atau pun kata kata singkat untuk dirinya, hati nya sangat tidak tenang saat ini.
3 hari menuju kelulusan apakah Tian bisa menghadiri acaranya?, Jika tidak pun, Jerry akan meng-handle semuanya.
Jerry berharap kekasih nya bisa bersosialisasi kembali, terutama dengan dirinya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jerry lagi lagi gagal menemui Tian, apa dia kurang bersemangat membawa Tian?.
Jerry sangat yakin untuk membawa Tian, dan Jerry sudah izin kepada sang pemilik Tian.
Lelah? Tak ada kata lelah untuk membangunkan kekasihnya dari ruangan gelap itu, ia tau Tian akan menunggunya.
Jerry saat ini sedang di teras rumah Tian, ia menunggu keajaiban bahwa Tian membukakan pintu nya.
3 jam, 6 jam, 8 jam, 9 jam, Jerry menggigil dingin, sungguh udara malam disini sangat dingin sekali, untung saja dia membawa jaket nya.
Ia berniat untuk bermalam disini, menunggu kekasihnya lagi.
Awalnya Bumi juga ingin bergabung dengan Jerry tapi Jerry menolak, ia juga ingin sendiri dan tidak mau Bumi ikut di permasalahannya.
Tak ada yang sadar di balik jendela ada seseorang yang memperhatikan Jerry yang meringkuk sembari memeluk jaket Tian.
Seseorang itu perlahan membuka pintu, dengan membawa selimut sedikit tebal.
" Kamu ga harus kaya gini " Tian, seseorang itu Tian latarum, Tian setiap hari melihat Jerry dari balik jendela rumahnya.
Tak ada 1 hari pun terlewatkan untuk tidak melihat Jerry, sungguh dirinya sangat merindukan kekasihnya, tetapi dia juga butuh sendiri.
Tian ikut merebahkan dirinya di sisi Jerry, dan memeluknya, sangat hangat, yang dia inginkan selamanya ini adalah pelukan hangat ini.
Jerry yang merasa terganggu, mulai membuka matanya perlahan, bohong jika Jerry tak terkejut, jantungnya berdetak kencang suhu tubuhnya mendadak meningkat.
Jerry sebisa mungkin tak membangunkannya, Jerry menggendongnya ke dalam rumah dan membaringkannya di kasur.
Jerry menatap wajah itu, wajah yang selama ini dia rindukan, Jerry mengusap lembut kepala itu.
Jerry menggenggam tangannya dan mengecup nya beberapa kali, Jerry sangat senang Tian baik baik saja.
" Tidur yang nyenyak, Ian...." Jerry mengecup keningnya dan berbaring bersama sembari memeluknya erat-erat.
Pagi hari tiba Jerry sudah terbangun terlebih dahulu, Jerry menatap ke samping, terdapat sosok yang sangat ia rindukan selama ini.
Mata indah itu terbuka perlahan lalu menatap Jerry dengan polosnya.
" Good morning, love.. " Jerry tersenyum dan mengusap pipinya dengan lembut, Jerry ingin sekali menangis dan meraung di pelukannya.
Tian tersentak kecil dan memeluk Jerry dengan erat.
" Kangen...kangen kamu..i Miss you a lot " Tian menangis di pelukannya, berbulan bulan, Tian hanya mengurung diri di rumahnya tak ada niatan untuk sosialisasi keluar berjumpa orang orang, selepas kepergian ibu nya.
" Aku juga, aku lebih kangen sama kamu ketimbang kamu kangen aku, Ian...aku kangen banget sama kamu, banget, banget, banget " Jerry mencium dahinya dengan lembut dan mengusap kepalanya dengan lembut.
Tian merasa jiwanya melayang tinggi di awan di perlakukan seperti itu, terutama oleh Jerry.
" Jangan kunci kunci lagi ya?? Aku ga tenang..." Jerry menatapnya dengan cemberut dan menatapnya dengan penuh kebahagiaan, kasih sayang, kesedihan, semuanya bercampur aduk menjadi satu.
" Maaf..." Tian menatapnya dengan tatapan seperti anak kucing yang di jalanan.
" Gapapa Ian, besok kelulusan kita, mau Dateng? Apa engga? " Jerry mengusap rambutnya dengan lembut dan sesekali mencium pipinya.
Tian berfikir sejenak, apakah Tian sudah siap bersosialisasi lagi? Atau tidak?.
" Oke..aku Dateng " Jerry mengangkat kedua alisnya, terkejut.
" Oke sayang ku..dresscode nya udah tau? Hmm? " Jerry memindahkan Tian ke pangkuannya dan mengusap pinggangnya dengan lembut.
" Belum..hitam putih? Bosen " Tian melingkarkan tangannya di lehernya, Jerry terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
" Bukannn, atas nya kemeja sage, celananya biru laut " Jerry mengecup bibirnya dan mencubit pipinya dengan lembut.
" Ihhh aku ga punya itu, beli dulu dong? " Tian mencibir, Tian sangat malas kemana mana.
" Ayo beli, aku anterin sayang aku ini " Jerry menggerakkan alisnya ke atas dan ke bawah.
" Hahhhh okeeee, aku mandi dulu " Tian melepaskan pelukannya dan menatapnya.
" Sipp, jangan lama lama mandinya nanti masuk angin " Jerry menggendongnya dan membawanya ke depan pintu kamar mandi lalu menyodorkan handuknya.
" Gih sanah " Jerry menurunkan Tian dan membuka pintu untuknya.
" Thank you, honeyy " Tian mencium pipinya lalu mengambil handuk dari tangannya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jerry berjalan ke kasur dan menunggunya, Jerry membuka baju atasannya dan terpampang tubuh maskulinnya.
10 menit, 20 menit, 25 menit, akhirnya Tian keluar dari kamar mandi dan menghampiri Jerry.
" Giliran kamu, cepetan " Jerry tersenyum dan mengangguk.
Sekitar 20 menit Jerry mandi, mereka pun bersiap untuk berangkat.
" Siap? " Jerry menggandeng tangan Tian dan berjalan ke luar.
" Siapp!! " Tian berjalan kegirangan sembari menggandeng tangan Jerry.