7. to parelthón (Tian)

79 31 9
                                        


Flashback on

Tian latarum, nama yang indah dari sang ayahanda.

Sayangnya Tian tidak lama merasakan usapan lembut sang ayah, ia harus pergi selamanya akibat kecelakaan yang menimpa dia.

Saat sang ayah pergi, ibu nya mengalami psikis yang buruk, cintanya telah menghilang selamanya.

Tian yang sejak kecil di titipkan kepada saudaranya itu pun jarang melihat ibu nya.

Tiap ia menanyakan keberadaan bundanya pasti orang orang hanya menjawab, ibu mu sedang berkerja di luar sana, ibu mu sedang sibuk, dan blablala.

Ia telan kebohongan itu pahit pahit, ia sering merasa iri dengan orang lain, bisa berkumpul dengan keluarga asli nya dengan perasaan bahagia.

Ia sering menangis diam diam, memanggil nama ibu dan ayahnya, tangisan kecilnya ia pendam sendiri jangan sampai ada yang mendengarnya.

Ia sering bermonolog sendiri, bahkan ia pernah kehilangan dirinya sendiri, dia sangat merasa kesepian, tak ada tempat untuk dia sandarkan.

Semasa kecil, dia hanya bisa berkumpul dengan saudara nya, dia selalu berdoa agar ia pun bisa berkumpul seperti ini, 1 kali seumur hidup pun dia sudah sangat bersyukur.

Tetapi Tuhan menguji nya dengan masalah masalah yang berat sedari kecil, bahkan pernah mengalami bully- an saat sekolah dasar dulu.

Kurang kuat apalagi dirinya? Dipisahkan sang ayah saat dia menampakkan dirinya di dunia, di sembunyikan dari sang ibunda saat ia masih membutuhkan asi untuk melanjutkan hidup.

Jika dia tak punya tujuan hidup, dia akan segera mengakhiri hidup nya saat itu juga, tetapi saat ingat sang ibunda pikirannya seolah berubah.

Dia pernah di nasihati oleh sang paman seperti ini.

" Paman tahu kamu masih kecil, tapi paman harap kamu selalu siap atas keajaiban keajaiban yang akan datang nanti, paman tahu kamu manusia kuat untuk melanjutkan tujuan kamu ada disini " .

Sekilas kata itu mampu merubah hidup nya untuk segera dewasa dan melanjutkan tujuan sampai akhir nanti.

Tetapi semesta belum kenyang untuk mengobrak abrik hidup nya sampai disitu, paman dan bibi meninggal dunia di saat yang bersamaan karena 2 2 nya kecelakaan beruntun.

Ahli waris sepenuhnya diberikan kepada Tian, karena paman dan bibinya tidak mempunyai anak.

Tempat tinggal nya sekarang adalah warisan dari paman dan bibinya, dia selalu mengunjungi makam paman dan bibinya untuk mengungkapkan kata terimakasih dan maaf.

Tapi dia ingin menanyakan bahwa makam ayah nya dimana? Sampai sekarang pun dia tak tahu dimana letak peristirahatan terakhir ayah nya.

Suatu hari ia sedang beberes rumah menemukan secarik kertas, yang sudah sedikit lusuh.

Ia baca dan terkejut bahwa surat itu adalah formulir pendaftaran ibu nya saat akan di bawa ke rumah sakit.

Tian masih tak percaya, ia pikir ibu nya sedang berada di luar sanah, tapi melainkan ibu nya sedang berada di rumah sakit jiwa yang berada di tengah kota.

Tian yang masih menduduki bangku kelas 8 dengan niat yang nekat ia menghampiri ibunya yang sudah berbelas tahun disana sendiri.

Dia meruntuki dirinya sendiri karena baru mengetahui fakta ini.

Saat disana Tian berlari ke arah meja resepsionis, menanyakan pasien yang bernama 'Marianti malawadewi'.

Sang resepsionis menanyakan bahwa Tian itu siapa nya ibu Marianti?, Terakhir di kunjungi saat ia kelas 4 sekolah dasar.

Tian menjelaskan bahwa dirinya adalah anak kandung ibu Marianti, sang resepsionis mengantarkan Tian kecil itu untuk menemui ibunya.

Saat dia melihat ibu nya di depan mata, rasanya dunia ini sedang terhuyung ke arah lautan dalam.

Tubuh kurus itu, mata sayu nan redup itu, Tian bisa melihat sang ibu tepat di depan matanya, bukan sekedar bingkai foto.

Ingin rasanya ia memeluk dan menangis sejadi jadinya di pelukan sang ibunda, tetapi penjaga ibu nya berkata bahwa jangan terlalu dekat dahulu, takut Tian kenapa kenapa.

Tian mulai mendekati ibu nya dan meraih lengan ringkih itu perlahan, dan meneteskan air matanya, sungguh ia merindukan- sangat merindukan ibunda nya.

Yang berada di ruangan ibu pun ikut iba dengan Tian ingin rasanya mereka mengusap pelan bahu bergetar itu.

Tian menyelipkan rambut panjang nan halus itu, untuk melihat wajah ibu nya, walaupun beda sekali dengan di foto saat paman dan bibi nya beri, tapi ibu nya masih sangat cantik.

Mata redup itu menelisik wajah anak nya, di lubuk hati nya ingin dia menangis dan mengucapkan kata maaf karena mengabaikan dan meninggalkan anak semata wayangnya jauh dari pengawasan dirinya.

Tapi tubuh nya membeku seketika saat mendengar tangisan itu, saat terakhir dia mendengar adalah saat Tian menampakan dirinya di dunia.

" Ibu ini Tian, anak ibu, ibu masih inget Tian? "

Sudah pecah tangisan itu, sang ibunda meneteskan air matanya, sudah berapa tahun lamanya terakhir pekerja disini melihat ibu Marianti menangis.

Nak ibu kangen sama kamu, maafin ibu ya? Ibu belum bisa jadi ibu yang baik, belum bisa jaga kamu disaat dunia ga adil, tapi ibu berterimakasih banget kamu bisa lewatin itu sendiri.

Kamu ga perlu takut lagi, disini ada ibu ya? Kamu tetep anak ibu, anak ibu yang hebat.

TBC

SENANDIKA (ON GOING)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang