Masih dengan ke '2 lelaki' itu mereka tak pernah lelah untuk saling bertukar umpatan dan emosi.
Semua itu terlontar begitu saja tanpa terkontrol diri, ada saja hal yang membuat mereka seperti ini.
Entah awalnya bercanda atau tidak, mari kita simak terlebih dahulu.
" Kisah kita tuh kaya senandika " ucap lelaki itu sembari membenarkan kerah baju nya yang tak beraturan akibat tadi berlarian kesana kemari.
" Hah apaan tuh " sang pendengar mulai tertarik dengan obrolan si pencerita, atensi nya sudah sepenuhnya terahlikan.
Dengan senyuman yang menawan 2 lubang menghiasi pipi si tampan, fokus nya masih terpaku pada 1 titik, yang menurut nya menarik.
Tian, hanya nama itu yang selalu membuat senyum nya mengembang sempurna, alay? Tentu namanya lagi bucin.
" Senandika tuh, wacana seorang tokoh dalam karya susastra dengan dirinya sendiri di dalam drama yang di pakai untuk mengungkapkan perasaan, firasat, konflik batin yang paling dalam " sang pendengar terkagum oleh jawaban pencerita itu, dia bertepuk tangan heboh.
" Lo sebenernya anak ipa apa bahasa, atau anak senja senja gitu? " Jerry mengusak pelan Surai lembut Tian.
" Anak emak bapak gue " Jerry bangkit dari duduknya dan mengajak Tian untuk segera pulang karena hari mulai menghadirkan sang bulan.
Di perjalanan hanya di temani suara motor dan hembusan angin, langit malam memang indah dengan di taburi bintang di atasnya.
Terkadang malam pun tempat yang sangat kita hindari, mengapa?.
Karena disitu adalah waktu yang paling tepat untuk menunjukkan sisi lemah kita, malam itu adalah hal yang sangat berharga.
Pasalnya, malam hanya datang sesaat kemudian diganti kembali oleh siang, bulan bergulir menjadi matahari.
Semesta itu adil, semuanya yang ada disini harus bekerja, jika kita berleha leha sedikit sudah hancur.
Semesta pun adil dalam membagi rata masalah sesama, tak pernah ada yang berucap bahwa hidup nya baik baik saja, semua punya masalahnya masing masing tapi, mereka enggan menceritakannya sebab kamu bukan tempat percayanya.
Batasi cerita kita kepada orang lain, cukup diri sendiri dan Tuhan yang tau semuanya, Only God and my self.
Cukup kita kembali kepada 2 sejoli ini, Tian membuka cerita dahulu.
" Ntar mau mampir? " Tanya nya sembari mengeratkan pelukannya karena udara dingin itu berlomba lomba masuk kedalam jaket nya.
Pelukan? Ya, mereka selalu- akan selalu seperti itu.
" Iya sayang sebentar aja gapapa? " Yang bertanya pun merotasikan bola matanya, sangat kebiasaan yang belum di terima baik oleh dirinya.
" Tian aja! " Jerry tersenyum gemas, aduhai manis nya ungkap batin nya.
" Iya Tian iya " yang di panggil pun mengacungkan jempolnya disertai anggukan kecil.
Setelah itu hening kembali dan kembali kepada pikirannya masing masing.
Mengapa malam malam seperti ini mereka baru pulang? Jawabannya cukup simple, mereka itu cukup terbilang siswa aktif, jadi jika ada acara atau pun apapun yang akan di adakan pasti mereka yang akan di tunjuk oleh pihak sekolah.
Sesampainya di kediaman keluarga Tian latarum, Jerry bergerak melepaskan ikatan tali helm yang di kenakan Tian.
" Bisa sendiri padahal " Jerry hanya mencubit pipi yang sedikit berisi itu.
" Gausah cubit cubit bisa ga?! " Sang empu hanya tertawa dan menggandeng mesra sang kekasih.
Sepi, hanya itu yang tergambarkan Jerry menaikan alisnya, tumben?.
" Sepi " Yang di tanya pun bergegas mengambil minum dahulu sebelum menjawab pertanyaan sang kekasih.
Tian tersenyum tak niat membalas pertanyaan itu, ia menyuruh pacarnya untuk menunggu sebentar sembari dia mengganti baju dahulu.
Jerry mengangguk dan menunggu dengan setia, 10 menit lamanya akhirnya yang ditunggu pun keluar.
" Mau makan? " Jerry hanya menyuruh Tian untuk mendekati nya.
" Pengen manja " yang di tatap hanya menampilkan wajah yang sedikit terlihat 'jijik'.
" Mau makan engga? " Sembari membawa tubuh bongsor itu kedalam pelukannya.
Yang di peluk hanya tersenyum girang dan mengecupi kepala mungil itu.
" Goput aja ya yang " Tian hanya mengangguk untuk menanggapi pertanyaan itu.
Sungguh hanya 'dia' tempat nya bersandar nya sekarang, tak ada siapapun yang bisa ia sandar termasuk orang tuanya.
Dengan gagahnya sang pangeran datang dan meghadang halang rintangan yang akan ia hadapi kedepan.
Sungguh dia ingin egois jika berkaitan dengan sang pangeran, hanya ingin menjadi miliknya dan tidak boleh jatuh hati pada siapapun.
Dia berharap ini takdirnya yang pasti akan menjadi miliknya bukan 'tempat sementara nya'.
Sering kali menangis akan hal yang belum terjadi, tetapi anehnya sering teringat begitu jelas.
Semua hal yang ia sugesti dulu semoga tidak terjadi dan menimpanya, dia belum siap.
Atau pun tak akan siap (?), Dia takut sugestinya akan menjadi pertanda kedepannya mereka bagaimana.
Semoga sang pangeran dan permaisuri nya segera di beri jalan.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
SENANDIKA (ON GOING)
Genç KurguJika harus memilih antara 2 pilihan, kita hanya akan bisa memilih salah satu saja. Jika kita memilih yang ke 2 maka tidak akan tahu isi yang ke 1 itu apa, dan jika kita memilih yang ke 1 kita tidak tahu isi yang ke 2 itu apa. Menurut saya, saya akan...
