Jika harus memilih antara 2 pilihan, kita hanya akan bisa memilih salah satu saja.
Jika kita memilih yang ke 2 maka tidak akan tahu isi yang ke 1 itu apa, dan jika kita memilih yang ke 1 kita tidak tahu isi yang ke 2 itu apa.
Menurut saya, saya akan...
Seusai bermesraan kemarin, ponsel Tian berdering keras, tanda ada telefon masuk.
Cuplikan percakapan nya
" Halo dengan nak Tian? "
" Iya, siapa ya? "
" Kami dari rumah sakit jiwa sejahtera, sebelumnya maaf dan turut berduka cita atas ibu mariantimalawadewi, sudah tidak ada "
" .... "
" Sekali lagi-"
Telefon itu terputus dengan sepihak, mimik air muka Tian sudah tidak berbentuk, mata nya yang memerah.
Dengan segera Tian menarik lengan Jerry untuk segera menuju rumah sakit.
Air mata Tian sudah meleleh sedari tadi, menguatkan pegangan nya pada badan Jerry.
Jerry hanya bisa menggumamkan kata kata penenang andalannya.
'ga, ga mungkin' Tian menguatkan dirinya bahwa informasi yang dia terima di telefon tadi hanya lah palsu.
Lamanya diperjalan menghabiskan waktu sekitar 45 menit, untuk sama disana.
Tian berlari di koridor, hingga hampir menubruk salah satu pasien disana.
Jerry yang susah payah menggapai lengan itu agar tidak jauh dari gapai-an nya.
Saat berada di ruang ibu nya, Tian tersimpuh lemas, kaki nya bagai kan jelly.
Ibu nya sudah di tutupi kain putih, Tian menangis tak bersuara, hati nya terlalu sakit untuk meraung keras disana.
Jerry yang baru sampai pun terkejut juga, disana sekitar 5 orang dengan dirinya.
Orang orang yang berada disana membeku melihat reaksi Tian, mereka pun turut berduka cita atas meninggalnya ibu marianti malawadewi.
" Tian " Jerry memegang bahu gemetar itu, tetapi dengan cepat Tian menepis nya.
" Kenapa, kenapa ga ngabarin saya kalo ibu itu sakit, kenapa waktu ibu udah gaada kalian baru kasih kabar, kenapa dok? Kenapa suster? Karena ibu saya gila jadi kalian ga peduli? Iya? Ibu saya juga manusia dok, saya sudah bilang, saya ga bisa setiap hari datang kesini, dan saya sudah tegaskan telefon saya jika terjadi sesuatu kepada ibu marianti, sekecil apapun masalah nya " Jerry memeluk tubuh Tian yang sudah lemas tak kuasa melawan, apakah takdir nya seburuk itu?.
Jerry mengusap lembut punggung gemetar itu, Tian semakin deras mengeluarkan air matanya.
Tak selang lama tubuh ibu marianti yang sudah terbujur kaku di bawa untuk ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Tian memang sudah berhenti mengeluarkan air matanya, tetapi dia kesulitan menarik nafas.
" Ibu, ibu cepet pergi nya, Tian kan mau mamerin toga sama baju wisuda ke ibu nanti, kelamaan ya Bu? Maafin Tian " Jerry mengusap pelan air mata yang turun itu.
" Sayang, ayo pulang dulu " Tian menggelengkan kepalanya, dan menggenggam lengan kekasihnya dengan erat.
" Gamau, aku mau nungguin ibu dulu " Jerry hanya mengangguk, di paksa pun yang ada Tian yang mengamuk ngamuk disini.
Sekitar 2 jam, Tian tertidur di bahu Jerry, lalu Jerry menelepon Defa, agar menjemput Tian sembari membawa mobilnya.
Tak selang lama Defa sampai di tujuan, Tian di bawa sangat hati hati oleh Jerry.
Jerry mengucapkan kata pamit kepada ibu marianti dan mengucapkan kata izin untuk membawa Tian bersamanya.
Jerry membawa motornya dan Tian di mobil bersama Defa, awalnya Defa menolak agar Jerry saja yang bawa mobil nya, tapi Jerry juga menolak agar dia yang membawa motornya.
30 menit sampai, Jerry mengucapkan terimakasih kepada Defa dan maaf sebab sudah merepotkan nya.
" Santai aja, gue turut berduka juga ya, semoga ibu Tian tenang disana " Defa mengusap kepala Tian dan bahu Jerry, menyalurkan penyemangat.
" Makasih bro, mau langsung balik? " Defa mengangguk lalu pamit pulang, sebab sudah larut juga.
Jerry membawa Tian kedalam rumah, perlahan tapi pasti Jerry menidurkan kekasihnya.
Berdiam sejenak sembari memperhatikan wajah tidur itu yang tenang, Jerry tersenyum tipis lalu bergerak mengusap poni rambut yang menghalangi pemandangannya.
CETRING!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jerry dengan berat hati meninggalkan Tian sendiri, mengecup kening itu dan menutup tubuh dengan selimut yg tidak tertutupi.
" Aku pulang dulu, nanti aku kesini lagi ya " Berbisik dengan sangat lirih supaya tak mengganggu tidur kekasihnya.
Berjalan menuju pintu dengan membuka hati hati agar tak menimbulkan suara bising.
Mendorong motor nya sampai di depan gerbang lalu baru di nyalakan.
.....
Sesampainya di rumah sakit, Salsa segera di tangani karena hampir tengah malam.
" Nak kamu pulang lagi aja, makasih ya maaf ibu ngerepotin " Jerry menggelengkan kepalanya.
" Ga bu, ibu ga ngerepotin ko, kalo Jerry pulang ibu pulang sama siapa? " Mengusap lengan yang lebih tua dengan lembut.
" Ibu sudah telepon supir yang biasa antar ibu dari dulu, kamu pulang lagi aja ya? Tian sekarang lebih butuh kamu " Jerry bimbang, dia harus memilih salah satu di saat saat seperti ini.
" Beneran Bu? " Ibu Ilma mengangguk lalu menyuruh Jerry segera menemui Tian.
Jerry pun meng-iya kan kemauan Ibu Ilma, lalu pergi menyusul Tian, takut nya Tian sudah bangun.
Sesampainya disana Jerry langsung berlari ke arah kamar sang pujaan hati.
'di kunci?' Jerry sedikit mengetuk ngetuk pintu kamar itu, agar pemiliknya membuka kan.
" Sayang? " Jerry menempelkan telinganya di pintu itu.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jerry menghembuskan nafasnya berat, YaTuhan jangan sekarang.
" Tadi aku kerumah sakit dulu, aku pamit ya, nanti aku kesini lagi, kamu istirahat ya, i love you, always " Jerry menjalankan motornya meninggalkan pekarangan rumah Tian.