Selepas kejadian itu kegiatan bucin mereka masih berlanjut, pasalnya Jerry belum berhenti kesal dengan teman temannya sebab tadi.
Tian berusaha membujuk nya, tapi hasil nya sama saja, dia sendiri juga kesal karena usahanya menghianati hasil nya sendiri.
" Udah dong ngambek nya, mereka cuman bercanda " Tian menatap kekasih nya, sungguh dia ingin membanting nya sekarang juga.
" Kalo beneran gimana? " Tian memejamkan matanya, sumpah?.
" Lo kalo masih ngambek, gue tonjok " Tian meninggalkan Jerry di dalam kelas nya, lalu pergi mencari minum.
" SAYANG! " Jerry mengejar kekasih nya agar tidak pergi kemana mana.
Saat di perjalanan dia di hadang oleh kumpulan anak anak yang bisa di bilang famous, di sana pasti nya ada Kajantra yang paling menonjol disana adalah dia.
" Tian tadi lewat, gue sapa malah nendang kaki gue, ga di ajarin sopan santun sama lo? Kalo Tian sama gue pasti jauh dari ini sifat nya " WTF? Jerry menaikkan sebelas halis nya, kenapa dia yang di salahkan?.
Jerry masih mencerna kata kata yang sedikit menusuk itu, 'kalo Tian sama gue pasti jauh dari ini sifat nya', that's right, he's obsession with my boyfriend.
" Gue udah gatau lagi, gatau mau ngomong apalagi dan gatau harus cara apalagi biar lo sadar kalo Tian itu milik gue dan dia cuman mau sama gue, gue ga larang lo mau milikin dia it's oke, kalo dia mau juga sama lo ya silahkan ambil, kalo dia gamau yaudah tinggalin, jangan pake cara busuk lo Kajantra " Jerry menekan kata kata yang menurut nya sangat sarkas dan fakta.
Kajantra maju untuk mendekati Jerry, dia memandang sejenak lalu tertawa sekilas.
" Sebelum sama lo, gue duluan yang ada rasa sama dia brengsek, lo tiba tiba datang dan ngerebut Tian dari gue?! " Jerry sedikit menjauhkan wajah nya saat suara itu sedikit menaik seiring emosi nya.
" Ngerebut? C'mon man, coba lo fikir lebih luas deh, dari sudut pandang lo, gue yang salah? Salahin perasaan lo yang salah naruh harapan, lo ga bisa nge claim kalo gue atau Tian yang salah, ini sesuai perasaan dia ke gue gimana dan ke lo gimana, masih mau salahin fakta? Udah mau 3 tahun, muka aja sok sok an otak kosong " Jerry pergi meninggalkan mereka lalu segera menyusul Tian yang sudah jauh entah kemana.
Kajantra mengepalkan lengannya, coba sugesti Kajantra kenapa?.
Di lain tempat Tian sedang mengantri membeli minuman kaleng, dia ingin mencoba mesin itu sebab katanya baru, masih fresh.
" Sayang " Tian terkejut akan suara itu, sebab disana hanya ada 3 orang yang mengantri, dan Tian tak tahu mereka siapa.
Jerry berpeluh keringat dan nafasnya yang terengah-engah, kaki yang gemetar.
" Ngapa lo? Habis marathon? " Tian menatap malas, dia masih kesal dengan kekasih nya.
" Sayang " suara itu semakin memelas, dia takut Tian marah dan mengomeli nya disini, sebab disana masih ada orang asing, dia malu.
" Diem " Tian segera memasukan koin untuk membeli minuman itu, ia membeli 2, Tian pun masih punya hati walaupun masih marah kepada kekasihnya.
Tian menyodorkan minumannya, kekasih nya yang sedang melamun pun tersadar.
" Huuu sayang " Jerry memeluk tubuh kekasihnya dengan erat, ia sadar bersalah sebab terus saja merajuk dengan alasan yang tidak bagus.
Tian tak menggubris sama sekali, dirinya ingin menenangkan pikiran dulu.
" Pengen nikahin kamu " Tian tersedak mendengar perkataan itu, apa apaan?.
" Gelo " Tian mendorong tubuh besar itu dari dirinya, dia sedang tidak mood di gombali.
Jerry mengusakkan kepalanya di antara celah lengan Tian, dia juga ingin di perhatikan oleh nya.
Tian mengusap kepalanya, masih untung ia usap tidak di getok juga itu kepala kekasihnya.
" Maafin aku ya " Tian hanya mengangguk saja, dia sudah melupakan kemarahannya.
Lelah juga menyimpan kemarahan terlalu lama, batin nya lelah.
" Ikhlas ga? Kalo ga aku cium nih " Tian memukul mulut itu, ini masih di area sekolah walaupun terlihat sunyi, dia takut ada seseorang yang diam diam memperhatikan.
" Bacot gini lagi gue bener bener tabok lo " Jerry tertawa lalu memeluk tubuh itu, dia juga sebenarnya takut jika sudah di hadapkan dengan Tian seperti ini.
Tian memejamkan matanya, entah belakangan ini dia sangat lemas, atau gara gara memikirkan kerja apa yang akan dia lakukan nanti.
" Capek " Jerry mengangkat pandangannya untuk menatap kekasihnya.
" Capek? Ayo nginep " Tian mengerutkan halisnya, kenapa sih?.
" Ga nyambung lo, ketot " Jerry menggigit lengan itu.
" SAKIT, KENAPA DI GIGIT " Tian sedikit berteriak, gigitanya tajam atau giginya yang tajam?.
" Kamu kalo marah mulut nya jelek " Jerry mulai dengan muka yang serius, kebiasaan.
" Iya jelek, makannya gausah pacaran sama gue " Tian meninggalkan Jerry sendirian, jika sudah ada di keadaan seperti ini Tian merasa semua orang itu serba salah, hanya dirinya yang benar.
Jerry menggelengkan kepalanya, kekasihnya sedang tidak mood dia harus apa?.
Jerry segera mengejarnya, Tian saat ini butuh sandarannya, siapa lagi jika bukan dia menjadi sandarannya?.
Ia pun sama hal nya, butuh sandaran, dan sandarannya itu dia.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
SENANDIKA (ON GOING)
JugendliteraturJika harus memilih antara 2 pilihan, kita hanya akan bisa memilih salah satu saja. Jika kita memilih yang ke 2 maka tidak akan tahu isi yang ke 1 itu apa, dan jika kita memilih yang ke 1 kita tidak tahu isi yang ke 2 itu apa. Menurut saya, saya akan...
