Siapa?

90 26 0
                                        

Setelah bel masuk berbunyi, Alvian langsung berjalan menuju ke kelasnya. Dengan sebelah tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya, Alvian menjadi pusat perhatian teman-temannya.

Di tengah koridor, ia berpapasan dengan Yuna dan kedua pengikutnya. Siapa lagi kalau bukan Icha dan Meli. Alvian berhenti saat Yuna tiba-tiba menarik tangan kirinya.

"Lepasin, gue nggak suka dipaksa." Ujar Alvian dengan tenang tetapi terdapat sorot dingin diwajahnya.

"S-sorry, gue cuman mau tanya," Ucap Yuna yang masih setia menggenggam sebelah tangan Alvian.

"Bisa dilepas?" Sorot mata Alvian semakin dingin.

"Alvian, kenapa kamu berubah sih? slowrespon banget, gak kaya pas kemarin waktu kamu baru kenal sama aku?" Tanya Yuna beruntun setelah melepaskan tautan tangannya dengan Alvian.

"Terus kemarin kamu buatin bintang buat siapa? Yang di story imstagram kamu?" lanjut cewek itu.

Alvian hanya mengangkat sebelah alisnya. Dia jadi teringat ucapan Gior tempo lalu. "Cewek jaman sekarang mudah baper, ati ati lo baperin anak orang."

Alvian menghembuskan napasnya gusar. Ia jadi bingung harus berbuat apa. Mungkin, mulai sekarang ia tidak boleh akrab dengan semua cewek yang menyukai dirinya.

"Ekhem, penting banget buat lo tahu. Memangnya kita ada hubungan apa?" Ujar Alvian menjawab pertanyaan Yuna.

Skakmat, Yuna malu saat ini. Ia juga tidak sadar jika beberapa orang mulai menatapnya. Pertanyaan yang Alvian lontarkan sungguh membuat Yuna merasa tidak dianggap. Ya, memang nyatanya mereka berdua tidak memiliki hubungan spesial. Tetapi, Yuna-lah yang menyukai Alvian.

Semua orang juga tahu kalau Yuna sudah lama menyukai cowok itu. Tetapi, Alvian tetaplah Alvian. Seberapa banyak orang yang menyukai dirinya, ia akan selektif terhadap pilihannya.

"Ngaku ngaku doang, dianggap engga."

"Kasian banget Yuna."

"Udah beruntung Alvian mau menghargai, malah ngelunjak!"

"Iya, kasian banget ya."

Bisik-bisik dari mulut teman-temannya mulai terdengar ditelinga Yuna dan Alvian. Alvian hanya diam dan tidak mempedulikan. Ia pergi begitu saja meninggalkan Yuna yang sedang berdiri dengan nafas yang tidak beraturan karena menahan amarah dan rasa malunya.

"Yunaa!" Teriak Icha dan Meli.

"Udah Yunn, jangan jatuh cinta sendirian, mending cari cowo lain lagi!" Ujar Meli menenangkan sahabatnya.

Perlu diketahui, Sebenarnya Meli juga sempat naksir ke Alvian. Namun sekarang ia sudah mulai lupa. Alvian memang bisa membuat semua orang dapat menyukainya dalam sekejap.

"Iya udah Yun, ke kelas aja yuk!" Ajak Icha yang disetujui oleh kedua sahabatnya.

Sementara disisi lain, Isa dan teman-temannya sudah berada di dalam ruang Pramuka. Anggotanya pun sudah lengkap. Sekitar dua puluh delapan jumlah keseluruhan yang hadir.

"Baik, kita mulai saja pembahasan kali ini." Rafa membuka percakapan.

"Jadi, minggu depan akan ada pelantikan Pramuka. Maka dari itu ada beberapa hal yang harus disiapkan." Ucap Rafa.

"Di antaranya yaitu kalian harus bikin sebuah karya yang dimana karya tersebut harus murni dari tangan kalian sendiri." Dara melanjutkan ucapan Rafa.

Setelah selesai menjelaskan, barulah sesi tanya-jawab dibuka. Beberapa dari mereka banyak yang bertanya terutama adik kelas karena masih ada yang belum paham. Sementara Dara dan Rafa pun menjawabnya dengan telaten.

Setelah selesai, pembahasan mereka diperbolehkan untuk keluar ruangan. Sekarang Isa dan beberapa teman-teman perempuan yang lain sudah berada di luar ruangan. Mereka mencari ide untuk membuat karya.

"Gue mau bikin kura-kura aja deh!" Celetuk Isa. Sedangkan yang lain masih berpikir ingin membuat karya apa.

"Kak Isa, aku juga kepikiran buat bikin itu." Ucap salah satu adik kelas.

"Eh, memangnya boleh sama yaa?" Tanya Isa.

"Kak Dara, bikin karyanya boleh sama apa engga?" Tanya adik kelas itu.

"Kalau bisa semuanya harus beda ya, biar tidak ada pengurangan nilai." Jawab Dara.

Isa pun bingung. Masa iya dirinya akan menyuruh adik kelasnya untuk mengalah?

"Emm, okey deh kalau gitu gue cari yang lain aja." Final Isa.

Adik kelas itu pun tersenyum sembari mengucapkan terima kasih kepada Isa. "Terima kasih, Kak Isa!" Ucap Firda-anggota Pramuka yang masih duduk dibangku kelas delapan.

"Iyaa, sama-sama." Jawab Isa. Perempuan itu pun memilih berpikir kembali untuk membuat karya yang cocok untuknya.

"Isa kok bisa ya deket sama Alvian?" Dara tiba-tiba nyeletuk membuyarkan pikiran Isa.

Mendengar nama itu, Isa jadi rindu. Ups!
Terjebak pada warna merah jambu yang selalu menanti kabar crushnya itu.

"Lo kenapa sih Ra? tiba-tiba nanya gitu?" Balas Isa.

"Engga papa, lo nggak penasaran gitu sama masa lalunya dia?" Tanya Dara membuat Isa penasaran.

"Siapa?" Cewek itu tidak paham dengan apa yang Dara katakan.

"Enggak deh, lupain aja lupain!" Jawab Dara berharap sahabatnya itu melupakan apa yang ia katakan.

"Lanjut cari ide buat karya kalian!" Perintah Dara, si ketua Pramuka.

🌷🌷🌷

Bersambung..

Perfect Crush (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang