Hari demi hari terus dilewati. Isa benar-benar menepati ucapannya. Ia tidak memberikan pesan pada Alvian. Begitupun sebaliknya.
Saat ini Isa dan teman-temannya sudah berada di ruangan ujian. Hari ini adalah hari ke empat mereka melaksanakan ujian sekolah. Tentu ia sudah mempersiapkan sebaik mungkin untuk menghadapi ujian hari ini.
"Sa, lo tadi jawaban yang nomor 2 uraian gimana?" Celetuk Olin dari sebelah kanan Isa.
"Rahasia." Jawab Isa.
Guru pengawas belum datang di jam kedua ini. Itu sebabnya Olin yang duduk di seberang Isa masih bisa berbicara. Soalnya kalau sudah ada pengawas, ruangan harus tenang.
"Ish!" Decak Olin sebal.
Setelah itu mereka pun terdiam karena Pak Wawan masuk sebagai guru pengawas. Beliau membagikan lembar jawaban terlebih dahulu. Setelah semua mendapatkan lembar jawaban, barulah Pak Wawan membagikan lembar soal.
"Selamat mengerjakan, jangan ada yang menyontek dan harap tenang!" Ujar beliau, lalu duduk di kursi pengawas.
Waktu demi waktu terus berjalan. Isa mengerjakan soal dengan baik. Semua yang dipelajari banyak yang keluar. Hal itu membuat Isa mengerjakannya dengan mudah.
🌷🌷🌷
Di sisi lain, Alvian juga tengah mengikuti ujian akhir semester. Cowok itu sudah selesai lebih dulu. Lalu ia memilih pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca materi hari esok.
"Alvian!" Panggil seorang perempuan yang juga baru saja masuk ke perpustakaan.
Alvian pun menoleh. Ia melihat Disa tengah berdiri di hadapannya. Cowok itu hanya menaikkan satu alisnya.
"Ada berita terbaru!" Disa menggeret tangan Alvian supaya segera masuk ke dalam.
"Apa?" Tanyanya.
"Yuna udah jadian sama temen pacar gue." Perkataan dari Disa tidak membuat Alvian bereaksi apa-apa.
"Kok lo diem aja sih?" Tanya Disa heran.
"Terus gue harus gimana?" Jawab Alvian tenang.
"Y-ya terkejut kek atau gimana, datar amat tuh muka?" Cibir gadis itu.
"Eh tunggu-tunggu, kita berduaan kaya gini, cowok lo engga marah?" Tanya Alvian mengalihkan topik pembicaraan.
"Engga. Gue udah bicara sama dia. Semuanya baik-baik aja, tenang," Jawab Disa membuat Alvian bernapas lega.
Sebenarnya ia tidak masalah kalau dia yang harus kena marah dari Bara. Tapi hatinya tidak tega kalau Bara memarahi sahabatnya. Maka dari itu, akhir-akhir ini ia juga menjaga jarak dengan Disa. Dengan tujuan menjaga juga menghapus perasaannya terhadap perempuan itu.
"Gue belum cerita sesuatu ya sama lo?" Ujar Alvian.
"Apa?" Jawab Disa penasaran.
"Yang gue dideketin sama cewek." Ucap cowok itu membuat Disa menutup mulut, tidak percaya.
"Hah? emang iya? sejak kapan?" Tanya gadis itu beruntun.
"Udah lumayan lama. Tapi gue lagi jaga jarak dulu sama dia." Jawab Alvian seadanya.
"Kenapa?"
"Adalah pokoknya." Disa mendengus mendengar jawaban dari cowok itu.
"Terus lo udah lupain masa lalu lo?"
"Udah. Sebenernya gue engga pernah cinta sama dia. Dulu gue cuma kejebak rasa nyaman. Dan pada akhirnya gue cuma nganggep dia sebagai adik gue. Gue ngga bisa jatuh cinta sama dia." Jujur cowok itu.
Ia tidak memberikan alasan lebih lanjut perihal perasaan yang sebenarnya. Rasa suka yang ia simpan selama bertahun-tahun pada gadis dihadapannya ini biarlah ia pendam selamanya. Bahkan sampai rasa itu hilang.
"Breng*ek!" Umpat Disa setelah mendengar cerita sahabatnya.
Alvian terkejut, tapi ia tidak boleh marah. Memang dirinya sudah keterlaluan. "Sorry Dis, orang yang udah lo anggap sebagai sahabat ini udah keterlaluan." Sesal cowok itu.
"Gue nggak habis pikir sama tingkah lo, Yan. Gue benci banget!" Maki cewek itu.
"Iya, gue emang layak dibenci."
"Lo harus berubah." Ucap Disa, Alvian pun mengangguk menanggapi ucapan perempuan itu.
"Iya, gue sedang berusaha untuk berubah." Ungkap laki-laki itu.
"Bagus, gue ngga mau sahabatan sama cowok yang nggak gantle!" Disa menyentil lengan Alvian.
"Eh eh eh! rupanya Alvian lagi sama pacarnya toh?" Anjas tiba-tiba menghampiri meja mereka.
Disusul oleh keempat temannya yang lain. Ternyata mereka ada di sini juga. Alvian pun memicingkan matanya.
"Nggak usah ngaco!" Tukas laki-laki itu.
"Alah bilang aja udah jadian, seneng kan lo!" Aldi mengimbuhi ucapan Anjas.
"Ck, gue udah punya pacar. Kita cuma sahabatan." Jelas Disa.
"Bagus, Dis," Reza ikut berkomentar di tengah-tengah percakapan mereka.
"Bilangin tuh ke sahabat lo, jangan suka mempermainkan hati cewek!" Rifal pun ikut bersuara.
"Ga jelas lo semua! mending pergi sana!" Usir Alvian membuat keempat temannya terkekeh.
Aldi, Anjas, Reza, dan Rifal pun pergi dari hadapan Disa dan Alvian. Mereka tidak mau membuat keributan di sana. Terlebih lagi mereka tengah berada di perpustakaan. Bisa-bisa dimarahi nanti.
"Temen-temen lo emang gitu ya, Yan?" Tanya Disa.
"Iya, gitu, gak jelas." Jawab laki-laki itu.
"Hahahaha" Disa tertawa melihat muka masam Alvian.
"Udah ah ke kelas aja yuk, jam kedua bentar lagi dimulai." Ajak perempuan itu.
Mereka pun pergi dari perpustakaan menuju ke kelas untuk mengikuti ujian akhir semester.
🌷🌷🌷
Bersambung..
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Crush (Revisi)
Romansa[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Siapa yang suka AU? sini mampir 😍☝️ Bukan sepenuhnya cerita, tapi ada AU nya jugaa! Ceritanya bisa langsung dibaca aja yaa, tidak ada spoiler >< Terima kasih readers kuu!!
