[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Siapa yang suka AU? sini mampir 😍☝️
Bukan sepenuhnya cerita, tapi ada AU nya jugaa!
Ceritanya bisa langsung dibaca aja yaa, tidak ada spoiler ><
Terima kasih readers kuu!!
"Hm" Isa hanya bergumam menanggapi panggilan Dara.
"Besok udah mulai ujian sekolah. Lo udah persiapan apa aja?" Tidak biasanya Dara menanyakan hal itu.
"Adalah pokoknya." Jawab Isa membuat Dara menatapnya sengit.
"Idilih pikiknyi." Ucap Dara meniru perkataan Isa.
"Nanti sore bakalan ada pelajaran tambahan sama Pak Dayat. Kamu ikut kan?" Tanya Isa.
"Ikut lah, gue mau belajar jadi anak rajin!" Tukasnya.
"Okey, bagus." Komentar Isa, melihat perubahan temannya.
"Eh nanti ruangannya di dekat lab 2 ya, takutnya salah masuk lab." Ucap Isa mengingatkan.
"Okey siap!" Jawab Dara.
"Gea, Olin!" Teriak Isa.
Mereka berdua pun menengok, "Kenapa, Sa?" Tanya mereka.
"Enggak apa-apa, cuma manggil aja, hehe." Jawab Isa.
"Eh, Sa! gue tadi liat crush lo di lab 1, kayaknya lagi tutor olim deh, lo ngga kangen sama dia?" Ucap Olin tiba-tiba.
"Kangen, Kangen bangetttt!" Jawab Isa dalam hati.
"Woi, kok bengong sih?" Gea melambaikan tangannya di depan wajah Isa.
"ENGGAK. GUE ENGGAK KANGEN!" Jawab Isa dengan suara yang cukup keras.
"Palingan juga bohong," Ejek Dara membuat Isa memalingkan wajahnya kesal.
"Alvian emang ganteng banget ya, udah gitu pinter lagi, pantes Isa klepek-klepek nge-crush-in dia." Ujar Gea.
Olin dan Gea baru saja melewati ruang laboratorium 1. Mereka habis mengambil buku tugas di meja Pak Dayat. Katanya sih buat persiapan ujian. Lalu mereka tidak sengaja melihat Alvian yang sedang mengajar adik kelasnya.
"Lo yakin engga mau lihat?" Tanya Olin kepada Isa.
"Engga, Lin, gue mau disini aja, mending baca buku!" Jawab gadis itu membuka kembali buku novelnya.
Tidak lama setelah itu, Pak Dayat datang tanpa membawa buku absensi.Sepertinya pelajaran tambahan Pak Dayat tidak jadi dilakukan nanti sore.
"Anak-anak, mohon maaf untuk jam pelajaran tambahan tidak jadi dilakukan nanti sore, tapi dimajukan dari pagi hingga siang saja ya. Soalnya semua guru mapel sedang mengejar materi." Ujar Pak Dayat.
Beliau meminta untuk dimajukan jamnya. Jadi kelas mereka terpaksa dipindahkan ke ruang lab 2. Isa dan teman-temannya pun segera menuju ke ruangan tersebut.
Diperjalanan Isa tidak sengaja melihat Alvian tengah duduk bersebrangan dengan seseorang yang sangat ia kenali. Firda. Cewek itu sedang belajar olimpiade bersama Alvian. Memang sih, mereka juga terlihat serasi. Sama-sama pintar!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Hayo! lihatin apa?!" Ucapan Dara membuat Isa terkejut.
"Tenang aja, mereka cuma belajar bareng kok," Gadis itu merangkul Isa. Mengajaknya beranjak dari sana.
"Iya-iya, gue juga lihat."
"Lagian dia udah lulus kenapa harus ngajar olim di sini sih?!" Gerutu Isa membuat Dara gemas melihat tingkahnya.
"Ya, kan, biar mereka bisa mengikuti jejak Kak Alvian mungkin?" Perempuan manis itu menenangkan Isa yang hampir emosi.
"Gue emang engga cocok ya, Dar, sama Alvian? bagaikan langit dan bumi. Aku buminya." Celoteh Isa sebelum Pak Dayat masuk.
"Ngomong apa sih lo, kemarin lo dapet peringkat satu aja gue bangga, nggak usah bandingin sama orang lain, gue nggak suka dengernya." Jawab Dara menanggapi celotehan sahabatnya.
"Iya-iya, gak lagi, janji!" Isa tersenyum di hadapan Dara. Membuat perempuan manis itu menunjukkan jempolnya, "Sip!" Ucap Dara.
🌷🌷🌷
Di sisi lain, Alvian masih mengajari Firda juga beberapa anak yang ikut serta olimpiade matematika. Alvian benar-benar merelakan waktu belajarnya untuk mengajari adik kelasnya. Dengan sabar dan telaten ia menerangkan rumus juga jawaban dari soal-soal yang sulit.
"Buat rumus yang phytagoras kalian sudah hafal? engga tertukar lagi kan?" Tanya Alvian memastikan.
"Engga, Kak!" Jawab mereka serempak kecuali Firda. Sepertinya cewek itu belum sepenuhnya melupakan Alvian.
Tapi, perkataan yang waktu lalu diucapkan kepada Isa kembali teringat olehnya, bahwa ia telah melupakan Alvian bahkan sudah tidak ada rasa apa-apa lagi untuknya.
"Okey, pertemuan kita akhiri 5 menit lagi, apakah ada yang ingin ditanyakan?" Ucap Alvian. Mengingat bahwa dirinya juga harus kembali ke sekolah untuk mengejar materi.
"Tidak, Kak! Terima kasih banyak Kak Alvian!" Ucap mereka serempak.
"Sama-sama, kalau gitu saya pamit dulu ya, mungkin beberapa hari ke depan saya tidak bisa hadir karena harus mengikuti ujian akhir semester. Jadi, maaf kalau selama ini saya ada salah dalam mengajari kalian." Ucap Alvian panjang lebar sesudah ia menggendong tas punggungnya.
"Baik Kakk! hati-hati di jalan yaa" Jawab adik kelas Alvian.
Alvian pun keluar dari ruangan tersebut. Ia ingin bertemu Isa, tetapi rasanya sangat berat. Seperti ada beban yang menghalanginya. Akhirnya cowok itu pun keluar dari sekolah lamanya dan pergi menuju ke Smaga.