Perpus

77 20 0
                                        

Perpustakaan pusat daerah lumayan ramai pengunjung. Kini Alvian sudah sampai di sana. Ia memilih duduk di pojok yang dekat dengan jendela. Sembari menunggu seseorang yang ia nantikan, cowok itu berniat memilih buku untuk ia baca.

 Sembari menunggu seseorang yang ia nantikan, cowok itu berniat memilih buku untuk ia baca

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Alvian!" Panggil seorang perempuan yang kini tengah berada di belakang cowok itu.

"Hei?" Jawab Alvian membalikkan badannya.

Benar saja, perempuan yang dinanti sudah tiba. Ia adalah sahabat lamanya Alvian. Mereka akan bertukar cerita sekaligus mengerjakan tugas bersama.

"Udah lama?" Tanya perempuan itu.

"Belum," Jawab Alvian seadanya.

Meskipun jarang bertemu, tetapi mereka tetap berusaha untuk mencairkan suasana. Adisa Dewi Putri merupakan sahabat Alvian sedari mereka duduk di bangku Sekolah Dasar. Namun mereka terpisah di bangku Sekolah Menengah Pertama karena Disa harus menuruti perintah orang tuanya. Sekarang mereka satu sekolah lagi di sekolah yang sama yaitu SMA Garuda.

"Lo udah sampe mana ngerjainnya?" Tanya Disa.

"Baru sampe nomor empat." Ucap Alvian, ia masih berkutat dengan pena dan buku catatannya.

"Nih, hasilnya 52,5." Alvian menunjukkan hasil perhitungannya ke hadapan Disa.

Soal yang menurutnya sedikit susah, tapi menyenangkan. Sebab Alvian sangat menyukai pelajaran hitung-hitungan. Seperti saat ini, mereka tengah mengerjakan tugas matematikanya.

"Al, lo udah ada pacar belum?" Iseng Disa, menanyakan suatu hal yang menurut Alvian kurang menarik.

"Kenapa lo tanya gitu?" Jawab Alvian membuat Disa mendengus sebal.

"Enggak papa, takutnya lo gay! hahahah.." Disa tertawa diakhir perkataan yang ia ucapkan.

"Mana ada! lo nggak inget dulu waktu SMP gue pernah pacaran sama cewek?" Ucap Alvian.

"Oh, cewek yang itu? Siapa ya namanya, lupa, partner olim nya lo kann?" Tanya Disa.

"Udahlah, lupain, sekarang udah enggak." Jawab Alvian, ia tidak ingin mengingat apapun yang telah terjadi waktu itu.

"Iya deh iya," Ucap Disa.

Tanpa disengaja seseorang ada yang menguping pembicaraan mereka. Orang itu bahkan memotret mereka yang sedang bercanda. Ia kembali memasukkan ponsel ke dalam sakunya, lalu meninggalkan tempat itu.

Ting!

"Ponsel lo tuh bunyi, ada pesan kah?" Disa melirik ponsel Alvian yang menyala. Cowok itu langsung mengambilnya.

"Yaelah, siapa sih? pacar lo? takut banget ketahuan," Cibir Disa.

"Bukan, gue engga punya pacar." Elak Alvian yang benar adanya.

"Bukan pacar, tapi cewek kan?" Tebak Disa, tepat sasaran.

"Hm." Jawab Alvian.

"Lo tuh ya, jangan suka kasih harapan ke cewek-cewek!" Disa berkata seolah menasehati cowok itu.

"Maksud lo?"

"Dikira gue engga tau? Kemarin gue denger berita kalau Yuna sakit hati gara-gara dikasih harapan sama lo,"

"Oh, gue engga merasa ngasih harapan ke siapapun. Gue cuma bersikap seperti biasa." Ucap Alvian.

"Emang salah kalau gue fast respon? nolongin dia waktu hampir kena copet? wajar kan?" Lanjut cowok itu.

"Y-ya wajar sih, tapi kan namanya juga cewek, diperhatiin dikit pasti ada yang baper, kecuali gue!" Jawab Disa.

"Dis, lo mau nggak jadi pacar gue?" Entah darimana cowok itu tiba-tiba menyatakan perasaannya.

"GILA." Disa tidak habis pikir pada sahabatnya itu.

"Gue udah punya pacar, sorry yeee." Jawab Disa. Gadis itu memang sudah punya pacar dari lama. Hanya saja ia tidak pernah menceritakannya pada Alvian.

Dengan santainya Alvian menjawab "Oh, padahal gue cuma ngetes doang lo baper apa enggak."

"NYEBELIN!" Disa mencubit perut Alvian sampai cowok itu merasa kesakitan.

"Iya-iya, maaf!" Ucap Alvian setelah menyadari perbuatannya.

🌷🌷🌷

Bersambung...

Perfect Crush (Revisi)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang