[DIHARAPKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA]
Siapa yang suka AU? sini mampir 😍☝️
Bukan sepenuhnya cerita, tapi ada AU nya jugaa!
Ceritanya bisa langsung dibaca aja yaa, tidak ada spoiler ><
Terima kasih readers kuu!!
Isa melepaskan sepatu yang ia kenakan dan menaruhnya di rak. Ia tidak bersemangat setelah melihat kejadian tadi pagi. Seolah termakan api cemburu, rasanya benar-benar menyebalkan!
Kali ini ia merebahkan dirinya di kasur. Tidak peduli dengan seragam yang masih melekat. Matanya perlahan terpejam sangking lelahnya.
Tanpa ia sadari, waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB. Isa membuka mata dan terkejut karena ia masih mengenakan seragam sekolahnya. Lantas gadis itu langsung bangkit menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Ya ampun Isa! kamu belum ganti dari tadi?!" Teriak bunda ketika ia melihat anaknya berjalan santai menuju kamar mandi.
"Hehe, belum Bun, Isa ketiduran." Cengir gadis itu meninggalkan bundanya yang masih tercengang.
"Mandinya pakai air hangat biar ngga masuk angin!" Teriak bunda yang terdengar oleh Isa.
"IYAA BUNDAAAKUU SAYAAAANGG!" Jawab Isa yang sudah berada di dalam kamar mandi itu.
Tidak berselang lama, ia pun selesai dengan aktivitasnya. Perempuan itu sudah terlihat segar dengan piyama motif micky mousenya. Ia kembali duduk dan membuka ponselnya.
Rasanya hari ini ada yang kurang kalau belum memberikan pesan pada crushnya. Isa pun mulai mengetikkan sesuatu di room chat Alvian.
Setelah beberapa saat ia menunggu, akhirnya mendapat balasan. Meski balasan yang cowok itu berikan tidak termasuk kriteria jawaban yang Isa inginkan. Gadis itu kembali mengetikkan pesan untuk membalasnya. Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya ia bertukar pesan pada Alvian.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gadis itu menghembuskan napasnya pelan setelah mengirimkan pesan pada Alvian. Ia tidak mendapat jawaban apapun. Membuat hatinya berdenyut bersama rasa sakit yang membuncah.
"Udahlah Isa, jangan berharap sama seseorang yang udah jelas-jelas ngga mau sama kamu." Ucap Isa menenangkan dirinya sendiri.
Terkadang logika dan perasaan saling bertolak belakang. Otaknya menyuruh untuk berhenti menyukai Alvian. Namun hatinya seolah menolak berhenti dari rasa suka itu.
"Huft, aku harus fokus belajar. Aku harus bisa mendapatkan nilai maksimal untuk menjadi bagian lulusan terbaik tahun ini." Ucapnya dengan penuh keyakinan. Setelah itu, ia pun memutuskan belajar dan memilih untuk melupakan kejadian tadi.
🌷🌷🌷
Di tempat lain, Alvian tengah mengerjakan latihan soal. Ia akan menempuh ujian akhir semester. Mulai besok hingga satu minggu ke depan.
Setelah beberapa soal selesai dikerjakan, ia pun memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kepalanya sangat pening. Ada banyak hal yang tengah ia pikirkan.
*Flashback On
"Kak Ian, aku mau bicara sebentar!" Perempuan yang tingginya hanya sebatas dada Alvian tengah berlari mengejarnya.
"Gue sibuk." Tolak Alvian.
"Tapi ini tentang Kak Isa!" Cegah Firda agar Alvian mau mendengarkan. Ya, perempuan itu adalah Firda. Mantan kekasihnya.
Mendengar nama Isa disebut, Alvian langsung memberhentikan langkahnya.
"Kak, aku mohon jangan sakiti Kak Isa. Dia baik, dia tulus suka sama Kakak, aku mohon jangan mempermainkan hatinya." Pinta sang mantan membuat Alvian sedikit tertegun.
"Lo tau darimana masalah ini?"
"Aku sama Kak Isa berteman dekat. Kita satu organisasi. Jadi aku pernah berbincang sama dia." Jawab perempuan itu.
Hatinya kalut. Apa yang harus ia lakukan? menyimpan dua perempuan dalam satu hati bukanlah sesuatu yang baik.
"Biarin itu jadi urusan gue, lo ngga usah ikut campur!" Final laki-laki itu. Kemudian melenggang begitu saja dari hadapan mantan kekasihnya.
*Flashback Off
"Arghh!" Teriaknya frustrasi.
Cowok berkaos navy itu bingung harus melakukan apa. Ia tidak mungkin menjadikan Isa sebagai pilihan kedua. Ia tidak ingin hal yang sama terulang kembali seperti saat ia bersama mantan kekasihnya.
*Flashback On
Saat Alvian menduduki bangku kelas sembilan, ia memiliki hubungan spesial dengan adik kelasnya. Mereka satu tim dalam olimpiade. Waktu itu, mereka merasa nyaman karena sering belajar bersama.
Tetapi saat beberapa minggu setelah Alvian hendak lulus, semuanya berubah. Cowok itu mengakhiri hubungan mereka. Ia berpikir bahwa selama ini terlalu jahat pada mantan kekasihnya.
"Sebenernya, selama ini gue cuma nganggap lo sebagai tempat ternyaman gue. Bukan seseorang yang gue cinta."
Deg!
Firda langsung meneteskan air matanya. Jadi selama ini mereka berpacaran hanya dirinya-lah yang jatuh cinta sendirian? Ini benar-benar menyakitkan.
Dulu, perasaan Alvian memang hanya untuk Disa. Sahabat perempuannya. Tetapi setelah bertemu dengan Firda, ia merasa nyaman. Akan tetapi hatinya belum juga menerima perempuan itu. Bisa dibilang, Firda hanya sebatas tempat nyaman untuknya.
"Sorry, gue tau gue salah. Gue ngga mau terus-terusan kaya gini. Semakin lama hubungan kita dipertahankan, semakin sakit."
"Hubungan kita hanyalah sebatas rasa nyaman, bukan saling mencintai." Final cowok itu.
Sebelum meninggalkan Firda, ia sempat memberikan sebuah lukisan abstrak berbentuk kura-kura.
"Jangan berlarut dalam kesedihan, nih semoga lo suka."
Setelah itu, Alvian pun pergi meninggalkan Firda. Hingga saat ini mereka tidak pernah berkomunikasi lagi. Mereka benar-benar asing seolah tidak pernah mengenal satu sama lain.
*Flashback Off
Perasaannya terhadap Disa belum sepenuhnya menghilang. Maka dari itu, ia lebih memilih menjaga jarak dari Isa.
Sebenarnya saat ia menembak Disa waktu di perpustakaan, itu adalah hal yang serius. Cowok itu tidak bercanda. Namun setelah mengetahui bahwa Disa telah memiliki pasangan, ia pun melanjutkan perkataannya sebagai sebuah candaan.
"Secepatnya gue harus menyelesaikan semua ini." Ucapnya dengan sungguh-sungguh.