Ep 13

1.6K 165 14
                                        

Jangan lupa tinggalkan jejak:)

Jangan lupa tinggalkan jejak:)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Benar kata kakek. Bahwa musuh yang akan ia hadapi bukan hanya Hana yang secara terang-terangan menyatakan peperangan, walaupun secara kenyataan Jungkooklah yang merebut Taehyung. Namun masih ada orang tuanya dan orang tua pihak Taehyung yang akan menjadi penghambat, Jungkook belum memperhitungkan musuh dari luar.

Putra dari keluarga terpandang itu menatap langit-langit kamar dengan menerawang akan rencana kedepannya. Apakah dirinya akan dengan cepat bertemu salah satu musuh yang agaknya sulit dihadapkan? Atau bertemu musuh yang bersekutu dengan musuh lainnya untuk mengalahkannya? Atau jangan-jangan dirinya malah bertemu musuh yang menjijikan dan berotak licik untuk bisa mengalahkannya?

Jungkook menggeleng kasar. Mengapa akhir-akhir ini imajinasinya terlalu liar, berbahaya. Jika dipikirkan lagi untuk apa Jungkook harus bersusah payah mendapatkan seorang duda yang sialnya tampan dan kaya seperti Taehyung? Bukankah di luaran sana masih banyak yang seperti itu? Jungkook merasa mengejar Taehyung bagaikan mempertaruhkan karirnya secara menyeluruh tanpa terkecuali.

Drrt.. drrt..

Dering ponsel Jungkook berbunyi memecah imajinasi liar Jungkook. Nama 'Calon' disertai tanda love diakhir mengatakan bahwa orang yang ia pikirkan sedari tadi menelponnya.

"Pas sekali. Apakah ini yang dinamakan jodoh?"

"Halo" sambungnya.

"Halo. Jungkook?"

Jungkook membersihkan kukunya dengan wajah malas yang dibuat-buat. "Apa?"

"Ehem.. jadi begini..."

"Apa?"

"Kau sudah tiba? Anakku merindukanmu. Mereka ingin pergi jalan-jalan bersama"

Mendengar kata jalan-jalan dari seberang membuat mata yang tadinya terlihat malas menjadi bulat dengan secercah cahaya kerlap kerlip di sekitaran matanya. Merubah posisinya yang semulanya duduk sembari bersedekap menjadi tengkurap dengan keantusiasan yang naik.

"Benarkah? Kemana? Siapa saja? Jangan coba-oba mengajak perempuan itu"

"Tentu saja. Anakku ingin berjalan-jalan kemanapun itu, kau boleh menentukan"

Jungkook berpikir dengan keras saat mendapatkan tawaran jalan-jalan. Ia pikir pergi ke aquarium raksasa di negeri ini cocok untuk dijadikan tempat berwisata sekaligus untuk beromantis ria.

"Oke. Jemput aku. Akan kukirim alamatnya. See you tomorrow!"

Jungkook menutup sambungannya duluan. Ia lebih ingin menikmati waktu berbunga-bunganya sendiri. Berteriak layaknya orang tidak waras dan tersenyum malu-malu sembari satu tangannya menyentuh dada.

Biarlah Jungkook merasa senang untuk sementara sebelum ia harus menerjang badai besar. Dengan begitu Jungkook bisa tertidur nyenyak untuk saat ini tanpa memikirkan apapun hanya aquarium, kencan, dan tawa bahagia yang ia bayangkan sekarang. Ya, biarkan saja seperti itu dulu.



*

Keesokan harinya, Jungkook sudah membangunkan dirinya lebih awal. Mandi diteruskan dengan memilah-milah baju yang pas digunakan. Untuk hari ini ia sedang tidak ingin memakai pakaian berwarna hitam, maka dari itu Jungkook berdiri di depan lemari yang memiliki perbedaan warna pintu. Lainnya bercorak hitam sedangkan lemari di depannya putih. Membuka benda tersebut dan terpampanglah pakaian berbagai warna miliknya yang jarang ia kenakan.

Karena mood hari ini Jungkook bagus sejak pagi tadi maka ia memutuskan menggunakan warna cerah yang jauh sekali dari pakaian biasanya. Mengambil satu persatu baju yang ada di lemari dan mencocokannya di depan cermin.

Satu persatu baju dicoba depan cermin. Sudah sangat lama Jungkook melakukan ini, kali terakhir ia mencoba setiap baju yang ada di lemari adalah disaat ia akan menemani Irene yang sedang berjalan-jalan santai melepas stress. Itupun Irene yang harus memaksa menggunakan pakaian berwarna. Katanya, "Pakai baju yang cerah. Aku tidak ingin waktu santaiku terganggu oleh pakaian melayat".

Pilihan terakhir jatuh pada baju kaos putih yang dipadukan kemeja baby blue. Sudah dipastikan maka Jungkook segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan yang telah dihuni oleh keluarganya.

Sang kakek yang membaca koran, ayah membaca berkas di ipadnya, sang kakak yang membantu ibu dan pelayan rumahnya menyiapkan makanan. Mereka menatap heran atas kedatangan Jungkook yang menggunakan warna cerah menyilaukan.

"Apa yang kau gunakan?" tanya sang kakak, menatapnya aneh lebih tepatnya dengki.

"Tentu saja baju. Apa lagi yang kau ekspetasikan?", mengambil tempat duduk disebelah kakaknya.

Mereka menyantap hidangan pagi dengan khidmat, sebelum sang kakek kembali mengomentari perihal pakaian yang digunakan hari ini.

"Mau kemana?"

"Pergi" jawab Jungkook seadanya.

Sang kakek menaikkan alisnya, "Kerja?"

Jungkook menggeleng sebelum kembali menjawab, "Tidak, berkencan. Sebentar lagi mereka datang"

Suara mesin mobil menyala memasuki pekarangan rumah mereka. Dan tak luput teriakan anak kecil yang memanggilnya 'mommy' terdengar. Rasanya sudah lama ia tidak mendengar panggilan itu.

"Suruh mereka masuk" pinta Jungkook, selepas membersihkan mulutnya dari sisa makanan.

"Aku akan pergi berkencan dengan Taehyung. Terimakasih makanannya!" Jungkook meninggalkan meja makan begitu saja.

Penasaran yang tinggi mengakibatkan kakak diikuti oleh ibu dan ayahnya serta kakek membuntuti mereka dari belakang. Melihat bagaimana Taehyung secara dekat dan anak-anaknya. Jungkook tidak memperdulikan itu, ia malah mengompori dengan ciuman yang diberikan di pipi sang duda.

"Hai. Rindu padaku?"

Taehyung yang mendapatkan serangan mendadak lantas terkejut dengan tingkah pemuda di depannya, sebelum ia melihat ke arah belakang dimana anggota keluarga dari pemuda di depannya memasang wajah serius dan penuh karisma.

"Ya, aku... maksudku anak-anakku merindukanmu" Taehyung tergagap dengan apa yang hampir saja ia katakan. Jungkook yang mendengar itu lantas terkekeh samar. Mengecup bibir Taehyung untuk terakhir kalinya sebelum menggandeng anak-anaknya keluar dari rumah.

Tak luput Jungkook menyuruh si kembar melambaikan tangan ke arah keluarganya, "Sampai jumpa kakek, nenek, bibi. Katakan" sembari menunjuk kearah keluarganya.

"Selamat tinggal kakek, nenek, bibi" ucap mereka riang dan keluar dari rumah itu dengan langkah ringan.

Tidak dengan Taehyung yang harus menunduk meminta maaf kepada keluarga Jungkook atas waktu mereka yang terganggu.

"Maaf mengganggu waktu kalian. Kami pamit lebih dulu"


Mereka saling tatap menatap setelah kepergian salah satu anggota keluarga mereka.

"Apakah Jungkook baru saja menciumnya?" tanya sang ibu

Perempuan muda yang ada disana langsung mengangkat handphonenya kehadapan wajah, "Apakah aku setua itu sampai dikatakan bibi?"

"Sial, Jungkook menyuruh mereka memanggilku kakek?"

Dan hanya tetua dirumah itu saja yang menatap kepergian Jungkook dengan helaan nafas berat.



To Be continued...


BOSS +taekookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang