jaykir 22

4.6K 59 1
                                        

penyesalan memang selalu datang diakhir,siapa sangka awal yang dianggap manis kini berujung miris.



4 Minggu berlalu setelah kejadian itu,Akira menyadari banyak perubahan pada dirinya, lebih jelasnya pada badannya yang kian hari kian menggemuk awalnya Akira tidak menghiraukan itu namun tamu bulanan tidak kunjung datang. Akira cemas ingin memberitahukan pada Jay tapi hubungan keduanya sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian itu, Akira semakin gusar dirinya ingin bercerita kesiapa? Sahabat nya yang kini berpacaran dengan sahabatnya pun sedang asik dengan hubungan percintaannya sendiri. Akira membuka internet jarinya mengetik pencarian "TANDA-TANDA HAMIL" entahlah hanya itu yg dipikirkan akira

sederet tanda-tanda itu ia pahami sampai Akira sadar akhir-akhir ini dirinya sering mual Tampa sebab,Akira diam memikirkan nasibnya kedepan

"kalo gue hamil,gimana" tanyanya pada diri sendiri
"apa Jay mau tanggung jawab,gue takut"

"gue belom siap tuhan"

Akira meneteskan air matanya termenung sejenak kemudian mengusapnya,berusaha berfikir positif dan melihat apakah itu benar atau tidak dan meyakinkan dirinya untuk bertanya pada sahabatnya.

Esoknya Akira bertemu Kinara.

"Kin,gue mau nanya" Akira duduk disambing Kinara,sahabatnya.

Kinara menatap Akira.

"apa"

" Orang biar tau dia hamil selain ke dokter tu ngapain" Kinara melongo setelah mendengar pertanyaannya sahabatnya itu.

"HAHHHHHH?!!!!!,lu ngapain nanya begitu kir"

Akira mendengus.

"Cuma nanya si"

"Seriusan la kenapa tiba-tiba nanya kekgtu"

"lagian gue nanya emang ga boleh"

"Pertanyaan Lo tu hal yang ga diwajarin bagi gue kirkir"

"Tinggal jawab apa susahnya si"

"dih gue lama-lama kesel sendiri nanya sama Lo" lanjut Akira malas" mending gue pergi "Akira bangkit hendak meninggalkan tempat itu namun tangannya langsung dipengang Kinara.

Menatap sahabatnya "tespek" ucap Kinara,Akira diam "yauda,gue mau balik dulu" Akira melepaskan tangan Kinara dan berlalu pergi

Kinara bangkit " klo ada apa-apa jangan lupa cerita ke gua kirrrr!!!!!" Teriak Kinara keras setelah sahabatnya itu pergi nampak jelas kepanikan diwajah Kinara melihat tingkah sang sahabat itu.

Ditempat lain Akira datang ke apotik dirinya bertanya pada salah satu penjaga disana,dengan lirih Akira ingin membeli "tespek"

setelah membelinya Akira membaca petujut yang ada dikemasan itu,menarik nafas gusar menguatkan dirinya apapun yang akan Akira  ketahui nanti. Setalah 10 menit Akira menunggu, akhirnya ia bisa mengetahui keadaan dirinya sekarang. jatungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dilihat hasil dari tespek itu menunjukkan garis dua,matanya terbelalak kaget,sedih dan hancur,Akira menutup mulutnya. tangis yang selama ini ia tahan akhirnya pecah "papaaaaaaa....." ucap Akira disela tangisannya.

Dirinya masih terisak,mencoba memberi tau ayah dari anak nya ini namun beberapa kali Akira menelfon selalu ditolak,tubuh Akira lemas ingin rasanya ia menemui haiden pelaku pembuatan anak ini, tapi ia tidak bisa kakinya benar-benar lemas untuk saat ini masi berbaring dilantai Akira tertidur.

Keesokan pagi nya,pukul 9:30  Akira bertamu kerumah haiden masi sama seperti awal pertama dia kesini. Melihat sosok yang ia cari sedang duduk diruang tengah Akira menghampiri nya

"Gue mau ngomong penting!" keras Akira,haiden menoleh kesumber suara,kaget.

"Sopan sedikit" celetuk haiden menaroh benda pipih miliknya

"Gue gamau basa-basi"

haiden bangun menghadap Akira pandangan mereka saling bertemu.

"gue hamil" Akira serius menatap mata didepannya,haiden?jelas dia sangat kaget menggigit bibir bawahnya berusaha menetralkan kepanikannya

"Ga mungkin" haiden menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
 

Akira merogoh tas nya mengambil bukti tes yang ia lakukan kemaren, melempar ke arah haiden "perbuatan Lo!"

Haiden mengambil tespek itu matanya jelas terlihat sangat panik "gue harus apa"memandang Akira

"Lo nanya harus apa????"

"Jay gue hami!!"lanjutnya

"Kita baru lulus kemaren" haiden menjambak rambutnya frustasi

"Gue gabisa kir" lanjutnya berlalu pergi.

Akira menitiskan air matanya lagi dan lagi, membayangkan apakah dirinya akan hancur seperti ibunya yang dicap ayahnya sendiri sebagai pelacur oleh orang yang menghamilinya?sakit sekali menerima kenyataan bahwa nasib dirinya akan sama seperti ibunya yang 18th lalu meninggalkan sendiri,menyaksikan pertengkaran kedua orang tua dan sekarang dirinya hancur.
apa yang tersisa dari hidupnya kini? Akira menatap lelaki yang membiarkan air matanya jatuh itu pergi, Tampa kata tanggung jawab haiden meninggalkan dirinya dirumahnya.


surprise 18+Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang