[My First Story 2022, Republish]
Jeon Jungkook, pria kaya raya terkenal kejam kepada semua orang yang memiliki masalah dengan dirinya.
Pria itu dengan sengaja menikahi seorang gadis miskin yang memiliki hati lembut bernama lalisa. Menikah hanya unt...
Paras yang cantik. Wajah lembut menambah kesempurnaan keanggunan nya. Rambut panjang dengan manik hazel yang menawan, double eyelid cukup tebal dengan pipi chubby yang menggemaskan. Wanita cantik itu, dia adalah lalisa yang sedang menyisir rambut nya di depan cermin memandang perawakan wajah cantik seorang gadis yang menyedihkan. Berupaya mati-matian untuk keluarga tanpa ada cela untuk berkhayal tentang kehidupan mewah.
Lalisa menarik nafas nya dalam-dalam membuang perlahan untuk menghadapi dunia yang tetap sama__kejam nya.
"Apa kau masih memiliki uang noona?" Suara ringan itu terdengar. Tidak seperti biasa, sang adik akan ceria untuk membangkitkan semangat sang kakak berangkat bekerja. Lalisa berbalik, menatap Bam sedang terpaku di depan pintu kamar nya.
"Uang? Untuk apa Bam?"
"Noona, obat ibu habis. Dan aku tidak punya uang untuk membelikan nya. Boleh kau yang belikan obat ibu lagi kali ini? Aku benar-benar belum bisa membantu mu Noona, aku minta maaf"
Seketika wajah lalisa yang tersenyum berubah menjadi raut wajah sendu kebingungan. Bagaimana tidak, dia bahkan harus berjalan kaki hari ini untuk sampai ke restauran karena tidak memiliki cukup uang untuk sekedar naik bis. kini adik nya bertanya akan uang di saat ia tidak memiliki nya.
"Hm, apakah ibu masih bisa minum obat hari ini?"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bisa noona, tapi tidak untuk besok" meragu bam mengatakan nya, serasa ia kini menjadi anak laki-laki pengganti sang ayah yang tidak berguna. Bukan nya melindungi ibu dan kakak perempuan nya, justru bam terus menyulitkan lalisa karena pekerjaan nya yang tak mendapat upah cukup untuk kebutuhan mereka.
"Kenapa wajah mu sedih sayang? tenang lah Bam, aku akan membawakan ibu obatnya malam ini. Jangan khawatir, okey? Aku pergi, bye" lalisa mengambil tas hitam sederhana yang ada di tempat tidur, mengacak pelan rambut sang adik dan berjalan keluar dari kamar hendak pergi berkerja lebih pagi, karena ia harus berjalan kaki hari ini.
"N-noona ... " Panggilan lembut dari adik nya.
"Yaa?"
"Maafkan aku, kau harus berjuang lebih keras untuk kami"
Lalisa melipat bibir nya ke dalam, ia pandang betapa menyedihkan wajah bam mengatakan kalimat itu pada nya. Ia mendekatkan diri nya pada pria yang sedang tertunduk lesu dan langsung memeluk adik satu-satunya itu.
"Kenapa kau berkata begitu? kalian keluarga ku. Aku akan melakukan apapun untuk kalian. Urus ibu terlebih dahulu sebelum kau pergi kerja okey? Aku pergi, i love you bam"
Dengan langkah yang berat seolah beban dunia sedang di pikul nya. Lalisa keluar dari rumah kecil yang mereka punya setelah mencium wajah sang ibu yang masih terlelap di kamar nya.
Pikiran wanita itu kacau tak karuan, seakan jiwa tidak ada bersama nya. seakan ia lenyap dalam lamunan dengan berbagai pertanyaan di pikiran "dari mana aku mendapat kan uang untuk obat ibu? Bahkan hutang ku pada paman Riko belum aku bayar, mana mungkin pemilik restauran itu mau meminjamkan aku uang lagi kali ini. Tapi ibu harus minum obat nya kan?