Lokasi sungai yang aku dan Irene tuju berada tidak jauh dari rumah, tapi karena langit mulai gelap aku dan Irene harus berhati-hati ketika melangkah di turunan menuju sungai.
"Huufft.. ilalang ini sangat panjang, aku jadi susah melangkah." Keluhku sembari menyingkirkan ilalang-ilalang nakal yang menghalangi tubuhku.
"Berhati-hatilah Jisoo, hari ini kita pulang terlambat, sekarang langit sudah semakin gelap." Ujar Irene.
Sejenak hening.. masing-masing dari kami hanya fokus dengan langkah kami agar tidak terpeleset saat menuruni turunan.
Bugh!
"Aakkh!"
"Jangan Tuan! Tolong jangan pukul suamiku lagi!" Teriak seorang wanita dari sebrang sungai.
Mendengar kegaduhan itu Irene langsung menarikku kebawah, kami terduduk dan bersembunyi pada rumpun ilalang yang menjulang disekitar kami.
"Sssttt.. jangan bersuara!" Bisik Irene padaku dengan tegas, refleks aku langsung menutup mulut dengan kedua tanganku.
Aku dan Irene memperhatikan 4 orang bertubuh kekar sedang menganiaya sepasang suami istri diseberang sungai sana.
"Ibu.. Ayah..?" Gumam Irene, aku menyipitkan mataku dan benar saja sepasang suami istri itu ternyata adalah orang tua kami.
"Kakak, kenapa mereka jahat pada Ayah dan Ibu?" Desisku, aku hendak beranjak menghampiri Ibu dan Ayah, tapi dengan cepat Irene mendekapku.
"Jisoo, tolong tenang dan diam, jika tidak.. bisa saja orang-orang jahat itu juga akan menyakiti kita." Suara Irene sedikit bergetar, aku tahu dia sedang ketakutan, rasa takut yang sama besarnya dengan apa yang aku rasakan saat ini.
"Jadi kapan kalian akan melunasi hutang-hutang kalian? Huh?!" Salah seorang pria bertopi koboi membentak orangtua kami, dia mencengkram rambut Ayah yang sudah tidak berdaya, sementara Ibu hanya meringkuk lemah karena dijaga oleh seorang pria bermuka garang.
Dengan susah payah Ayah merogoh saku celananya dan memberikan sejumlah uang pada pria bertopi itu.
"Hanya ini yang kami punya Tuan, kami tidak memiliki apa-apa lagi." Suara Ayah tercekat.
"Apa ini?!" Pekik lelaki jahat itu.
"Srakkk..!"
Dia melempar uang yang sudah ayah berikan padanya.
"Kalian jangan main-main dengan kami, Brengsek!!" Pria bertopi menghajar Ayah berkali-kali dengan keras hingga Ayah tersungkur ke tanah.
Sementara itu Irene dengan cepat menutup mataku menggunakan kedua tangannya, tapi sia-sia saja karena aku sudah melihat kejadian itu dengan jelas.
Ya Tuhan.. aku sangat takut, kami berdua mulai menangis tanpa suara..
"Ampuni kami Tuan, sungguh kami tidak memiliki apa-apa lagi, jika ada yang bisa kami lakukan untukmu, maka akan kami lakukan asal hutang kami bisa bisa lunas." Ujar Ayah.
"Huh? Apa kalian yakin akan melakukan apa saja untukku?" Tanya pria bertopi koboi itu.
"Asal hutang kami lunas, apapun akan kami lakukan Tuan, tolong ampuni kami." Ucap Ayah memelas.
"Hmmm.. baiklah jika itu maumu, mulai besok kalian berdua akan bekerja padaku Haha." Pria itu tertawa senang.
"A-apa yang harus kami lakukan Tuan?" Tanya Ayah dengan takut.
"Besok kalian akan bertanggung jawab mengantar barang ke kota, untuk rinciannya akan aku beritahu nanti ketika kalian datang ke tempatku." Ujar pria itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy in Love
Teen FictionIni bukan cerita tentang orang yang tergila-gila saat jatuh cinta, tapi ini tentang pasien rumah sakit jiwa yang saling jatuh cinta. Buat yang penasaran dengan ceritanya langsung baca saja yaa, kali aja suka soalnya ini adalah karya pertamaku dari h...
