Part. 3 #Kehilangan

162 29 0
                                        


"Jisoo bangun.. kita harus segera bersiap berangkat sekolah." Suara Irene membangunkanku.

Aku menggeliat dan meregangkan otot-ototku.

"Hmm.. sudah pagi yaa.." Gumamku.

Aku melihat Irene yang sudah berganti pakaian dan sedang bersiap-siap, aku memang selalu bangun terlambat, jika tidak dibangunkan mungkin tengah hari nanti aku baru bisa bangun.

Aku bergegas melipat dan merapihkan kasurku seperti biasa, lalu keluar menuju kamar mandi untuk sekedar menggosok gigi dan mencuci muka, jika musim dingin datang seperti saat ini kami tidak bisa berlama-lama menyentuh air.

Setelah selesai berdandan dan berganti pakaian, aku menghampiri kakek dan Irene yang sudah menungguku dimeja makan.

"Selamat pagi Jisoo." Sapa kakek.

"Selamat pagi Kek.." Sahutku.

"Kemarilah, Ibumu sudah membuatkan ubi rebus untuk kalian sarapan." Katanya lagi.

"Baik Kek." Jawabku patuh.

"Kakek dengar.. ubi-ubi ini kalian sendiri yang mencarinya ya?" Kakek mengambil satu buah ubi rebus lalu meletakannya ke dalam piringku.

"Itu benar Kek, kami mengambilnya dari dalam hutan." Aku berkata dengan bangga.

"Haha kalian anak-anak hebat, kalau begitu apakah boleh jika kapan-kapan Kakek ikut bersama kalian masuk ke dalam hutan?" Tanya Kakek.

"Memangnya kaki Kakek masih kuat untuk menanjak bukit?." Tanya Irene ditengah kunyahannya.

"Sebaiknya kalian tidak meremehkan kakek kalian ini, lihatlah sampai sekarang Kakek masih terlihat gagah kan?." Orangtua ini sangat percaya diri sekali, tapi celetukannya itu berhasil membuat kami tertawa.

"Huh.. kalian anak-anak yang cantik dan baik, sayang sekali kalian harus terlahir dari keluarga miskin ini, dulu.. Kakek sangat menentang hubungan Ibu dan Ayah kalian, karena Ayah kalian miskin, tapi sejauh ini dia berhasil membuktikan pada Kakek bahwa dia adalah lelaki yang bertanggung jawab, dia tidak pernah memilih-milih pekerjaan asalkan mendapatkan uang pasti akan dia kerjakan, mungkin saat ini dia sedang berlatih menjadi seorang petinju, lihat saja wajahnya semalam yang babak belur, entah pekerjaan apa yang membuat wajahnya menjadi seperti itu.." Kata kakek.

Kami hanya tertawa geli mengingat bentuk muka Ayah semalam, bahkan plester dan perban yang dia gunakan tidak bisa menutupi luka di wajahnya itu.

"Tidak ada yang perlu disesalkan Kek, kami senang terlahir dari keluarga ini, tidak perduli semiskin apa kami, asal kami selalu bersama dan berusaha melindungi satu sama lain, aku yakin tidak akan ada masalah yang berarti." Irene tersenyum manis, kakek tersenyum bangga mendengar jawaban Kakakku.

"Anak baik.." Gumam kakek.

"Baiklah Kek, kami akan berangkat sekarang." Ujar Irene, aku mengikutinya berdiri dan membungkuk memberi penghormatan pada kakek, setelah itu kami langsung bergegas pergi berangkat ke sekolah.

***

Singkat cerita.. Jam demi jam terus berlalu..

"Kriinngg.. Kriiinngg.. krriiinngg!!"

Bel tanda jam pulang sekolah berdering kencang, aku mangambil ransel dan segera keluar kelas menuju pohon besar samping gerbang sekolah, disanalah aku biasanya akan saling menunggu dengan Irene.

Aku mempercepat langkahku.. dari kejauhan aku lihat Irene sudah menungguku disana.

"Mari pulang!" Ajak Irene setelah aku berjarak dekat dengannya, aku berdengung dan mengiyakan ajakan pulangnya.

Crazy in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang