Chaeyoung POV.
Tanpa sadar aku ketiduran saat menangis, dan ketika aku membuka mata.. aku merasakan ada seseorang yang masih saja memelukku sejak awal aku menangis, ternyata Jisoo juga ikut tertidur ketika menemaniku menangis tadi.
"Haiihh.. anak ini apakah dia tidak tahu bahwa ranjang ini adalah type single, aku jadi susah bergerak.. hufft.." Keluhku.
Perlahan aku coba menggerakan badanku dan menggeser tangan Jisoo dari pinggulku.
"Owh, kamu sudah bangun?" Karena sentuhanku Jisoo pun jadi terbangun, aku lalu mengangguk pelan.
"Terimakasih.." Ucapku.
"Untuk?" Tanya Jisoo dengan suara serak khas bangun tidur, dia mengucek matanya agar lebih segar.
"Karena kamu.. sekarang aku tidak merasa sendirian lagi." Kataku.
"Eh? Apakah sekarang kita sudah bisa berteman?!." Tanyanya lagi dengan antusias, dia merubah badannya menjadi duduk.
"Hmm.. Kamu Senior disini, jadi aku rasa kamu berhutang penjelasan pada teman barumu ini kenapa kamu bisa mengatakan kalau aku dibuang oleh keluargaku." Ujarku seraya tersenyum tipis, aku mencoba ramah padanya.
Setelah berpikir cukup lama, sekarang aku sudah mengikhlaskan diriku, jika aku dibuang oleh keluargaku maka aku akan mencoba bertahan hidup disini, aku akan menerima segala kondisi yang ada.
Tidak ada gunanya memikirkan apa yang sudah terlanjur terjadi, cukup dua bulan ini aku memberontak pada keadaan, sudah saatnya aku pasarah dan menerima takdirku.
Jisoo adalah teman pertamaku disini, entah dia berbohong atau tidak mengenai kejiwaannya tapi aku belajar menganggap gadis ini normal, yaa aku putuskan untuk mempercayainya.
Jisoo tampak berpikir sejenak..
"Hmm.. Baiklah.. aku akan menceritakannya padamu, jadi....."
"Ceklek!"
Pintu kamar dibuka oleh dua orang perawat wanita, satu orang tetap berjaga dipintu masuk dan satu orang lagi berjalan kedalam dengan membawa dua buah kotak makan.
"Jichuuu.. waktunya makaaann.." Ujar si perawat seolah sedang bicara dengan seorang anak kecil.
"Kakak, kenapa kamu membawa makanan itu kemari? Aku tidak mau makan nasi kotak?! Malam ini aku mau makan bersama Raymond!." Ucap Jisoo kekanak-kanakan.
Wow!!
Aku sangat terkejut melihat tingkah Jisoo, sedetik yang lalu dia terlihat normal dan What the hell! Sekarang kenapa dia bertingkah aneh seperti itu lagi? Autisnya kembali..
Aku hanya bisa melongo melihat dia bergelayut manja dilengan perawat itu.
"Hari ini Jichu makan didalam kamar dulu yaa.. besok baru bisa makan dengan Raymond." Bujuk si perawat.
"Bukankah Jichu sudah jadi anak yang baik, Kakak bilang kalau jadi anak baik nanti Jichu boleh bertemu lagi sama Raymond? Jichu udah berjanji sama Raymond untuk mengunjunginya Kakak, pleasee.." Dia semakin bertingkah manja, bak seekor anak kucing Jisoo mengedip-ngedipkan matanya pada si perawat, Jisoo terlihat menggemaskan!
"Haha.. yak! kamu itu bukan anak kucing.. kamu tidak bisa menggodaku seperti itu, sudah tidak mempan lagi sekarang.." perawat itu terkekeh menimpali Jisoo.
"Kalau tidak mau menuruti Jichu, nanti Jichu aduin sama pacar Jichu loh.. huh!" Ucap Jisoo ngambek, dia melipat kedua tangannya dengan pipi yang menggembung bulat sempurna.
"Kamu ini sukanya main adu saja, huffttt.. iya baiklah kamu boleh bertemu dengan Raymond, tapi nanti jangan ngadu sama dokter Gong-Yoo oke? Kakak kan sudah baik sama kamu." Si perawat pun menyerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crazy in Love
Teen FictionIni bukan cerita tentang orang yang tergila-gila saat jatuh cinta, tapi ini tentang pasien rumah sakit jiwa yang saling jatuh cinta. Buat yang penasaran dengan ceritanya langsung baca saja yaa, kali aja suka soalnya ini adalah karya pertamaku dari h...
