Happy reading!
•
•Kini mauren sedang berbaring dikamarnya, setelah siang tadi ia diantar pulang oleh Liam dan Alenka. Ia menatap ponselnya lamat, melihat kalender yang tertera di smartphone nya menunjukan tanggal 20 Agustus 2023, 11 hari lagi adalah peringatan 10 tahun terbentuknya Garvist. Notifikasi grup whatsapp nya sejak tadi ramai dengan berbagai perencanaan pesta dari para anggota Gravist.
Tetapi Mauren tak terlalu fokus pada whatsapp-nya, selama perjalanan pulang tadi hingga sekarang ia masih terus terngiang akan bisikan Avisha sesaat sebelum ia masuk mobil.
"Kalo ada apapun yang terjadi sama kamu, hubungi kakak segera oke. Mau hal itu masuk akal atau gak, kakak tetap disisi kamu. Cukup katakan kode kita, kakak akan berdiri disampingmu"
"Ingat ya!"
Kata-kata itu, apa yang sebenarnya tersirat didalamnya. Mauren lelah jika harus bermain teka teki dengan Avisha. Jika dia disebut Jenius, maka Avisha mungkin sudah tahap hampir idiot saking jeniusnya, huh.
'Huh, kalo firasat kak Avis bukan kek dukun mana mau gue mikirin perkataannya, malesin bangett' batin mauren kesal.
Tok... Tok... Tok....
"Ren, makan malam" panggil Kenzo dari balik pintu
Mauren segera bangun dari tempat tidurnya, membuka pintu untuk bertemu kakak tampannya itu.
"Kak, gendong" ucap Mauren sambil mengangkat kedua tangannya, sungguh sekarang dia dalam mood mager dan manjanya. Lelah batin dia tuh mikirin kata-kata aneh dari Avisha.
"Hmm" Kenzo dengan senang hati menggendong adik bungsu kesayangannya ini.
Sesampainya mereka di meja makan, dapat Mauren lihat ada opa dan omanya yang juga sudah duduk di meja makan bersama keluarganya yang lain.
"Opa, oma, kapan sampe? Kenapa gak bilang sama Ren" sapa Mauren setelah didudukan Kenzo pada kursi sebelah mamanya
"Sore tadi sayang. Tadinya oma mau manggil kamu, tapi kata mama kamu baru pulang main siang tadi. Jadi oma biarin kamu istirahat dulu deh"
"Hump, padahal panggil aja loh oma, gapapa. Aku kan kangen juga sama oma cantikku ini"
"Udah sayang, kangenan nya pending dulu. Ayo sekarang kita mulai makan baru ngobrol lagi nanti" ucap Aruna sambil mengelus sayang rambut putrinya itu.
Mereka pun memulai makan malam dengan tenang.--------------------------
Kini Mauren, kedua kakaknya, mama dan oma nya berada di ruang keluarga. Ayah dan opa nya sedang pergi ke Ruang kerja untuk membahas beberapa hal penting. Oiya, untuk Aresta sendiri dia sedang honeymoon bersama istrinya, maklum pengantin baru."Hmm, ma. Ren mau ke mini market dulu ya, mau beli beberapa barang" ucap Ren yang diangguki oleh Aruna.
"Kakak temenin" sahut Sean dan Kenzo berbarengan
"Eh? Gak perlu kak. Gak jauh kok mini marketnya, gak perlu dianterin segala. Biar sama supir aja, lagian kakak juga pasti capek pulang kerja"
"Tapi by, " Sean ingin menyanggah, tetapi Mauren sudah lebih dulu memotong ucapannya
"Udah ih, kakak dirumah aja. Biar aku pergi sama pak Rifky aja, ntar Ren bawain oleh-oleh deh"
Sean dan Kenzo hanya bisa menghela napas, kalo sudah begini Mauren akan tetap pada pendiriannya.
"Oke, hati-hati ya" ucap Kenzo yang diangguki Mauren dengan senyumnya
Setelah perdebatan itu, Mauren segera pamit pergi menemui supirnya dan bergegas menuju mini market dekat kompleknya.
"Pak, tunggu sini aja ya. Saya masuk dulu" ucap mauren diangguki oleh rifky, supirnya.
Setelah keluar dari mobil, berjalan beberapa langkah menuju pintu market itu. Dapat Mauren rasakan sesuatu yang panas menembus dada kirinya, rasa sakit yang mendera membuat Mauren terduduk memegang dada kirinya dan terlihat darah segar mengalir membasahi tangannya.
Rifky yang melihat nona nya terduduk di tanah segera menghampiri dan terkejut mendapati nona nya sudah penuh dengan darah. Segera ia menggendong Mauren dengan hatihati menuju mobil, parkiran kala itu sepi, sehingga tak ada orang yang menyadari keadaan Mauren.
"N.. Non, ta.. tahan dulu y ya. Saya ak kan bawa non ke ru.. rumah sakit" ucap Rifky panik
Setelah menjalankan mobilnya, rifky segera menghubungi Tuannya melalui sambungan di mobil untuk memberitahukan keadaan Mauren dan memberitahu rumah sakit tujuannya.
Mauren yang kini duduk di kursi belakang hanya bisa diam sambil meringis. Sungguh, dalam setiap tarikan napasnya, Mauren merasakan rasa panas dan sakit seperti ribuan jarum menusuk jantungnya.
Mauren menunduk melihat hoodie putihnya sudah penuh dengan noda merah. Dapat Mauren dengar dari audio mobil amarah dari ayahnya di sebrang sana tersirat nada panik dan khawatir yang kentara, juga tangisan mama dan oma nya serta teriakan kakaknya seolah menjadi background. Ah, sudah berapa lama sejak dia membuat keluarganya itu panik hingga seperti ini.
Kata maaf selalu Mauren katakan dalam benak untuk keluarganya. Tak terasa air mata mengalir diiringi pandangannya yang mulai mengabur dan menghitam menandakan hilang kesadarannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, I'm Byan!
Teen FictionBagaimana jadinya Mauren yang dibesarkan dengan kasih sayang, diperlakukan layaknya ratu oleh sekitarnya malah harus bertransmigrasi kedalam tubuh seorang gadis bernama Amara Byanca, gadis yang diacuhkan oleh keluarganya. Sebenarnya, Mauren itu anak...