Happy reading!•
•
•Byan menatap punggung Cello yang duduk membelakanginya dan fokus memperhatikan pak Vento yang sedang mengajar Matematika di depan kelas. Anak itu selalu menyukai pelajaran yang penuh angka dan rumus itu, mirip seperti dirinya.
Cello adalah sepupu Mauren dari sebelah Ayah, bisa dibilang anak itu adalah sepupu paling kecil di keluarga Cleon. Pemuda itu berusia 16 tahun, memiliki tinggi 183 cm dengan tubuh atletis. Wajah tampan dengan kulit putih, hidung mancung, dan struktur rahang tegas membuatnya sangat populer dimanapun dia berada.
Cello itu sepupu yang paling manja dan cukup jahil dengan Mauren dulu, mungkin juga karena paling bungsu.
Sebenarnya Byan sedikit terkejut melihat sepupunya itu berada disini bersama kedua sahabatnya. Byan tau Jennie dan Helena berencana ikut sekolah kembali mengikuti dirinya, tapi Byan tak tau jika mereka akan membawa Cello juga. Karena setaunya Cello hanya datang untuk pesta Gravist, itu saja. Dan lagi, kenyataan mereka masuk sekolah hari ini diluar prediksinya. Ini begitu cepat.
Byan menghela napasnya, entah kenapa dia jadi sering menghela napas semenjak masuk ke tubuh ini. Rasanya perasaan malasnya meningkat berkali lipat, belum lagi banyak hal terus terjadi.
Byan mengalihkan perhatiannya kearah jam dinding yang tergantung di atas papan tulis, 20 menit lagi bel istirahat kedua akan berbunyi.
Setelah istirahat pertama yang mereka, seluruh teman kelasnya termasuk Eros dan Xaquile yang telah bergabung, habiskan untuk mengobrol bersama Cello, Jennie dan Helena. Jadi lah mereka sepakat untuk pergi bersama ke kantin saat istirahat kedua. Ini juga akan menjadi kali pertama Byan makan di kantin sekolahnya setelah beberapa hari sekolah disini.
Pak Vento terlihat telah menulis beberapa soal di papan tulis, kemudian guru itu mengetuk papan tulis dengan spidol ditangannya untuk meminta atensi para siswanya.
"Baik anak-anak, masih ada sekitar 15 menit sebelum bel istirahat berbunyi. Jika kalian bisa menyelesaikan soal di papan tulis, bapak akan memberi poin lebih pada nilai kalian dan kalian boleh keluar untuk istirahat lebih dulu. Semakin tinggi nomornya, semakin besar pula poin kalian" ucap pak Vento memberi penawaran menggiurkan bagi siswanya.
Bisa Byan lihat soal pertama dan kedua memiliki tingkat kesulitan yang rendah, mungkin itu tepat pada tingkat SMP? Untuk soal nomor tiga, empat dan lima, itu adalah materi yang baru saja diajarkan oleh guru itu tadi. Mungkin membutuhkan sedikit pemahaman lebih untuk soal nomor lima, tetapi pada dasarnya itu masih memakai rumus yang sama.
Beralih ke soal nomor enam, tujuh dan delapan. Soal itu memiliki tingkat kesulitan yang cukup, belum pernah pula di ajarkan oleh pak Vento sendiri. Mungkin itu adalah materi untuk semester depan atau untuk tingkat kelas 11? Entahlah. Nah dua soal terakhir, Byan pernah mendapatkan soal itu di tingkat universitas dulu, rasanya Byan bingung kenapa soal itu bisa ada di papan tulis. Ataukah standar pendidikan disini memang begitu tinggi hingga pelajaran lanjutan seperti itu masuk ke ranah sekolah?
Beberapa siswa menunjukan aksi protes mereka,
"Pak, yang bener aja. Soal nomor 6 sampe 10 bahkan belum di ajarin" ucap Kalla yang mendapat seruan setuju dari teman lainnya
"Iya, bahkan soal nomor 9, 10 itu udah tingkat universitas. Gue aja ngerjainnya butuh 20 menit an, mending nunggu bel istirahat itu mah" celetuk Elina

KAMU SEDANG MEMBACA
Hello, I'm Byan!
Teen FictionBagaimana jadinya Mauren yang dibesarkan dengan kasih sayang, diperlakukan layaknya ratu oleh sekitarnya malah harus bertransmigrasi kedalam tubuh seorang gadis bernama Amara Byanca, gadis yang diacuhkan oleh keluarganya. Sebenarnya, Mauren itu anak...