TUJUHBELAS

9 1 0
                                    

Yosi menghentakkan kakinya keras, berjalan terus menuju taman belakang sekolah. Karena disana tempatnya sepi dan jarang orang, Yosi butuh ketenangan. Dia merasa benar benar kesal karena Juna, dia berjanji akan mendiami kekasihnya itu. Ingat janji itu.

Hingga saat Yosi sampai dia langsung duduk di bawah pohon besar disana. Udara pagi yang sejuk membuat Yosi sedikit lebih tenang. Tidak memikirkan lagi pelajaran pertama, yang ia inginkan sekarang adalah ketenangan, tidak apa apa bolos sekali kali pikirnya.

Saat memejamkan matanya Yosi merasakan pipinya dicolek berkali kali, membuatnya kesal dan hendak memarahi orang yang berani beraninya mencolek pipi Yosi.

"Siapa sih?! Ganggu aja.." Yosi terdiam saat menyadari siapa yang mencolek pipinya.

Yosi berdecih lalu memalingkan wajahnya ke arah lain, yang penting tidak ke arah laki laki yang membuatnya kesal.

"Ck, jelek lo kalo marah, udah jangan marah lagi, yok kelas, nanti Bu Endah keburu masuk" Juna duduk di samping Yosi yang masih terus saja tidak ingin menatap dirinya.

"Yosi.." Juna mencoba memegang tangan Yosi tapi tangannya ditepis dengan kasar oleh Yosi. "Sayang.."

Yosi terdiam dan langsung menatap Juna seketika. Dia tidak salah dengar kan? Yosi mendengar Juna memanggil nya sayang? Apa tidak salah? Padahal dulu Juna yang sering menolak saat Yosi meminta dirinya memanggilnya dengan sebutan sayang.

"Jangan ngambek atuh.. nanti cantik nya ilang"

Yosi memalingkan wajahnya lagi, menyembunyikan pipinya yang memerah. Ia ingat janji nya yang akan mendiami Juna, jangan sampai dia mengingkari janjinya yang baru saja dia buat tadi. Tapi kenapa Juna sekarang malah terlihat imut?!

"Tenang Yosi, jangan terlihat lemah di hadapan buaya satu ini"

Yosi menyemangati dirinya sendiri dalam hati. Saat melihat ke arah Juna lagi, Yosi melihat laki laki itu memberikan tatapan lembut nya, dengan mata yang seperti berkaca kaca, bibir bawahnya yang sengaja di majukan membuat nya tidak tahan.

Yosi menghela nafasnya, kalah sudah dia jika Juna terus saja seperti ini. Pertahanan nya runtuh, dia lalu memukul bibir laki laki itu dan langsung memeluk Juna.

"Lo jangan gitu Jun, tau gue lemah sama yang imut imut"

Juna yang dipeluk Yosi langsung membalas pelukan sang kekasih. Tersenyum samar, Juna senang rencananya berhasil.

"Ya udah jangan marah lagi, tuh udah jam 8 lewat, kelas pasti udah mulai, gak mau ke kelas apa?" Juna sesekali mengusap puncak kepala Yosi dengan sayang.

"Enggak ah, sekali kali bolos gapapa, PR bisa nyusul, hehe.." Yosi mendongakkan kepalanya menatap Juna lalu tersenyum menunjukkan gigi nya.

"Dasar" Juna menyentil kening Yosi membuat Yosi mengaduh. "Belajar dari siapa kaya gitu hmm?"

"Dari siapa ya..? Hahaha.."

Tanpa mereka sadari ada orang yang melihat keduanya bermesraan. Dia membelalakkan matanya tak percaya, melihat 2 orang yang biasanya seperti anjing dan kucing itu menjadi akur bahkan berpelukan seperti itu.

Dengan langkah lebar orang itu menghampiri kedua nya dan langsung memanggil dengan nada tak sabaran.

"Yosi?! Juna?!"

Yosi dan Juna terkejut lalu menatap orang yang memergoki mereka.

"Jeffan.."

***

Haikal dan Rania terus saja menatap kursi Yosi dan Juna. Semenjak tadi mereka tidak kembali, bahkan Bu Endah sudah akan selesai mengajar, keduanya tidak ada tanda tanda akan datang.

LOVE IS YOU {SLOW UPDATE}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang