Alexis mendengus, merasa jengkel dengan permintaan Rea. Jika bukan karena merasa bersalah kepada perempuan itu, Alexis pasti sudah pulang dari tadi.
Bagaimana tidak? Perempuan ini, memaksa ingin mengambil motornya yang tadi sempat di titipkan Alexis di warung terdekat, saat hendak pergi ke rumah sakit. Rea ingin pulang dengan motornya. Hell! Apa dia tidak sadar kondisinya sangat buruk?
Alhasil dengan sedikit terpaksa Alexis menyetujuinya, dan meminta asisten keluarganya untuk mengantarkannya.
"Biaya Rumah sakitnya berapa?" Tanya Rea.
Alexis mencebik, "Nggak usah, sudah saya bayar."
"Ya udah gue ganti.." Rea meraih tasnya dan di cegah oleh Alexis.
"Anggap ini sebagai ucapan terimakasih, karena sudah menolong saya kemarin.." Alexis menatap Rea dengan sedikit memohon.
"Ok.."
"Saya keluar sebentar ya, kamu tunggu di sini dulu. Paling nggak kamu harus istirahat sebentar, kalau kamu nggak mau nginap." Tutur Alexis. Rea hanya mengangguk-angguk saja.
Alexis keluar dari ruang rawat Rea dan berjalan ke depan Rumah sakit. Dia tadi sempat memesan makanan. Dia yakin, perempuan itu belum makan apapun. Sama seperti dirinya.
Setelah selesai membayar, perempuan itu kembali memasuki ruangan Rea.
"Makan dulu.."
"Gue nggak laper.."
"Kalau kamu nggak mau makan, saya nggak akan nganter kamu pulang."
"Gue bisa balik sendiri!"
"Dengan kondisi seperti ini?!" Alexis melotot, geram.
Rea menghela nafas lelah. "Fine! Gue makan."
Alexis langsung berubah tersenyum menang. "Gadis manis.." ucapnya, seraya menampilkan wajah gemas.
Mendengar itu, entah kenapa hati Rea sedikit bergetar. Tanpa sadar Rea menundukkan pandangannya dan tersenyum kecil.
"Hm.. pipi kamu merah.. suhu badan kamu naik?" Tangan Alexis terangkat menyentuh dahi Rea.
Rea diam mematung, merasakan kelembutan tangan yang menyentuh dahinya. "Gue nggak papa.." dengan pelan di tepisnya tangan Alexis.
Jantung Rea berdetak tidak karuan di dalam dadanya. Kenapa Alexis menggoda Rea dengan kata-katanya?
Rea makan dalam diam, sementara Alexis sibuk dengan ponselnya. Setelah Rea selesai makan, Alexis menyodorkan ponselnya dengan tersenyum "Boleh minta nomor telepon?"
"Buat Apa?"
Alexis menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit gelisah.
"Mungkin kita bisa berteman.." lirih Alexis.
Rea terdiam sesaat. Lalu mengambil ponsel Alexis. "Nggak Semudah itu buat jadi temen gue.." namun Rea tetap memberikan nomor Teleponnya kepada Alexis. "Karena Lo udah baik sama gue.. nih gue kasih."
Alexis tersenyum tipis. "Kalau kamu tahu, siapa saya.. mungkin, kamu nggak akan berbicara seperti itu."
"Gue tahu kok, Lo itu siapa.. dan apa aja, yang udah terjadi sama Lo.." jawab Rea sambil menyeringai.
Alexis menatap Rea dengan pandangan takut. "Apa yang kamu tahu?"
"Bramadi." Rea tersenyum mengejek. "Itu yang Lo bangga-banggain kan?"
Alexis menghela nafas lega. Dia pikir Rea sudah tahu tentang kebenaran dirinya.
"Kamu nggak bangga? Bisa berteman sama saya?" Tanya Alexis lagi. Kali ini, dia seperti besar kepala.
KAMU SEDANG MEMBACA
TUAN NONA (Hug My Heart)
RandomKisah Rea Si cewek tomboy dan Alexis Si Lady Boy
