15. Pergi Berdua

57 9 2
                                        

"Gue balik dulu San.. Gus.." Ucap Vani. Rea yang berjalan di belakang Vani pun ikut pamit pulang.

"Ye! Hati-hati.." jawab Sandi. Sementara Bagus hanya bergumam dan mengangguk-anggukkan kepalanya.

Di depan pintu Vani bertanya kepada Rea, "Lo beneran nggak papa nunggu Bang Arfan di sini?"

Rea mengangguk. Membuat Vani, menghela nafasnya. "Ya Udah, Hati- hati ya.. gue balik duluan. Soalnya ada acara sama bokap yang nggak bisa di tinggal hari ini." Kata Vani. Sebenarnya Vani tidak tega membiarkan Rea sendirian menunggu jemputan Arfan. Tapi mau bagaimana lagi, dia sedang di tunggu oleh keluarganya, jadi Vani harus cepat pulang.

"Lo juga ati-ati.." kata Rea.

Setelah kepergian Vani, Rea putuskan untuk duduk di kursi depan cafe sambil menunggu abangnya. Beberapa hari ini, Arfan memang memaksa Rea untuk diantar-jemput saja. Karena Arfan masih khawatir dengan keadaan Rea. Jelas Rea tidak akan bisa menolak permohonan Abangnya itu.

Di sisi lain, Alexis yang masih berada di sana, menyempatkan diri menghampiri Rea.

"Belum pulang?"

Pertanyaan itu mengagetkan Rea, dari lamunannya. Rea mendongak dan mendapati Perempuan cantik itu lagi.

Dalam hati Rea mengutuk dirinya sendiri, yang merasa deg-degan. Dasar jantungnya! Kurang Ajar!

"Nona, lo punya mata kan?" Tanya Rea, sedikit Sarkas. Menjelaskan bahwa jika dia masih di sini itu artinya dia belum pulang. Lantas bukannya tersinggung Alexis malah tertawa.

"Kenapa terus memanggil saya, Nona. Panggil saja nama Saya. Alexis." Pinta Alexis. "Atau Ale.." lanjut Alexis.

"Nggak tahu, lo lebih tua kan.. sopan dikit nggak ada salahnya." Rea mengangkat bahu lalu mengambil ponselnya dan mulai sibuk menulis pesan kepada Arfan. Dan Arfan langsung menelpon Rea. Semua itu tidak luput dari pandangan Alexis.

"Halo Re? Maaf Ya.. abang agak telat jemput kamu. Ini bengkel lagi Rame." Kata Arfan, dengan meminta maaf.

Rea tersenyum, "Alhamdulillah dong Bang.. ya udah Rea pesen Ojol aja ngak apa-apa.. abang nggak usah khawatir." Ucap Rea.

"Maaf ya Re.."

"Iya Bang, ya udah ya.."

Setelah itu panggilan terputus. Rea mulai membuka aplikasi Ojol. Namun gerakannya terhenti saat Alexis mengajaknya pergi. "Rea, hari ini kamu mau pergi jalan-jalan nggak sama saya?"

Rea menatap Alexis tajam. Yang di tatap malah gelagapan. "Maksud saya, kita kan sudah berteman, nggak ada salahnya kan? Dan lagi, bukannya kakak kamu nggak bisa menjemput kamu?" Alexis menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Dia sedikit salah tingkah dengan tatapan Rea.

"Kemana?" Tanya Rea. Jelas saja Alexis melompat kegirangan, dia menarik tangan Rea dan mengajaknya pergi ke mobilnya.

"Ayo!" Ucap Alexis semangat.

"Gue aja, belum bilang iya anjir.." kata Rea.

Alexis tersenyum, "Kamu bertanya seperti itu, berarti kamu setuju." Rea hanya pasrah saja. Ini pertama kalinya dia pergi berdua saja dengan seseorang perempuan, selain Vani dan indira. Tentunya karena mereka berdua adalah sahabat Rea.

Di dalam mobil, Rea berusaha mengatur nafasnya. Dadanya terus berdetak, dan perutnya merasa mual.

Alexis yang menyadari keresahan Rea pun mulai bertanya. "Rea, kamu kenapa?"

"Gue mual. Nggak tahan sama bau mobil lo.. Sorry." Ucap Rea. Alexis sedikit melongo, namun dia ingat satu hal. Rea sedang hamil dan dia mungkin akan sangat sensitif dengan beberapa hal. Bagaimana Alexis tahu? Jelas saja karena Alexis sudah mencari tahu semuanya. Dia diam-diam mempelajari semua hal apa saja yang akan terjadi, dan apa saja yang di butuhkan oleh seorang ibu hamil. Alexis sangat serius hingga membeli buku-buku dan membaca dari internet tentang panduan ibu hamil.

TUAN NONA (Hug My Heart)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang