Happy Reading
.
.
.
.
Raga lemas yang jiwanya seperti sudah melayang entah kemana tersebut masih terduduk dengan kedua tangan yang memeluk lututnya. Tatapan mata yang kosong menyiratkan jelas betapa terpukulnya sosok tersebut.
Mengapa takdir tidak pernah puas untuk mempermainkan hidupnya? Bahkan sejak usianya lima tahun, ayah dan kakaknya sudah meninggalkan dirinya bersama sang ibu yang tengah sakit keras hingga pada akhirnya sang ibu menyerah dan turut meninggalkan dirinya seorang diri.
Bukankah takdir terlalu kejam padanya? Membiarkan anak lima tahun bertahan hidup seorang diri tanpa ada siapapun yang berada disisinya.
Ayah dan Seokjin memang kembali. Setelah usianya sepuluh tahun, mereka datang menjemput Jimin kecil yang saat itu berada di panti asuhan. Namun sudah terlalu terlambat, hati si kecil sudah tertutup untuk keduanya.
Jimin tidak memperdulikan hal-hal di sekitarnya sejak saat itu. Tidak pernah memiliki teman dan hanya berbicara seperlunya. Jimin tidak pernah sekalipun berbicara kepada Seokjin ataupun menanggapi ucapan kakaknya tersebut. Seokjin seakan tidak terlihat dimata Jimin. Bahkan setelah sang ayah tiada tiga tahun setelahnya, hubungan kakak beradik tersebut semakin dingin layaknya orang asing yang tidak mengenal dan tidak ingin mengetahui urusan satu sama lain.
Sejauh ini anak tersebut hanya menyibukkan diri untuk belajar dan mengajar mimpinya untuk menjadi seorang atlet.
Hingga sebuah kenyataan memuakkan kembali diterimanya. Sebuah vonis dari dokter yang menyatakan bahwa dirinya mengidap leukemia. Penyakit yang sama yang dulu merenggut nyawa ibunya.
Siapa yang tahu, Jimin yang saat itu hanya tersenyum dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja hingga membuat sang dokter kebingungan karena respon anak tersebut. Nyatanya sejak hari itu, Jimin benar-benar putus asa dan berharap bahwa tuhan akan segera mengambil nyawanya.
Seakan tidak terjadi apa-apa, Jimin tetap menjalani hidup seperti biasa. Sekolah, belajar, dan sesekali datang ke rumah sakit untuk memeriksakan kesehatannya.
Hingga kehidupannya berubah setelah kehadiran Kim Taehyung yang menawarkan diri untuk menjadi temanya.
Entah apa yang saat itu di lakukan oleh remaja Kim tersebut, namun Taehyung berhasil merobohkan tembok besar yang Jimin bangun selama bertahun-tahun. Taehyung berhasil merubah segalanya yang ada pada sosok Park Jimin bahkan berhasil membuat Jimin membuka topengnya, memperlihatkan sosok Jimin yang sesungguhnya hanya kepada Kim Taehyung.
Jimin akhirnya dapat melihat kembali warna warni didalam hidupnya semenjak kehadiran Taehyung. Dan ditambah lagi dengan bocah kelinci menggemaskan yang kala itu juga menjadi dekat dengan mereka sejak anak kelinci itu di selamatkan oleh Taehyung dari para pembully.
Lagi, sosok Kim Taehyung lah yang berperan penting atas segala hal yang telah Jimin lalui sejauh ini. Jimin sangat menyayangi Taehyun, begitu pula sebaliknya. Hubungan persahabatan mereka melebihi ikatan saudara.
Taehyung selalu ada untuknya, selalu berada disisinya. Bahkan kejadian ini bukan pertama kalinya Taehyung menjadikan tameng untuk dirinya hingga membuat Taehyung sendiri yang terluka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Distance
FanfictionMenjadi yatim piatu serta ditinggalkan oleh sang kakak sejak dirinya masih kecil, membuat rasa benci tumbuh hingga dirinya menginjak remaja. Meski sang kakak selalu mengalah dan berusaha mendekati kembali dengan sabar, namun luka dimasa lalu tidak d...
