Distance 20

293 18 4
                                        


.

.

.

.

.

"Berhenti mengikutiku!"

Jungkook menulikan telinganya mendengar kalimat yang entah sudah kali keberapa terucap dari mulut Jimin. Sejak pulang sekolah, kemudian berkunjung ke rumah Jimin, hingga sekarang Jimin melakukan cek up rutin di rumah sakit, Jungkook terus saja mengekor mengikuti kemanapun Jimin pergi.

"Jungkook-ah!" Jimin menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap tajam Jungkook yang berada di belakangnya.

"Hentikan! Oke?"

Jungkook hanya membalas dengan gelengan kecil membuat Jimin menghembuskan nafas frustasi.

"Kau seperti anak ayam, kau tahu?"

"Jimin hyung?"

"Apa!"

Jimin kembali berjalan perlahan, dan kali ini Jungkook turut berjalan sebelahnya.

"Aku di beri tugas untuk selalu menjagamu. Lagi pula mereka memberiku upah."

Langkah Jimin kembali berhenti, mata sabitnya membelalak terkejut mendengar apa yang dikatakan Jungkook.

"Mereka?"

Jungkook mengangguk, "Iya. Seokjin hyung, Yoongi hyung, Seina Noona, kadang-kadang juga Taehyung mentraktirku setelah aku bercerita apa saja yang kau lakukan hari ini." Tutur Jungkook panjang lebar.

"Seina Juga?"

"Iya!"

"Waahhhh jadi selama ini kau memanfaatkanku? Aku tidak menyangka." Jimin menggeleng dengan ekspresi sedikit mendramatisir. Tentunya itu semua hanya gurauan saja. Sedangkan Jungkook hanya tersenyum lebar memperlihatkan gigi kelincinya.

"Lagi pula hyung, mau sampai kapan?"

"Apanya?"

Jimin bertanya seolah dirinya tidak paham apa yang ingin Jungkook katakan. Padahal sejujurnya, Jimin paham betul maksud atas tanya yang terucap dari bibir temannya tersebut.

"Sudah hampir dua minggu. Kau tidak rindu Taehyung? Kau tau hyung, aku hampir muak tiap pagi selalu mendengar pertanyaan yang sama. Padahal kan Taehyung bisa tanya pada Seokjin hyung."

"Aku bahkan tidak pernah melihat Jin hyung." Jimin terkekeh hambar, lalu menunduk memandang kakinya yang kini memakai sepatu berwarna putih.

Sejak hari dimana Jimin memohon agar supaya Seokjin tidak perlu lagi memperdulikan dirinya, Seokjin benar-benar menjauh, memberikan ruang untuk Jimin berdamai pada kenyataan, serta takdirnya sendiri. Jimin tidak pernah lagi melihat Seokjin sejak saat itu, bahkan sekedar berpapasan di rumah sakit pun tidak pernah sekalipun.

"Hyung, maafkan aku sebelumnya. Tapi kau egois. Kau bukanya mencoba berdamai dengan segala kenyataan yang selama ini terjadi padamu, tapi kau justru malah semakin mengikat semuanya didalam kepalamu. Kau berfikir bahwa mereka seharusnya membenci dan menjauh darimu karena kau merasa segala apa yang terjadi itu semua akibat dari kesalahanmu. Mereka terus berusaha denganmu, tapi kau yang terus menyangkal dan semakin menutup dirimu. Hyung, apa kau sadar itu malah semakin membuat hatimu sakit?"

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 27, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Distance Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang