Distance 10

1.1K 83 37
                                        

Entah apa yang terjadi pada Jimin pagi ini. Karna tidak biasanya anak itu duduk manis di depan meja makan menunggu sang kakak yang kini sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.

Seokjin sendiri pun begitu terkejut mendapati Jimin pukul setengah lima pagi berjalan menghampiri dirinya di dapur. Jimin yang masih terlihat sangat mengantuk tiba-tiba mengeluh kelaparan dan meminta sang kakak memasak apapun untuknya.

Tidak ada tatapan dingin ataupun kosa kata menusuk yang biasanya keluar dari bibir remaja tersebut. Seokjin seperti melihat Jimin saat anak itu berusia tiga tahun, Jimin kecil yang manja yang selalu mengeluhkan apapun padanya.

Kini kakak adik tersebut tengah duduk berhadapan dalam diam. Jimin sibuk menikmati sarapannya, begitu pula Seokjin. Terkadang yang tertua melirik sekilas adiknya, berusaha melihat ekspresi apa yang sedang ditunjukan sang adik meski Jimin tidak menunjukan ekspresi apapun. Dalam hati kecilnya Seokjin bersorak girang bukan main, karena setelah sekian tahun lamanya akhirnya Seokjin merasakan kembali makan bersama adik kecilnya.

Yang tanpa Seokjin ketahui bahwa Jimin pun kini tengah merasakan hal yang sama. Semalam, remaja tersebut berfikir keras untuk benar-benar membuka hatinya kepada sang kakak. Dan setelah bergulat dengan egonya semalaman, akhirnya Jimin memulainya pagi ini.

Dengan sedikit menghilangkan rasa gengsinya yang telah menganak gunung selama bertahun-tahun, anak itu mengeluh lapar dipagi buta dan meminta makan kepada sang kakak yang memang saat itu tengah meminum air di dapur.

Seokjin memandang lekat wajah sang adik yang kini terlihat tengah menikmati sarapannya sambil asik bertukar pesan dengan entah siapa. Jimin terlihat pucat. Mungkin karena anak itu baru saja keluar dari rumah sakit atau memang karena penyakitnya sehingga Jimin selalu terlihat pucat.

Seokjin sebenarnya ingin melarang Jimin untuk ke sekolah, setidaknya untuk satu hari ini. Namun Seokjin tidak ingin merusak suasana hati adiknya. Mendengar Jimin menyapa dirinya pagi ini dan menikmati sarapan bersama, sudah membuat Seokjin teramat bahagia. Dia tidak ingin merusak semuanya hanya karena melarang adiknya tersebut melakukan aktifitas seperti hari-hari biasanya.

"Aku selesai. Terima kasih untuk makanannya."

Seokjin reflek berdiri dari duduknya, melihat Jimin yang sudah beranjak hendak menuju tangga yang akan membawa menuju kamar miliknya.

"Jimin,"

Jimin menghentikan langkahnya tanpa berbalik menghadap Seokjin.

"Ingin hyung antar ke sekolah? Sekalian hyung ke rumah sakit."

"Tidak!" Jimin menjawab dengan cepat dan tanpa sengaja meninggikan suaranya. Bahkan hingga membuat Seokjin berjingkat kecil karena terkejut.

Sedetik kemudian Jimin menggaruk tengkuknya sedikit bingung saat sadar apa yang baru saja terjadi.

"Besok. Hari ini Taehyung akan menjemputku. Antar aku besok."

Jimin berlalu begitu saja. Berlari menaiki anak tangga menuju ke kamarnya setelah berkata demikian kepada Seokjin. Membuat kakaknya tersebut mengukir senyum melihat Jimin yang salah tingkah. Jimin sepertinya benar-benar ingin memperbaiki hubungan mereka.

"Perhatikan langkahmu Jim! Jangan berlari!"

______🥀______

Jimin menatap sendu motor merah kesayangannya. Berkali-kali motor tersebut bahkan diusap-usap seakan dia tengah memberikan salam perpisahan untuk anjing kesayangan.

"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini. Semoga kau akan segera bertemu pemilik yang lebih baik dari aku. Terima kasih banyak untuk hari-hari yang menyenangkan."

Distance Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang