Distance 19

403 36 4
                                        

Seumur hidup Yoongi tidak akan pernah lupa, bagaimana laki-laki tersebut selalu menghadiahi pukulan serta tendangan pada tubuh sang ibu kala itu. Meski Yoongi dulu tidak begitu paham masalah apa yang terjadi di antara ke dua orang tuanya, tapi melihat sang ayah yang dahulu selalu pulang dalam keadaan mabuk dan terkadang membawa serta seorang wanita, cukup membuat Yoongi mengerti bahwa ayahnya bukan orang baik.

Keluarga Yoongi, memang bukan dari keluarga terpandang. Sang ibu hanya bekerja sebagai karyawan di sebuah toko roti yang gajinya hanya cukup untuk menghidupi kebutuhan mereka sehari-hari. Sedangkan sang ayah, jarang sekali pulang. Ayahnya akan pulang dua minggu sekali. Namun sang kepala keluarga pulang bukan untuk melepas rindu bersama istri dan ke dua putranya. Justru saat laki-laki tersebut kembali ke rumah, pukulan serta kata-kata kasar yang di dapati oleh sang ibu.

Hingga puncaknya kala itu, malam hari saat Yoongi kembali dari pekerjaan paruh waktunya, Yoongi melihat sang ibu tengah menangis sembari bersimpuh dibawah kaki lelaki yang sampai matipun Yoongi tidak akan sudi menganggapnya sebagai ayah. Disamping lelaki tersebut, Yoongi melihat seorang wanita yang sedang bergelayut mesra sabil menatap remeh pada ibunya.

"Aku mohon, jangan usir kami. Setidaknya tolong beri waktu untuk kami mencari tempat tinggal baru."

Seakan buta dan tuli, Shin Seojun malah kembali memberikan makian kepada wanita yang bahkan masih berstatus sebagai istri sah nya itu. Jemari Yoongi mengepal erat, disana Yoongi hanya terdiam dengan perasaan pilunya. Yoongi yang kala itu masih berusia lima belas tahun sadar bahwa dirinya tidak dapat membantu apapun. Sang ibu selalu berpesan padanya untuk jangan kembali kerumah saat ayah mereka pulang, karena bila ayah melihat Yoongi maka anak tersebutlah yang akan menjadi samsak.

Namun tidak untuk kali ini. Melihat lelaki tersebut membawa wanita lain dihadapan sang ibu, sudah cukup membuat Yoongi murka. Dengan langkah tegasnya, Yoongi berjalan mendekat. Hingga saat langkahnya tiba disana, tanpa ragu lagi Yoongi menghadiahi sebuah pukulan pada rahang lelaki tersebut hingga cukup membuatnya terhuyung.

"Anak tidak tahu diri!" Shin Seojun bangkit sembari menyeka darah pada ujung bibirnya.

"Pukulan itu tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan selama ini pada ibuku." Ucap Yoongi dingin.

"Kurang ajar!"

'Bugh!'

Seojun balas memukul Yoongi. Bahkan hingga Yoongi tersungkur, lelaki tersebut terus saja memberikan tendangan pada tubuh kecil Yoongi tanpa ampun.

"Cukup! Hentikan! Hentikan aku mohon! Baiklah aku akan pergi sekarang juga. Berhenti memukuli anakku!"

Setelah Seojun berhenti menendang tubuhnya, Yoongi melihat sang ibu berlari masuk kedalam. Dan tidak lama kemudian, beliau kembali dengan dua buah tas besar sembari menggendong Jungkook kecil yang kala itu masih belum genap berusia dua tahun.

"Ayo nak, kita pergi dari sini."

Yoongi mengangkat kepalanya, menatap tajam sang ayah yang kini sama-sama juga tengah menatap tajam padanya.

"Suatu hari nanti bila takdir mempertemukan kita lagi, anggaplah kita tidak pernah mengenal satu sama lain. Semoga bahagia selalu, ayah."

Ucapan terakhir Yoongi, sebelum dirinya bersama ibu serta adiknya beranjak meninggalkan kediaman yang mereka tempati selama ini.

***

"Sudah cukup! Berhenti!" Seokjin merebut gelas dari tangan Yoongi, saat pemuda itu hendak kembali menenggak minuman beralkohol yang Seokjin tahu kadarnya tidak sedikit.

"Jangan khawatir. Aku tidak akan pingsan. Ingat, toleransi alkoholku tinggi."

"Tetap saja kau ini dokter. Kau punya jadwal operasi besok jam sembilan pagi."

Distance Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang