Distance 18

348 21 3
                                        

.

.

.

.

.

Happy reading

Sejak membuka mata satu jam yang lalu, Jimin tidak beranjak sama sekali dari tempat tidurnya. Anak itu hanya duduk sembari memandang matahari yang perlahan-lahan mulai bergerak naik. Ada sebuah perasaan kosong yang dirasakannya sejak dia terbangun. Biasanya di saat seperti ini, akan ada Seokjin disampingnya atau Taehyung yang sedang tertidur meringkuk diatas sofa. Tapi kali ini tidak ada siapapun. Jimin sendiri, benar-benar sendiri.

Ingatan Jimin tiba-tiba kembali berputar pada kejadian tadi malam. Diambang sisa kesadarannya, Jimin masih bisa melihat dan mendengar apa yang Kim Hyeri katakan padanya malam tadi. Meski terlihat samar, namun Jimin dapat melihat wanita paruh baya tersebut berlutut di hadapannya, serta mengusap bahu dan surainya sembari mengucapkan permintaan maaf.

Dadanya sesak mengingat bagaimana ibu dari kakak serta sahabatnya tersebut, berlutut dan memohon maaf padanya. Disini, Kim Hyeri lah yang menanggung banyak beban akibat hubungan gelap orang tuanya. Dan Jimin merasa memang dirinya pantas diperlakukan demikian oleh wanita tersebut. Tapi mengapa justru kini Kim Hyeri yang merasa bersalah dan meminta maaf padanya?

Meskipun atas dasar kasihan karena melihat keadaan dirinya sekarang, Kim Hyeri tidak harus mengorbankan perasaanya. Jimin pantas di benci. Dia adalah anak haram yang lahir dari sebuah kesalahan yang menyebabkan hidup wanita tersebut menderita.

Jimin meringkuk sembari memeluk kedua kakinya, kemudian membenamkan kepalanya diantara lutut. Luka pada telapak kakinya sudah tidak terlalu sakit. Atau mungkin ada rasa sakit lain yang lebih dominan pada bagian tubuhnya yang lain, luka yang tidak terlihat dan hanya dirinya sendiri yang tahu seperi apa rasa sakit tersebut.

Bahkan suara pintu yang terbuka, hingga langkah kaki seseorang yang kini berjalan mendekat kepadanya pun tidak membuatnya terusik. Jimin tetap pada posisinya.

"Pagi Jim."

Sapa seseorang yang sangat Jimin kenal, Jung Seina.

"Baru bangun ya? Maaf baru sempat menjengukmu."

Seina mengusap lembut kepala Jimin. Senyum kecut terbit dari bibirnya kala dia sama sekali tidak mendapat respon apapun dari pemuda di hadapannya. Sebelumnya, Seokjin sudah bercerita tentang apa yang terjadi pada Jimin semalam. Jadi sekarang hanya usapan-usapan lembut dan kata-kata penenang yang mampu gadis itu berikan.

"Tidak apa-apa kalau belum mau bicara. Kau boleh menangis dan marah sepuasmu. Jangan pernah menahan emosimu sendiri karena itu akan semakin melukaimu."

Gadis itu masih dengan setia mengusap kepala Jimin yang kini justru semakin mengeratkan dekapanya pada lutut. Benar-benar mirip seperti anak kecil yang tengah merasakan ketakutan akan suatu hal. Atau memang kini Jimin sedang menjadi sosok dirinya saat kecil dulu. Jimin kecil yang sendirian setelah sang ibu tiada.

Seina pun kini turut terdiam. Hatinya begitu miris melihat keadaan Jimin sekarang. Jimin, berubah banyak. Entah apa Seina akan melihat kembali Jimin yang bandel dan banyak bicara seperi awal-awal mereka bertemu.

"Na-ya, kau datang?"

Seina menoleh, kemudian tersenyum melihat Seokjin yang sudah berdiri di ambang pintu dengan tangan yang membawa sebuah paper bag berwarna coklat.

"Pagi Jin." Gadis itu menghampiri Seokjin, mengambil alih kantong yang dibawa Seokjin, lalu membiarkan pria tersebut mengecek sang adik.

"Pagi, Jim. Apa tidurmu nyenyak?" ucap Seokjin sambil membubuhkan sebuah kecupan pada kepala Jimin. Sama seperti Seina, pun Seokjin tidak mendapat respon apapun dari sang adik. Jimin masih betah pada posisinya.

Distance Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang