Kedua sudut bibir mungil itu tertarik ke atas, membentuk simpul tipis yang manis. Sejak dini hari tadi, ketika membuka mata, rasa bahagia yang membuncah, terus saja membanjiri hati. Sesekali, pandangan mendarat pada paras manis lelaki yang tengah menikmati sarapan di hadapannya. Kulit kecokelatan, tatapan hangat dan melindungi, pun bibir tipis yang ketika tersenyum, serasa menghanyutkan.
Benar kata orang-orang, kehidupan pengantin baru itu manis. Seolah-olah, ada kebahagiaan tanpa jeda. Merasa ada yang mencintai. Merasakan getaran di dada yang naik turun tak karuan. Lalu, berulang kali aliran darah terasa berdesir hebat. Pengalaman pertama bagi Fida. Karena sebelumnya, mana berani dia membiarkan sepercik pun ketertarikan berdiam di hatinya. Jika terasa secuil hati yang tergoda, seketika itu pula dia berusaha membunuhnya. Bahkan, meski itu kepada Hilmy di awal pertemuan mereka. Lantas, pada pertemuan kedua pun, Fida melakukan hal yang sama, meski begitu sulit terasa.
Lahir dan batinnya memang sudah disiapkan khusus hanya untuk dia yang halal. Lelaki yang dipilihkan Tuhan baginya. Yang tentu saja, pasti terlebih dahulu melalui perantara Abi dan Uminya.
"Kak, kita ke sekolahnya, nungguin anak-anak dateng, ya? Biar kado di mobil itu diturunin dulu. Sekalian aku mau ngasih arahan buat mereka bebersih kamar dan menata lemari." Fida memiringkan kepala, menatap Hilmy yang seketika menghentikan suapan di depan mulut.
"Tapi, nanti anak-anak itu balik ke pesantren lagi, kan?" Sebelah alis Hilmy terangkat. Lalu memasukkan suapan itu ke mulut.
Duh, kenapa bisa lup? Bukankah memang Hilmy berpesan agar tak ada mbak dalem?
"Ehm ... anu, i-iya. Nanti, aku bilang ke mereka. Semalam ... aku lupa ngomong sama Umi. Takutnya, mereka ke sini udah berkemas." Fida menggigit bibir. Tangan kanannya memainkan sendok di piring.
Satu decakan bersamaan dengan mata yang memejam beberapa saat. Dua kerutan vertikal tampak jelas di antara dua alis Hilmy. Dia menarik napas dalam setelah menelan sisa makanan di mulut. "Bukankah sudah kukatakan jelas tentang hal itu? Tolong. Untuk satu hal penting itu, perhatikan jelas. Jangan sampai mereka berlama-lama di rumah ini."
"M-maaf. Aku ... lupa, Kak," ucap Fida dengan suara bergetar.
Hilmy menggeleng. "Sudahlah. Nggak ada masalah. Asalkan, jangan lagi diulangi. Hanya satu hal itu saja yang bikin aku cukup terganggu."
"Baik, Kak. Aku bakal usahain inget." Beberapa anggukan kecil tercipta setelahnya.
Tapi ... sebenarnya apa yang membuat Hilmy begitu membenci mbak dalem? Apakah dia terganggu dengan keramaian? Tapi, dia tak masalah dengan kang santri. Pun Mak Ti sudah membantunya lebih dari setengah tahun. Sangat aneh. Hanya saja, terkadang ketidaksukaan seseorang terhadap sesuatu, tak perlu semuanya beralasan, kan?
"Nanti juga ke sekolahnya jangan lama-lama. Aku mau ke Bangkalan sebentar, ngambil pesanan banner ke percetakan Lora Ali." Satu suapan lagi lolos ke mulut Hilmy.
Ah, belum seminggu menikah, tapi ... mengapa sudah sibuk lagi mengurus pekerjaan?
"Harus, ya? Nggak bisa ditunda?" Fida menggigit bibir, memainkan sendok pada piring.
Hilmy berdecak lalu menarik napas dalam. "Aku bukan orang kaya dari lahir. Kalau nggak bekerja keras, bagaimana nanti ke depannya? Ini juga demi keluarga kita, kan? Lagian, beberapa hari ke depan kita akan berangkat berlibur. Meskipun semua hadiah dari Abi dan Umi, paling tidak, aku juga harus punya uang sendiri, kan?"
Fida hanya mengangguk pelan. Ucapan Hilmy tak keliru. Meskipun ... seharusnya tak perlu sekeras itu juga bekerja.
Keduanya lantas meneruskan sarapan mereka. Nasi di piring Hilmy sudah habis. Dia kini menggeser cangkir berisi kopi tubruk setelah minum beberapa teguk air. Sementara Fida masih melanjutkan makannya. Masih tersisa beberapa suapan di piring.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sahaja Cinta
RomanceKarena doktrin yang diterima sejak kanak-kanak Hilmy harus menjalani pernikahan dengan perjodohan yang sayangnya berakhir buruk. Hal itu membuatnya sangat membenci perjodohan dan menyalahkan kehidupan. Tak disangka, ia bertemu dengan perempuan masa...
![[END] Sahaja Cinta](https://img.wattpad.com/cover/332974514-64-k917867.jpg)