Mobil berhenti di depan penginapan yang begitu asri. Bangunannya mewah dan sangat bersih. Seorang lelaki seketika menghampiri. Dia adalah pemandu wisata yang telah menunggu mereka di Pasar Sukapura sebelumnya. Lelaki itulah yang menunjukkan jalan hingga sampai ke hotel. Seorang lelaki pertengahan tiga puluhan dengan perawakan tinggi dan pembawaan supel. Saudara salah seorang alumni Al Munawir.
Keduanya turun dari mobil. Hilmy menuju bagasi untuk menurunkan koper. Sementara Fida menurunkan tas travel dari kursi penumpang tengah.
"Saya tunggu di dalam, ya, Gus? Biar segera saya ambilkan kunci kamarnya." Lelaki yang bernama Rahman itu berisyarat dengan jempol ke arah pintu masuk lobi hotel.
"Baik, Mas," jawab Hilmy seraya menurunkan koper dari bagasi.
Setelah menutup bagasi dengan sempurna dan mengunci mobil, Hilmy menghampiri Fida dan meraih tas travel itu darinya. Lantas, meletakkannya di atas koper. Kebetulan ada tali khusus yang bisa membuat tas perjalanan itu menempel pada handle koper. Sederhana dan cukup remeh memang. Tapi, sikap Hilmy yang semacam itu, kembali menimbulkan debar aneh di dada. Apalagi, sebelah tangannya seketika meraih telapak tangan Fida dan menggenggamnya.
"Ayo, kita segera masuk. Beres-beres, lalu jalan-jalan. Tiga hari ini, kita lupakan Surabaya. Fokus bersenang-senang." Mata kecokelatan itu berbinar. Dan bibir itu kembali melengkung hangat.
Fida hanya mengangguk. Semua kalimat yang ingin diucapkan, rasanya terhenti di tenggorokan. Detakan jantung cepat itu menghentikan semua fungsi saraf rupanya. Terasa kedua pipi mendadak menghangat, padahal … udara pegunungan sangat sejuk—cenderung dingin.
Keduanya berjalan menuju lobi hotel. Mas Rahman ternyata sudah selesai mengurus reservasi ulang. Dia berdiri menyambut Hilmy dan Fida di depan meja resepsionis. Lantas, memberikan kunci kamar kepada Hilmy. Setelahnya, membimbing mereka menuju kamar.
"Nah, ini kamarnya, Gus. Untuk kegiatan setengah hari ini, apakah perlu ditemani atau mau sendiri? Kalau mau ditemani, saya bisa setelah Ashar. Kalau mau sendiri, ya, monggo," jelas Mas Rahman seraya berdiri menghadap Hilmy di depan pintu kamar penginapan.
"Ehm … kami jalan-jalan santai dulu aja kali, ya? Apalagi, dari sini juga deket banget sama pemandangan Gunung Bromo." Hilmy mengedarkan pandangan beberapa saat, lalu kembali menghadap pada lelaki tinggi berbaju motif kotak itu.
"Iya. Memang hotel ini kami pilihkan karena view bagian belakangnya langsung berhadapan dengan Bromo. Jadi, besok pagi saja turun ke kawah, ya?"
"Iya, begitu juga lebih enak, Mas. Kita lihat saja."
"Baik kalau begitu. Selamat menikmati, Gus. Saya tinggal dulu. Nanti kalau ada keperluan, tinggal telepon saya saja. Monggo." Lelaki itu mengulurkan tangan, lalu bersalaman dengan Hilmy dan segera berlalu.
Fida menyapukan pandangan di depan kamar hotel satu lantai itu. Penginapan daerah pegunungan yang sangat nyaman. Pandangannya terhenti pada tempat duduk dan meja semen pada taman penginapan, tak jauh dari kamar mereka. Taman yang nyaman, bersebelahan dengan pagar belakang hotel dan berhadapan langsung dengan Gunung Bromo.
Hilmy membuka kunci kamar, sementara Fida masih menikmati suasana nyaman. Dia menarik nafas dalam. Berusaha memenuhi paru-parunya dengan oksigen nyaman pegunungan. Lantas, disentakkan oleh suara panggilan Hilmy.
"... ayo. Nikmatin suasananya, habis beberes aja. Sekalian nunggu makan siang. Kayaknya sebentar lagi, deh." Hilmy sudah membuka pintu kamar.
Fida mengangguk dan mengekori suaminya masuk. Dia kembalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Lantas mengenyakkan tubuh pada tempat tidur King Size yang berlapis sprei putih.
Kamar penginapan yang sangat nyaman. Desain interior apik dengan nuansa warna krem. Fasilitas lengkap. Bahkan, ada pendingin ruangan. Padahal, udara sudah sejuk. Sepertinya, pendingin ruangan akan sangat jarang dinyalakan.
Jam dinding menunjukkan angka sepuluh lewat delapan menit. Masih sekitar dua jam lagi menjelang makan siang. Fida mengalihkan pandangan pada Hilmy yang baru menutup lemari pakaian. Koper dan tas perjalanan telah dimasukkan dalam lemari kayu besar.
Lelaki jangkung itu melangkah mendekati Fida. Lalu, seketika duduk di sampingnya dengan posisi sedikit mendongak dan kedua tangan menyangga berat tubuh. "Udaranya nyaman, ya? Jauh beda sama Surabaya." Kalimat Hilmy terjeda sesaat. Lantas, dia menegakkan punggung dan menatap Fida. "Kamu, suka jalan-jalan begini? Sering?"
Iris kecokelatan itu lagi-lagi menatap langsung pada mata. Membuat efek kejut di dada. "I-iya, sih. T-tapi sama keluarga." Fida mengalihkan pandangan. Lantas berdeham.
Satu tarikan napas dalam terdengar dari pernapasan Hilmy. Dia menarik dagu istrinya dan mengarahkan pandangan Fida untuk kembali padanya. "Neng, aku minta maaf, ya? Mungkin, kali ini kita berlibur dengan uang Abi. Tapi, aku janji, nanti, kita akan pakai uangku. Bersabarlah."
Seketika Fida mengernyit. Kalimat Hilmy terdengar aneh. Memangnya, menggunakan uang hadiah dari kedua orangtua adalah kesalahan, hingga harus minta maaf?
"Memangnya kenapa kalau pakai uang Abi? Bukankah ini cuma hadiah? Bukan kita yang minta, kan?" Fida menenglengkan kepala.
Tangan Hilmy mendarat pada pipi sang istri, menepuknya beberapa kali sembari tersenyum. "Aku lelaki. Lelaki itu punya harga diri dan harus tahu diri." Lantas, dia segera beranjak. "Udah, yuk, kita keluar buat nikmati waktu sambil nunggu makan siang."
Beberapa menit kemudian, keduanya telah duduk bersebelahan pada kursi semen di taman. Mengobrol ringan menikmati suasana Hilmy dengan kopi hitamnya dan Fida dengan cokelat hangat. Suasana siang yang nyaman. Gunung Bromo dengan asap yang mengepul tipis dari kawahnya. Dan dua gunung lain di sekitarnya.
Lantas, ketika waktu makan siang tiba, keduanya menuju ke tempat makan hotel. Sudah ada beberapa orang menikmati makan siang mereka. Kebanyakan adalah keluarga muda dengan putra-putri mereka, meskipun ada juga yang sepertinya hanya sendiri.
Fida dan Hilmy segera menuju meja saji. Kebetulan, makanan disediakan secara prasmanan.
Fida mengambilkan nasi untuk Hilmy. Lalu untuknya sendiri. Lantas, menuju meja di mana berbagai lauk disajikan. Pandangannya mendarat pada sepiring sate ayam. Membuat kedua ujung bibir terangkat seketika. Dia menyikut Hilmy. "Kak."
"Hmm?" Hilmy seketika menoleh. "Apa?"
"Tuh!" Fida berisyarat pada tumpukan sate di piring.
"Oh …. Bentar." Seketika Hilmy mengambil beberapa tusuk sate, lantas meletakkannya pada piring Fida.
"Lah …" Fida kembali mengernyit, lalu berdecak dan mendengkus kecil. Kemudian, dengan cepat mengambil bumbu sate dan menyiramkannya di atas sate-sate pada piring dengan mimik wajah sebal. Bibirnya mengerucut dan kening berkerut dalam.
Hilmy menatap sang istri dengan tatapan penuh rasa heran. Tak ada kata keluar dari mulutnya.
"Laki-laki itu nyebelin. Nggak peka." Lagi, Fida mendengkus, lantas berlalu dengan cepat ke meja berkapasitas empat orang. Kemudian, makan dengan perasaan kesal.
Sebenarnya, maksud Fida bukanlah meminta untuk diambilkan sate. Dia hanya ingin mengingatkan Hilmy tentang memori di balik sate.
Kejadian konyol yang memalukan, tapi meninggalkan kesan mendalam. Meskipun beberapa waktu setelahnya, dia harus menelan kekecewaan karena mengetahui kalau ternyata Hilmy adalah sepupu jauhnya yang telah menikah.
Sebelah sudut bibir Fida terangkat. Dia memainkan sendok di piring. Satu embusan napas pendek meluncur dari pernapasan, bersamaan dengan dehaman Hilmy yang membuatnya tersentak seketika.
"Permisi, Gadis Bumbu Sate, bolehkah saya duduk di sini? Perkenalkan, saya lelaki yang kemejanya sudah Anda kotori." Hilmy meletakkan piring pada meja, lalu mengulurkan tangan seraya tersenyum nakal. Yang tentu saja, membuat Fida tak kuasa menahan tawa.
"Nyebelin." Satu suapan lolos ke mulut Fida. Dia membuang muka berlawanan arah dengan posisi Hilmy. Berusaha mengunyah makanan sembari mengulum senyum.
Satu lagi kebahagiaan pernikahan, bisa bercanda serta merasakan kehidupan lebih bebas dan berwarna. Tapi, masih tetap dalam perlindungan dan rasa aman yang terjamin.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sahaja Cinta
Roman d'amourKarena doktrin yang diterima sejak kanak-kanak Hilmy harus menjalani pernikahan dengan perjodohan yang sayangnya berakhir buruk. Hal itu membuatnya sangat membenci perjodohan dan menyalahkan kehidupan. Tak disangka, ia bertemu dengan perempuan masa...
![[END] Sahaja Cinta](https://img.wattpad.com/cover/332974514-64-k917867.jpg)