24. Rencana🦁

7.3K 622 14
                                        

Mereka menikmati kopi diiringi cerita ngalor ngidul yang membuat suasana di malam itu terasa hangat. Namun tidak bagi Ace yang masih mengkhawatirkan dua kembarannya yang sejak hari itu enggan menatapnya.

"Kenapa Ace? " tanya Noval membuat semuanya menatap penuh Ace dan Noval.

Ace melirik mereka satu persatu. "Gue cuma tau di Novel sekilas, kalo gue beritahu mereka pastinya bakal lebih gampang nyari bukti kan mereka udah baca pull bukunya" batin Ace.

Namun detik berikutnya ia menggelengkan kepalanya. "Gak, gak kalo nanti ternyata lebih ngebahayain mereka gimana? Tapi kalo gak di beritahu mereka pasti lebih ngambek lagi dari sekarang, oh atau mungkin lebih parahnya lagi mereka bener bener pergi ninggalin gue sendiri disini" lanjutnya membatin.

"Kenapa sih Ace?" tanya Angga.

"Hooh, ngapain ngeliatin kita kayak gitu? " lanjut Tian penasaran.

"Gue-" ucapannya terhenti dan menatap ragu kearah mereka.

"Udah cerita aja nanti kalo lo butuh saran kita pasti bantu cari solusinya kok" sahut Sean yang paham Ace ragu bercerita pada mereka.

Mendengar itu sontak mereka mengangguk semangat dan Ace yang hanya menghela nafas sebelum kembali membalas. "Gue bakal minta bantuan Aca dan Cici soal kasus ini, gimana menurut kalian? " tanya Ace membuat mereka terkejut.

"Lo gila? Ngelihatin cewe ke kasus ini? Gimana kalo mereka kenapa napa? " marah Ezro diangguki yang lainnya.

"Bener tuh, gimana kalo keduanya celaka? Gue gak mau nanggung resiko lagi. Cukup kalian aja" tambah Noval.

"Lo pada lupa ya, gara gara kasus itu keduanya makin ngejauh sama Ace? " Ujar Biru membuat mereka terdiam.

"Gini deh, dari pada kembaran Ace makin marah. Kita semua jelasin ke mereka tentang keadaan kita gimana? " Ujar Faris.

"Betul tuh siapa tau mereka ngertiin Ace yang mungkin akan sibuk sama kita nanti" tambah Angga membuat mereka mengangguk setuju.

"Tapi gimana kalo mereka ingin ikut? " tanya Sean membuat mereka kembali diam.

"Jujur gue gak ngeraguin kemampuan keduanya, malahan semakin hari kemampuan mereka makin bagus. Tapi resikonya itu yang gue gak rela mereka terluka" Ungkap Ace membuat mereka terkejut.

"Kemampuan? " bingung Biru.

Ace melirik Biru dan menyeringai. "Yah, lo semua belum tau kemampuan keduanya yang setara sama gue" Ujarnya membuat mereka terkejut.

"Serius? " melongo mereka dan dibalas anggukan Ace.

"Jelas, gue pelatihnya dan sekarang ditambah pelatihan keluarga Dirgantara. Jadi bagaimana menurut kalian? " Balasnya membuat mereka membayangkan nya saja sudah bergidik ngeri.

"Udah skip dulu lah, jadi rencana buat nangkap kedua kembaran lo itu gimana? " tanya Angga.

"Nangkap? " bingung Noval dkk.

"Hmm, gue ada ide! Sini sini" ujar Biru sambil mendekatkan wajahnya diikuti yang lainnya.

Mereka berbisik bisik melupakan sekitar yang menatap heran, eh lebih tepatnya kedua karyawan yang sedari tadi duduk di Cafe luar sambil ngeroko dan gibahin mereka yang asik sendiri sampai gak ngajak ngajak mereka.

"Si bos ngapain sih dari tadi? " tanya Iki sambil ngisap rokok ditangannya.

"Gak tau deh, tapi kayaknya serius banget mana bawa bawa bos Aca sama bos Cici lagi" balas Oki sambil menyeruput kopinya.

"Kayaknya mereka ada masalah deh, biasanya kan mereka sering cek bareng kesini tapi sekarang gak tuh mereka ke masing masing" ujar Iki sambil berbisik.

"Hmm, kayaknya gitu" balas Oki.

Btw mini market dan Cafe mini itu kini telah selesai di bangun dan tentu saja para karyawan disana ditambah dengan bantuan Mommy yang pilihkan dan tentu juga itu dibantu sistem untuk melihat apa mereka layak di pekerjakan atau tidak.

Dan tentu saja rumah lama mereka juga di renovasi menjadi beberapa kamar untuk para karyawan, dan sisa barang barang ketiganya dibawa ke mansion oleh para bodyguard sang Daddy.

"Oke sip, jadi besok aja kita rencanainnya sesuai apa yang tadi kita bahas" Ujar Faris diangguki yang lain.

"Gue pulang dulu" pamit Ace diikuti yang lainnya, btw makanan dan minuman mereka udah di bayar ya.

****

Disisi Aca, setelah kepergian Leo ia memutuskan untuk kembali. Ia melangkah menyelusuri lorong yang entah kenapa suasananya terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Bulu kuduk nya tiba tiba berdiri yang sontak membuat ia berhenti sejenak dan matanya mulai memindai keberbagai arah. "Kok, perasaan gue tiba tiba gak enak ya? " batin Aca.

"Sedang apa? " bisikan dari belakangnya membuat Aca tersentak.

"Anjing" umpat nya sambil berbalik dan melangkah mundur saat tau siapa yang bertanya dibelakang nya tadi.

Deg.

Tubuh Aca membeku saat melihat orang itu dengan kecepatan nya mendekat hingga keduanya bisa merasakan hembusan nafas masing masing. "Apa yang kau lakukan? " tanyanya membuat Aca menahan Nafas saking dekatnya.

Dengan reflek ia menoleh ke samping dan coba mundur beberapa langkah. "B-bang gio, tadi saya habis dari belakang nyari udara" jawab Aca sambil berusaha menelan ludahnya susah payah.

Gio yang melihat Aca tak mau menatapnya sontak geram dan tampa kata ia mendorong Aca hingga menabrak tembok dan Mengungkungnya. "Sttt" rintis Aca lalu mendongak menatap terkejut Gio.

"Bang" tak percaya Aca sambil mendorong dada bidang Gio yang tak berubah sedikitpun.

"Apa yang kau lakukan dengan Leo? " tanyanya dengan suara lebih berat dari sebelumnya.

"Kita cuma ngobrol biasa" balasnya.

"Begitukah? " tak percaya Gio yang kini mulai mengendus leher Aca hingga si empu terdiam kaku, tiba tiba nafasnya menjadi semakin cepat, jantungnya berdebar tak karuan dan kulitnya yang mengeluarkan keringat dinging.

Dengan gemetar ia mencoba menahan dada bidang Gio. "H-hentikan... Cukup... Hiks" pecah sudah dengan apa yang ia rasakan, trauma nya kembali.

Gio sadar dengan respon tubuh Aca, namun ia ingin tau sejauh mana ia bisa bertahan. Dan saat mendengar tangisannya, sontak ia menjauh dan menatap berapa kacaunya teman adiknya itu. "Kenapa menangis hmm? " tanya Gio sambil mencoba menyeka air matanya namun sudah Aca tepis dahulu.

"Jangan! Hiks J-angan sentuh" ujarnya sambil mencoba menstabilkan deru nafasnya.

Dengan kasar ia mendorong Gio hingga si empu yang tak siap melangkah mundur. Melihat ada kesempatan Aca sontak berlari meninggalkan Gio yang hanya diam menatap kepergiannya.

Saat matanya Aca menangkap siluet kamar Zia, ia sontak berhenti untuk menstabilkan kondisinya. "Tenang... Kumohon tenanglah" bisiknya sambil menggosok kedua tangannya mencoba menghilangkan gemetar yang tak kunjung diam.

Ia mencoba menarik nafas lalu menghembuskan nya dan terus melakukan seperti itu hingga debaran di jantungnya setabil dan keringat dinginnya tak keluar lagi dan yah perlahan lahan tangann dan tubuhnya mulai bisa ia kendalikan.

Butuh waktu cukup lama hingga ia benar benar pulih, dan saat dirasa sudah mulai tenang ia dengan pelan mulai melangkah memasuki kamar yang untungnya tidak ada seorangpun yang menyadari kejanggalan pada Aca.

Jangan lupa komen and vote❤👇

THREEPELSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang