28. Marah🦁

7K 591 12
                                        

Ace juga menceritakan tentang bukti yang telah di temukan mereka dan juga percobaan pembunuhan paman dan adik Noval dengan racun, dengan mereka membeberkan bukti apa saja yang telah mereka temukan.

Mendengar itu sontak Aca dan Aci terdiam tapi tentu saja wajah keduanya memerah. "Maaf udan nyembunyiin ini dari kalian" sesal Ace dan segera membuka lakban keduanya.

Hening~.

Tak ada sahutan apapun dari kedua gadis itu hingga Ace selesai membuka ikatan pada merek. Keduanya menghela nafas dan Aca hanya menatap atap kamar yang ia tempati entah milik siapa.

"Kak~" rengek Ace saat tak ada tanggapan apapun dari kedua saudarinya. Mereka yang mendengar rengekan dari seorang Ace sontak terkejut, namun meledek nya di situasi mencengkam ini tentu saja bukan hal baik jadi mereka hanya diam menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aca menatap Aci yang kini juga sedang menatapnya, Aca memberikan intruksi untuk dia yang memulainya terlebih dahulu. Dengan tak sabar Aci segera bangkit dan. "KENAPA LO GAK BILANG SIH ACEE! HARUSNYA KALO ADA APA APA TUH BILANG BEGO, BUKANNYA MALAH MENDEM SENDIRIAN. KALO ADA APA APA SAMA LO GIMANA? LO GAK MIKIRIN KITA HAH? " amarah yang Aci pendam kini meledak membuat mereka menunduk bersalah.

Dengan nafas kasar ia berbalik dan duduk dengan kasar, ia mengatur nafasnya yang hampir memaki mereka semua kembali. Aca hanya bisa mengehela nafas dan menatap Ace. "Lo gak tau gimana khawatir nya kita Ace? Lo nyembunyiin fakta yang gak bisa gue duga sebelumnya. Gue tau ini mungkin masalah besar, tapi lo sadar gak sih gemasnya kita nunggu lo pulang dengan keadaan gusar tiap hari? " tanya Aca membuat Ace semakin menundukan kepalanya.

"Lo tau gak seberapa khawatir kita saat tiba tiba perasaan lo gak enak tiba tiba tapi yang dikhawatirin malah seenaknya ngebentak kita?. Lo lupa sama perjanjian kita Ace? Kita bakal bareng bareng apapun yang terjadi, kita bakal ngedukung satu sama lain apapun kondisinya? Lo lupa itu semua? Atau karna lo lupa karna terlalu nikmatin sama apa yang lo rasain saat ini? " lanjutnya membuat Ace menggelengkan kepalanya ribut.

"Gak, gue inget. Tapi gue takut lo berdua kenapa napa" lirih Ace.

"Ace, lo raguin kita sama aja lo ngeraguin diri lo sendiri. Lo yang ngajarin kita, lo yang latih kita, dan lo adalah saudara kita! Kembaran kita" balas Aca membuat Ace terdiam.

"Lo nyembunyiin hal yang berbahaya Ace, kita gak bakal biarin lo pergi tampa kita! Kita kita datang bareng dan semisalnya lo pergi, kitapun bakal ikut pergi" Tegas Aci dengan maksud tersirat, berbeda dengan Ace yang mengerti. Sean dkk dan Noval dkk malah merasa terharu akan ucapan itu yang seperti 'kita di lahirkan bersama, maka matipun akan bersama'.

Ace mendongak menatap keduanya. "Maaf" lirihnya membuat Aca berdiri dan segera memeluknya diikuti Aci.

"Lo gak sendiri Ace, lo punya kita buat numpahin semua nya dan nyari solusinya bersama" ujar Aca.

"Jangan mendem sendiri Ace, lo gak sendirian sekarang" sambung Aci membuat Ace menangis sambil memeluk keduanya yang kini tersenyum sambil mempererat pelukannya.

Beberapa menit setelah derai air mata terjadi, kini Ace membawa mereka semua ke tempat ruang rapat yang ada di apartemen milik sean.

Semua bukti di simpan di atas meja membuat mereka yang berada di sekelilingnya bisa melihat bukti itu. Aca mengambil laporan dan segera membacanya diikuti Aci yang mengambil flashdisk untuk dilihat.

Keduanya diam dengan pikiran yang berbeda beda dan kemudian keduanya bergantian melihat apa yang kedua nya lihat barusan.

Heningg~.

"Baru segini? " tanya Aci sambil menatap mereka semua.

"Yah" balas mereka serempak.

"Jadi gitu ya" gumam Aca.

"Sean, bisa gak lo perbesar bagian ini? " tanya Aca sambil menunjukan seseorang tengah keluar dari mobil.

Sean yang di panggil sontak tersentak sebentar yang kemudian mendekati Aca yang masih pokus pada Vidio di laptopnya. Aca menatap serius saat Sean memperbesar rekaman itu. "Tunggu" Ujar Aca membuat Sean menoleh.

"Mundur dan perlambat" pintanya yang sontak segera ia lakukan.

Aca segera mendekat untuk melihat nya lebih jelas, Sean terkejut saat Aca tiba tiba mensejajarkan wajahnya membuat ia menahan nafas sambil menatap Aca lekat. "Itu dia" bisiknya yang tentu di dengar jelas Sean.

Aca berbalik menatap Sean yang sedari tadi memperhatikannya, membuat si empu tersentak. "Lo bisa cari data orang itu?" tanya Aca membuat Sean segera memalingkan wajahnya dan menatap laptop.

Aca bisa melihat telinga Sean yang memerah membuatnya bingung. "Disini gak terlalu dingin, kenapa telinganya memerah" batin Aca bingung, namun kembali pokus ke laptopnya.

"Ekhem, ah orang itu ya. Ezro udah dapet datanya, benar" ujar Sean yang sudah bisa mengendalikan dirinya dan sibuk memeriksa dokumen yang masih menumpuk.

"Ini" Sean memberikan dokumen tentang orang yang di maksud Aca.

Aca menerimanya dan segera membacanya diikuti Aci yang penasaran. "Kayaknya gue pernah liat deh orangnya" celetuk Aci membuat mereka heboh.

"Serius? " tanya Noval.

"Lo liat di kediaman Glozy? " tanya Ezro membuat keduanya menoleh menatapnya.

"Iya" balas Aci.

Mereka terdiam dan saling pandang. "Jadi, ini ada sangkut paut mereka ya? " gumam Noval sambil mengenalkan kedua tangannya marah.

"Entahlah, tapi lo tau dia cuma kerja si sana" balas Aci.

"Gue bakal bantu kalian" Putus Aca membuat mereka menatapnya terkejut kecuali Aci dan Ace yang tentu sudah tau akan hal ini akan terjadi.

"Ta-" ucapan Tian terpotong oleh Aca.

"Gue tau, gue tau akan apa yang terjadi! " potong nya cepat.

"Dengar gue punya ide" lanjutnya membuat mereka berkumpul, dan Aca segera memberitahu ide nya.

"Lo gila?! " pekik Aci yang membuat para lelaki di sana saling pandang.

"Gak, gue gak setuju! " tegas Ace membuat suasana semakin berat.

"Tapi ini jalan satu satunya, kita-" balasan Aca langsung di potong.

"Gue tau apa yang lo maksud, tapi ngorbanin lo? Yang bener aja! " Pekik Ace tak Terima.

"Gue gak ngorbanin, gue cuma minta bantuan dia" protes Aca.

"Lo tau kan, dia gak bakal nurutin tanpa ada harga yang perlu di bayar Aca! " geram Aci.

"Udah, kita bisa cari cara lain nya. Gak perlu ngorbanin siapapun" Ucap tegas Sean membuat perdebatan antar ketiga bersaudara itu terhenti.

"Gue bakal coba nyusup ke data mereka, jadi lo tenang aja" lanjutnya dan segera bekerja dan mereka duduk diam sambil menyaksikan tangan lincah Sean yang di bantu oleh Ezro.

"Lo yakin bisa nembus pertahanan mereka? " tanya Aci ragu.

"Benar? Lo taukan keluarga itu bukan sembarang orang yang mana bisa kita usik semarangan" lanjut Aca membuat mereka diam.

"Tak perlu khawatir" ucap Sean menenangkan, meskipun dalam hati ia mengumpat sebab laptopnya ini sudah yang ke tiga karna meledak oleh orang orang itu yang mengiriminya virus.

"Yah semoga aja" balas Aci.

Jangan lupa komen and vote❤👇

THREEPELSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang