Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tiga tahun kemudian.
Hari terus bergulir, banyak hal telah terlewati namun Imel masih terkungkung dalam pengharapan dan kesabaran untuk waktu yang panjang.
Ia coba menerima keinginan Jovan, Ia menghargai keputusan pria itu, menanti sampai dia mau kembali namun sumpah... Imel tak menyangka jika ternyata menunggu Jovan untuk berubah pikiran itu akan membutuhkan waktu selama ini!
Imel keluar dari mobil yang terparkir di sebuah rumah sakit besar di Singapura. Kakinya melangkah pasti memasuki gedung bernuansa serba putih yang pertama kali ini ia kunjungi.
Berdasarkan Info dari Radit Imel jadi tahu pasti kemana ia harus menuju. Di lihatnya papan buletin yang memuat informasi lantai dan keterangan ruang di samping pintu Lift.
Tak lama lift terbuka, Imel masuk kedalam dan mulai menekan tombol yang ia yakini akan membawanya bertemu pria itu.
Namun tepat saat lift yang membawa Imel menutup dan mulai bergerak naik, pintu lift di sebelahnya terbuka, Jovan bersetelan kaus panjang abu-abu itu tampak memijat tengkuknya kelelahan dengan mata sayu. Ia berniat ke kantin rumah sakit tuk menyegarkan diri dengan segelas es kopi.
Sementara itu di depan ruang laboratorium Imel diminta menunggu, sebab orang yang ingin ia temui sedang tak berada di ruangan.
Membunuh kebosanan Imel mengalihkan perhatian memeriksa media sosialnya meski sumpah dalam jiwanya sudah sangat tidak sabar ingin merongrongkan banyak hal pada pria yang menyebalkan namun sangat ia rindukan itu.
Suara kaki berhenti di depannya tiba-tiba bersana namanya teralun dari mulut pria itu menjadi penyadar Imelda dari layar Handphonenya.
Jantungnya berdebar kencang tatkala dua obsidian mereka saling bersitatap.
"Kamu... Kok bisa sampai disini?" Si pria bertutur kaget melihat kehadiran wanita yang tak terpikir olehnya akan menyusul sampai ke Singapura.
Imel bangkit, ia melipat kedua tangan di depan dada dan memasang tampang marah. "Kok kamu ga pulang-pulang?"
"Perasaan sejam yang lalu ditelpon aku udah bilang kalau mungkin butuh seminggu lagi buat nyelesaiin penelitian ini. Kamu lupa?"
"Ga tau! Pokoknya Seminggu lalu aku lepas kb. "
"Hah? Terus kuliah kamu gimana? Skripsi kamu aja masih digarap, Mel. Kamu yakin? Disaat begini? Kenapa ga nunggu setengah tahun lagi? Setidaknya saat tinggal nunggu wisuda. "
"Aku putusin buat ga nunda lagi, terus-terusan ditinggal kamu kerja berhari-hari bikin aku ga tahan sering sendirian dirumah kalau malam. Aku butuh temen ngobrol, bang! Dan kamu ga bisa aku harepin lagi! kali ini Udah dua minggu kamu di Singapura! Nanti bulan depan kemana lagi? Berapa minggu? Sebulan? Setahun? Terus kapan kita pindah ke rumah baru, bang? Rumahnya udah full furniture itu loh ! Masak aku pindah sendirian?! Itu rumah kita bersama atau rumah ku sendiri?! "