Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Raina tampak yang gamang dan jelas sangat kebingungan itu tiba-tiba ia malah berlutut.
Imel terheran melihatnya, sampai bingung harus bicara apa lagi.
"Aku mau minta maaf, Mel... Untuk semua salah aku ke kamu... Aku mohon ampun!"
"Hah? Maksud teteh?"
"Aku yang jebak kamu dan Jovan seranjang malam itu, Mel..."
Imel ternganga, ia sangat terkejut mendengarnya.pwrnah terlintas sekalipun tidak di benaknya Raina akan mengaku melakukan hal seburuk itu.
"Te-teh? "
"Iya, aku mel... Aku sengaja jebak kamu dan Jovan malam itu. "
"Ke-tapi kenapa teteh ngelakuin itu, emang Imel dan bang Jovan salah apa sama teteh? "
"Enggak, kalian berdua ga salah apapun, Mel. Sejak awal... Emang aku yang bermasalah, aku yang bodoh. Saking takutnya terluka dan malu aku malah milih nyakitin kalian berdua, membuat kalian dan keluarga kita malu... Aku-aku juga ga tau kenapa aku bisa setolol ini, Mel! Maafin aku yah!"
"Apa... Apa alasannya? Kenapa... Teteh berbuat sejahat ini? "
"Karena kehamilan ini, Mel...pacarku kabur ga mau bertanggung jawab, sedangkan aku ga bisa lagi gugurin kandungan ini. Atau aku ga bakal bisa punya anak lagi... Aku bingung, Mel... Aku pingin mati tapi aku terlalu takut. Jadi kupikir, cara terbaik adalah meminta orang lain mengurus bayi ini saat lahir nanti... Dan aku pilih kamu dan Jovan buat lakuin itu. Maaf, maafin aku... Aku tahu ini alasan yang bodoh tapi saat itu aku benar-benar buntu, aku ga bisa berpikir jernih. Aku juga ga mau buang bayi ini... Dan aku tahu kamu wanita yang bisa aku percayai, Mel. "
Imel masih ternganga tak percaya, ia begitu bingung harus merespon apa pada Raina yang sudah menangis terseduh di atas lantai itu.
"Aku... Aku ga duga... Teteh?! Teteh tega lakuin itu semua ke Imel!! Teteh?! Orang yang sangat Imel kagumi dan percaya?! " Imel mengusap air mata diwajahnya kasar, menatap nya langsung pada Raina lalu kembali bertanya.
"Bang Jovan-teteh udah ngakuin hal ini ke dia? "
"Jovan yang suruh aku lakuin ini, minta ampunan ke kamu, Mel. "
"Bang Jovan Tahu? Sejak kapan? Kenapa dia ga bilang ke aku?"
"Aku juga ga tau dia mengetahui ini dengan cara apa, tapi saat aku dirawat... Dia marahin aku Habis-habisan. Dan suruh aku akuin semua sendiri ke kamu. "
Hati Imel sekali lagi mencelos perih saat menyadari sesuatu. "Jadi itu alasan bang Jovan larang aku terima permintaan teteh mentah-mentah? Karena dia tahu ini semua sesuai rencana teteh?"
Raina mengangguk dengan menggigit bibir kuat-kuat, ia berasa hidupnya sangat getir saat ini.
"Aku ga nyangka, teteh.... " Air mata lagi-lagi membanjiri wajah Imel. "Kalau teteh sungguh ingin maaf aku... Kalau gitu beri tahu aku keberadaan bang Jovan. Ijinin aku ketemu dia, maka aku akan maafin teteh! "