Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gue ga mau... Lepasin gue, Bang."
Jantung gue terperanjat, seolah berhenti berdetak sesaat. Tatkala menyadari jika ternyata pria yang menarik gue dari keributan adalah pria yang sedang gue hindari sedunia, dan Jovan menarik gue dari masalah secara harfiah... yah tubuh gue di tarik-tarik.
"Akh, lepas Bang. Sakit tangan gue, kasar banget sih lo anjir!" meski jujur gue udah merinding abis sebab kehadiran pria itu namun gue memberanikan diri tetap mencoba melawan, sebab gue tahu jika harus lekas melarikan diri, tetap ikut bersama Jovan entah kemana atau ketahuan oleh Cakra gue buntutin dia sama-sama ber-impact buruk untuk gue.
"Mulut kamu tu yang kasar." Jovan dan segala kesarkasanya yang tak mau kalah. Gue mencebikan bibir tetap berontak, coba melepaskan tangan dari cengkramannya.
Gue ga tau mengapa, sejak keluar dari kerumunan bersama Jovan, tiap pasang mata memandang intens ke gue dengan tatapan heran yang seolah mengintimidasi, gue membisu kebingungan mendapati perlakuan itu.
Mengapa? Apa karena gue salah kostum? Atau karena gue bersama pria ini? Jovankah yang menarik perhatian semua orang itu?
Belum terjawab lamunan itu, tau-tau Jovan mendudukan gue di sebuah sofa yang random aja ada ditepi jalan yang ternyata telah diisi pula oleh beberapa pria lain yang tampak terkejut mendapati kedatangan gue, yah mereka semua mengenal gue begitu pun sebaliknya.
"Ren?! Lo kok ada disini?!" tanya gue spontan melihat kelebang Reno si begundal cantik dikelas gue tengah santai duduk bermain game di kursi berbeda.
"Lah Mel?! Harusnya gue yang nanya begitu ke elo! Urusan apa lo nyasar di mari hah?!" gue menggeleng bego belum bisa mencerna situasi ini, disaat bersamaan gue terus merutuki diri akan kebodohan yang mengikuti Cakra hingg akhirnya membawa gue berakhir nyasar ke tempat ini.
Gue menatap Jovan di samping gue itu dan bertanya "Ini tempat apa sebenarnya?"
Jovan hanya membisu, ia malah melempar sebotol minuman bersoda pada pria disebelah Ren dan menyuruh pria itu membukakan minuman.
Gue menyadari jika pria yang baru membuka botol soda itu adalah Radit, salah satu antek Jovan yang setia sekaligus salah satu pria pemilik senyuman termanis di muka bumi.
"Kamu udah baikan sama Jovan, Mel?" Radit yang malam ini tingkat ketampanannya meningkat seratus kali liat dari biasa sebab minus kacamata dan rambut cupunya itu bertanya dengan lembut, namun sekali lagi gue cuma mampu terdiam bego, lalu menatap Jovan penuh tanda tanya.
"Bisa ga sih bang, lo jelasin situasi ini dulu ke gue!? Gue merasa bego tau ga!"
"Woah woah santai neng! Kok tiba-tiba ngegas gitu, lo belum tahu yah siapa cowok yang barusan lo bentak itu." seorang pria berbadan gempal dan tergahar diantara pria yang duduk disekitar gue tiba-tiba menyahut, dan langsung aja gue sangat balik.