🥤15. The Plaster

139 38 0
                                        


Gue ga tau pelet apa yang Jovan pasang untuk memikat Tanya. Biarpun terkadang lola, Tanya itu pernah penyabet juara pertama olimpiade Geografi pas SMP loh, yang singkatnya, termasuk pinter lah!

Tapi dihadapan Jovan, Tanya hanya menjadi gadis bucin yang kehilangan Logika. Bisa-bisanya dengan mudah Tanya percaya saat Jovan mengatakan jika gue adalah sepupu jauhnya. Jadi pelukan tempo hari seketika menjadi hal yang 'Wajar' terjadi antara Gue dan Jovan, sepasang sepupu... Jauh.

Heol

Kini Tanya malah semakin nempel dengan gue bermodal khayalan gue akan menjadi saudaranya pula di masa depan. Duh Sorry yah Tan, Bohongin lo sampe segininya huhu asli sedih banget gue.


Di kelas yang baru usai, Gue masih terduduk sendiri. Meski Di sekeliling masih ada yang sibuk ngobrol atau sekedar tidur. Gue disini melamun sendirian dan mulai membuang nafas tuk kesekian kalinya meratapi tujuh jemari gue yang terplaster kain kasa sebab insiden tak terduga kemaren malam. Yah, saat gue tengah membuat omlet orek sembari perang Bacot dengan Jovan ga sengaja gue menyenggol panci hingga panci itu oleng, dan ogeb nya. Saking paniknya diri ini, panci panas itu malah gue tangkep kuat-kuat dong.

Dan inilah yang terjadi, gue berdecak mengingat bagaimana kesalnya gue semalam saat Jovan melempar saleb luka bakar ke pangkuan gue, bukannya langsung mengoleskan benda itu ke jemari gue yang udah melepuh! Gila emang dia, pake apa gue buka itu salep coba sementara jari gue begini?

Yah, Jovan menuruti kata-kata gue di cafe kemarin, tatkala gue malah memarahinya setelah mengobati kaki gue yang lecet.

Sial, karma yang amat memalukan. Dan exspres.

Meski pada akhirnya dia iba juga dan mengobati gue, membersihkan kekacauan di dapur, memesankan makan malam untuk gue bahkan mengetikan tugas kuliah gue yang deadline hari ini.

Yah, harus gue akui. Jovan baik juga. Kadang.

"Wuih Mel! Lo udah liat pengumuman di grub chat belom? Kita sekelompok tau!" Tiba-tiba Mahen yang entah muncul dari mana membuyarkan semua film di benak gue mengubahnya menjadi kalimat penuh tanya.

"Grub chat yang mana? Kelompok apa pula?"

"Grub chat kelas lah ege, baru tadi di bahas pelajarannya Pak Suban kan ngasih kita tugas kelompok bertiga orang, masa udah pikun si elo! Eh tunggu, tangan lo kenapa? Kok di plasterin semua gitu?"

"Ga semua, Hen. Cuma tujuh!"

"Itu karena Sakit, Mel?"

"Ngak, Aksesoris doang ni, Yah sakit lah Ege!"

"Wui! No ngegas dong mbak. Gue kan cuma nanya!"

"Nah lo nanyanya bikin orang ngegas!"

"Lah lo balesnya ga musti ngegas yah!"

"Aaaaaaaaa, Sudah-sudah-sudah! Berhenti kalian memperebutkan gue! Iya gue tau kalian seneng ada gue di kelompok kalian yang suram ini tapi ga usah terlalu kelihatan bisa?"

Gue sama Mahen yang masih ngotot-ngototan beralih ke satu mahkluk abstrak yang tiba-tiba menyela dengan kepedean yang abnormal.

"Lo Kenapa Ren?!" Ujar gue heran.

"Lo PMS Mel? Kok ngegas?" Reno malah balas nanya.

"Lo ga ada niat enyah gitu dari kelompok gue?" Dan Mahen malah ikut bertanya, terus siapa yang mau menjawab?

Reno tersenyum lebar dan menggeleng. Lalu menatap gue ceria. "Aku seneng banget satu kelompok sama Kamu Mel, moga kita bisa semakin akrab yang mulai sekarang!"

Our Blue Sky : JOVAN (COMPLETED) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang