Imelda seolah menjadi pelakor di kisah cinta Riza, padahal ia begitu tulus mencintai Cakra, pria romantis yang kadang terlalu overprotektif.
Menikah dengan Cakra bagai cita-cita bagi Imel, namun apa mau di kata saat prahara buatnya harus terpaksa m...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rengkuhan tangan kekar seorang pria terasa bertengger di punggung gue, sesekali jemari itu mengusab lembut punggung gue menyebarkan ketenangan disana. Hembusan nafas hangat menyapa wajah, anehnya malah kian menambah rasa nyaman dalam gumulan tidur yang kali ini terasa berbeda. Gue memeluk tubuh itu semakin erat menelusuri tiap jengkal kehangatan dan aroma tubuh yang gue sukai akhir-akhir ini. Aroma Jovan.
HAH JOVAN?!
Mata gue terbelalak. Menyeleksi sekeliling yang ternyata hanya tersaji remang-remang.
Awalnya gue pikir itu sebab lampu yang padam namun setelah sekian saat gue sadar jika detik ini gue tengah berada didalam selimut. Tangan gue sontak menarik selimut kebawah hingga tersingkap dan benar saja gue ada dikamar tidur dengan posisi bergumul nyaman didalam dekapan selimut bersama seorang pria asing. Atau ralat sedikit, bersama suami sah gue yang masih terasa asing buat hal-hal seriskan ini.
Merasakan kulit polos Jovan menempel di tubuh gue dalam keadaan sadar membuat diri ini reflek terlonjak kaget bukan kepalang. Gue mendorong Jovan untuk melepaskan diri dan beringsut mundur ke penyanggah kasur, bersamaan gue menyadari jika badan ini hanya mengenakan hotpan dan tangtop berwarna putih, melempar tatapan penuh tanda tanya ke Jovan yang membuka mata enggan, sepertinya ia kesel gue bangunin dari tidurnya dengan semena-mena.
"Mel... Kamu udah sadar? " dia mengucek mata sok Imut menatap gue, "Kenapa kamu bangunnya rusuh banget sih?"
Gue melotot ke dia sewot. "Kenapa? Lo tanya kenapa?! Harusnya gue yang tanya ke elo, bang? Kita kenapa kok bisa bobo peluk-pelukan kayak gitu, Hah? Kita kan udah punya garis aman. Guling kita mana guling!?" Gue celingukan mencari dua bantal guling berharga yang beberapa hari terakhir sangat menolong kami menjaga batas ketika tidur seranjang, tapi lihat lah hari ini karena dua onggok pocong gadungan itu terbengkalai di sofa kamar efeknya fatal... Gue sama Jovan berakhir tidur semesra tadi.
"Lah gulingnya kok lo singkirin ke sofa ih! Sengaja lo yah! Biar pas tidur kita kecelakaan kayak tadi, peluk-pelukan kayak begitu lo seneng kan! Ngaku aja lo!" Jovan menggeleng seraya terkekeh kemudian menarik selimutnya kembali, sepertinya ia berniat bergumul didalam mimpi sekali lagi. Sialan.
"Terserah kamu lah dek, Mau mikir apa... Aku masih ngantuk, mau lanjut tidur dulu yah..."
"Woy! Kok lo mau tidur lagi sih! Jelasin dulu ih kenapa gue bisa pulang? Bukannya kemarin sore gue pingsan dan dibawa ke rumah sakit?"
Mendengar kalimat gue yang tak diduga, Jovan langsung membuka mata dan terduduk dengan ekspresi sedikit terkejut sekaligus bingung.
"Kamu ingat? Dan... Rumah sakit —Bagaimana kamu tahu perihal rumah sakit? Aku kira kamu pingsan selama dirawat? Kamu sempat sadar? Kapan?"
Mendengar cercaan pertanyaan Jovan Gue hanya diam, masih coba mengulik kembali ingatan selama tidur panjang gue kemarin malam.
"Gue ga inget banyak sih, cuma... Gue merasa pusing dan ngantuk banget, lalu gue pinsan di Halte... Terus... gue ga tau siapa yang nolongin gue tapi... Gue denger seseorang marah dan membahas perihal gue keracunan, saat itu gue denger tapi ga sanggub buka mata dan... Udah. Tau-tau Barusan gue bangun tidur sangat horor bersama elo begitu. Beneran bang? Gue keracunan?"
Jovan menggeleng santai dan bangkit turun dari kasur seraya bersuara. "Enggak... Kamu cuma demam kok."
Jovan membuka Almari dan mengambil sesuatu dari sisi lemari gue lalu melempar seonggok kain kearah gue. "Kamu cuma Demam, Mel." Jovan masih berujar santai sementara gue mengambil benda yang dilemparnya barusan yang ternyata adalah cardigan dan langsung memakainya sembari berfikir apa maksud Jovan memberi cardigan ini, namun tiba-tiba saja Jovan sudah berdiri ditepi kasur tepat di hadapan gue.
"Tutupin badan kamu, udara masih dingin dan kamu..." Jovan mengambil tangan gue tapi gue tepis cepat. Setelahnya ia malah mengulas senyum dan meletakan tangannya dikening gue.
"Mau aku suruh rasain suhu badan kamu sendiri malah nolak. Gamasalah dong kalau aku yang periksa."
"Apaan sih lo!" Gue kembali menepis tangannya dan memeriksa suhu kening gue sendiri, tentu karena gue merasa amat tidak nyaman di sentuh-sentuh Jovan tanpa izin.
"Sebentar lagi kamu sembuh. Hari ini ga usah ngampus dulu, pokoknya kamu istirahat aja hari ini sampai sembuh total."
"Kalau gue ga mau? Gue ada janji sama sesorang hari ini. Sayangnya lo ga ada hak buat ngehalangin gue, bang." Jovan menyungging senyum aneh saat ia hendak memakai T-sirt seraya menghadap gue.
Emang ngadi-ngadi ni yah anaknya om Andre, makin hari makin ga tau malu aja pakai baju didepan gue begitu!
"It's okey Sebenernya aku ga keberatan atau menghalangi kamu, Mel. Aku cuma memberi saran sebagai orang yang ngerawat kamu, toh nanti kalau kamu kehujanan dan pinsan lagi aku masih berkenan kok merawat kamu sampai sembuh, termasuk..."
Jovan berjalan ke arah gue masih dengan senyuman ambigu miliknya, sontak gue beringsut turun dari kasur dan terus melangkah menjauh. Namun Sialnya Jovan lebih Cepat menarik lengan gue dan membawa gue berdiri di depan tubuhnya sebelum ia mencondongkan Wajahnya dan membisikan sesuatu ditelinga.
"...Aku ga keberatan mengganti pakaian kamu, termasuk underware or anything..."
Tubuh gue seketika meremang mendengar perkataan Jovan yang entah Jokes atau realita, namun jika di ingat-ingat lagi, terakhir kali berbusana kemarin, gue yakin memang ga memakai hotpandan tangtop berwarna putih.
Jadi... Jovan beneran yang gantiin pakaian gue?
Dia lihat semua bagian tubuh gue gitu? Telanjang? Shit!
"And did You know my wife... Your look so damn sexy than my imagine before..."
Gue meneguk salivah amat berat.
"JOVAN GILA!! LO PERNAH BAYANGIN GUE APA HAH!!"
Dan gue ga sadar kapan dimulainya, gue telah memukul- mukul Jovan membabi buta dengan bantal guling malang yang telah terburai hingga ia berakhir terantuk dinding setelah serangan gue meleset dari Jovan yang keburu kabur keluar kamar.
"JOVAN SIALAN!!"
To be Continue...
07Agustus22
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.